Sedekah Menyucikan Jiwa

photo source: pinterest

@syahruzzaky 

Hal lain yang dapat menyucikan jiwa kita selain shalat menurut Q.S. Al-Ma’arij adalah mengeluarkan sebagian harta kita untuk orang-orang yang membutuhkan dan terlantar, baik itu bentuknya zakat, sedekah, nafkah, atau lainnya. Menurut Maroghi, ini merupakan unsur sosial dari ajaran agama Islam yang mewajibkan penganutnya untuk mengeluarkan sebagian harta mereka sebagai kerja-kerja kemanusiaan selepas menunaikan ibadah badaniyah seperti shalat, dzikir dan yang lainnya. 

Menurut Buya Hamka, kesediaan mengeluarkan zakat adalah bentuk pengejawantahan iman terhadap Allah swt dan buah dari pelaksanaan ibadah shalat. Orang yang benar shalatnya akan meningkat kadar keimanan dan ketakwaannya dan akan siap untuk menjalankan perintah-perintah-Nya, termasuk kewajiban dalam mengeluarkan sebagian harta dalam bentuk zakat, infak, sedekah, nafkah dan yang lainnya. 

Para ulama ahli tafsir bebeda pendapat tentang makna haqqun maklum seperti yang termaktub dalam Q.S. Al-Ma’arij ayat 24. Namun, Fakhruddin Ar-Razi menyampaikan bahwa yang dimaksud dengan haqqun maklum di sini adalah zakat. Dia memberikan  dua argumen: 

  1. Haqqun maklum bermakna hak yang sudah ditetapkan. Artinya, ini merujuk pada ibadah zakat yang memang sudah memiliki takaran yang ditetapkan oleh nash. 
  2. Ayat ini mengeluarkan seseorang dari perbuatan tercela yang telah disebutkan dalam ayat sebelumnya – yaitu halu’. Untuk itu, ibadah ini lebih tepat ditujukan kepada zakat, dibanding dengan ibadah lain yang sifatnya sunnah seperti infak dan sedekah. 

Ulama yang berpendapat tentang ini adalah Ibnu Abbas, Hasan Ibnu Sirrin dan Qotadah. Sebaliknya, Mujahid, Atho’ dan An-Nakhoi berpendapat berbeda. Mereka melihat bahwa yang dimaksud dengan terma ini merujuk pada ibadah bukan zakat, tapi sedekah yang disunnahkan. 

Apapun itu, ayat ini memberikan kita satu resep untuk mengobati sifat fitrah manusia yang selalu gelisah ketika dilanda kekurangan dan kikir ketika dianugerahi kelapangan, yaitu dengan mengeluarkan sebagian harta kita baik itu melalui zakat, infak, sedekah, wakaf, nadzar, nafkah, dll sebagai usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah dan empati kepada sesama manusia. [] 

Sumber kutipan: 

  1. Tafsir Al-Maroghi 
  2. Tafsir Al-Azhar 
  3. Tafsir Mafatihul Ghaib

Terapi Jiwa

ilustrasi terapi jiwa

@syahruzzaky

BAGI sebagian orang hidup ini berat; menyisakan pelbagai cobaan dan tantangan yang seringkali melukai jiwa dan batin, sehingga menyelesaikan misi hidup dianggap sebagai sebuah jawaban. 

Bisa jadi kondisi jiwa tersebut membuat kita tertekan yang berujung munculnya penyakit-penyakit mental; depresi (depressed), cemas (anxious), atau bahkan schizophrenia. 

Ada orang – yang menderita dengan salah satu penyakit jiwa di atas – mengeluh ketika dikata-katai, “Lu mah jadi kayak gini karena kurang agamanya.” Dia menolak dan berdalih bahwa penyakit ini adalah bagian dari mental illness dan hanya akan sembuh apabila diobati melalui pengobatan psikologi atau psikiatri modern. 

Apa iya? 

Lalu kenapa ada orang stress dengan tekanan hidup, lalu memilih meditasi dan yoga sebagai bentuk terapi? 

Atau kenapa orang model Anand Krishna semakin populer di masyarakat urban yang penuh dengan masalah yang kompleks? 

Saya pikir labelling bahwa orang yang stress kurang agamanya ada benarnya. Lebih tepatnya mereka kurang memiliki kekuatan spiritual transenden yang menghubungkan dia dengan Dzat yang Maha Memiliki Kekuatan. 

Banyak orang Muslim mencari asupan ruhani ini dengan memilih praktik-praktik yang berasal dari tradisi agama lain. Yoga, misalnya, adalah olahraga yang berasal dari tradisi agama Hindu, tapi sangat digandrungi oleh kalangan Muslim.  

Saya tidak melarang untuk melaksanakan Yoga – asal itu murni olahraga kesehatan dan tidak disusupi pengajaran nilai-nilai filsafat agama Hindu. Tapi sangat naif apabila kita justru lebih memilih praktik agama lain, daripada apa yang telah ditawarkan oleh agama kita dalam rangka pemenuhan jiwa? 

Islam memiliki seperangkat metode pemenuhan kebutuhan spiritualitas dalam bentuk ibadah ritual yang sudah baku. Asal kita tidak terjebak pada pemikiran fiqih-oriented, yang menganggap Islam hanya dari aspek pemenuhan syarat-syarat ibadah ritual, insya Allah agama kita kaya akan dimensi spiritualitas. 

Orang menyebutnya tasawuf. Ada juga yang mengatakan akhlak. 

Saya tidak akan berbicara tentang tasawuf, karena hal ini akan membutuhkan penjelasan yang cukup panjang. Tapi, mari kita ambil salah satu ritual ibadah yang sangat familiar dan sering dilakukan oleh seorang Muslim: shalat. 

Shalat memiliki dimensi spiritual yang sangat kaya. Dilihat dari makna harfiahnya, shalat adalah doa. Kita tahu bahwa doa adalah penghubung antara hamba dan Tuannya. Shalat menawarkan kesempatan bagi seorang hamba untuk secara intens berhubungan dengan Tuan-nya melalui lafal-lafal yang diucapkan. 

Coba resapi dahsyatnya makna doa iftitah, al-fatihah, rukuk, i’tidal, sujud, duduk di antara sujud dua, tasyahud awal dan akhir. Doa-doa tersebut yang menghubungkan antara seorang Muslim dengan Tuhan-nya. Bayangkan dia melakukan ritual ini minimal lima kali sehari!

Sekali lagi, ini akan berhasil jika kita tidak melihat shalat sebagai ritual fisik saja, tapi lebih dari itu, sebagai ritual pemenuhan jiwa yang penuh makna. Banyak ulama yang telah memaparkan hal ini. Silahkan baca “Bidayatul Hidayah”-nya Al-Ghazali atau “Buat Apa Shalat”-nya Haidar Bagir untuk lebih mengeksplorasi lebih jauh tentang ini.

Al-Qur’an (Q.S. 70, 19-23) sendiri berpesan bahwa shalat adalah salah satu obat agar kita terhindar dari penyakit halu’ – selalu mengeluh ketika tertimpa bencana dan enggan berbagi ketika sedang mendapatkan kelapangan hidup. Situasi yang sangat dekat dengan masyarakat urban modern sekarang. 

***

Saya tidak hendak menafikan peran psikologi atau psikiatri sebagai disiplin ilmu yang menawarkan pengobatan bagi penyakit-penyakit jiwa (mental illness), tapi sungguh naif apabila kita meninggalkan solusi yang ditawarkan agama kita sebagai obat bagi penyakit-penyakit tersebut. Apalagi jika kita lebih memilih praktik-praktik pengobatan tradisional yang berasal dari tradisi agama lain, padahal agama kita memiliki khazanah ritual yang sangat kaya yang berkaitan dengan problem ini. 

Mari kita bersama meresapi agama pada bentuknya yang lebih dalam, tidak berhenti di luarannya (surface) saja. [] 

Menjaga Shalat

Shalat. Sumber (pinterest)

@syahruzzaky 

Kehidupan modern bagaikan dua sisi koin yang berbeda; ia memudahkan kita untuk mewujudkan apa yang kita inginkan, sekaligus mewajibkan kita untuk bekerja dalam tekanan apabila ingin mendapatkan privilege-nya.

Acap kali tekanan yang diberikan oleh modernitas membuat kita lelah dan cemas. Mungkinkah kita survive? Atau malah tersungkur menjadi pecundang? 

Mereka yang akhirnya menjadi pecundang banyak yang berujung pada kehidupan yang selalu dirundung keluh kesah. 

Hidup miskin di era modernitas membuat kita berada pada posisi yang tidak diuntungkan; tidak bisa menikmati kemudahan yang diberikan oleh zaman. Mau ikut tren fashion masa kini, misalnya, itu membutuhkan biaya yang cukup besar. Kalau tidak bisa menahan hawa nafsu, maka kita akan memanfaatkan fasilitas hutang/kredit. Akan tetapi, semakin kita tidak bisa membendungnya, bukan tidak mungkin terjebak hutang yang menggunung. Debt Collector akan siap-siap menghantui hidup kita, sampai hotel predeo bisa jadi menjadi salah satu tempat yang akan kita singgahi. 

Dalam kondisi ini, keluh kesah akan menjadi suasana hati sepanjang hari. Dalam tahap yang lebih parah, muncul beberapa penyakit mental seperti stres, depresi, cemas, dan yang lainnya. Bahkan, tidak sedikit yang berujung pada menghabisi nyawa sendiri. 

Dalam posisi ini, manusia terbelah menjadi tiga kelompok: mereka yang percaya pada psikologi positif, kepada agama, dan kepada dua-duanya. Saya tidak hendak membenturkan antara agama dan sains, tapi sebagai seorang beriman, alangkah lebih baiknya melihat apa yang ditawarkan oleh Islam sebagai solusi atas permasalahan ini, di samping terapi berdasarkan ilmu psikologi modern. 

Al-Qur’an menawarkan shalat sebagai salah satu solusi atas permasalahan umum dari manusia modern ini (Q.S. Al-Ma’arij ayat 19-23). Namun, shalat yang dimaksud bukan sekedar gerakan rukuk, sujud dan i’tidal. Solusi yang ditawarkan adalah shalat yang terjaga. Apa dan bagaimana shalat yang terjaga tersebut – yang Insya Allah akan mengantarkan kita pada ketenangan jiwa? 

Para mufassirin (ahli tafsir) memberikan beberapa penjelasan tentang Q.S. Al-Ma’arij ayat 22 – 23. Di ayat ini, Allah s.w.t bersabda bahwa orang-orang yang menjaga shalat – dengan mendawamkannya – akan terbebas dari sifat keluh kesah yang dimiliki oleh manusia. Namun shalat tersebut bukanlah sekedar gerakan fisik nirmakna, tapi memiliki beberapa kriteria. 

Prof. Wahbah Az-Zuhaily, pakar tafsir ternama asal Suriah, menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah shalat fardhu lima waktu yang dikerjakan secara rutin, tanpa ada yang tertinggal dalam keadaan apapun. Meskipun kehidupan dunia memberikan kita ruang sedikit untuk rehat, jangan sampai kita berani meninggalkan shalat. Karena itu modal kita satu-satunya untuk merawat jiwa kita dari segala penyakit jiwa. 

Hal lain yang bisa kita lakukan dalam menjaga shalat adalah memperhatikan tata caranya: melaksanakan wudhu yang benar, menjaga aurat, memperhatikan kiblat, dan berusaha untuk senantiasa tepat pada waktunya. Ini adalah prasyarat standar dalam aspek fikih. 

Selanjutnya adalah memperhatikan aspek tasawuf dari shalat yaitu menjaga kekhusyuan, menjauhi riya’ dan melaksanakan hal-hal yang sunat dari shalat, termasuk mengerjakan shalat-shalat sunnah yang dianjurkan. Yang lebih penting dari aspek ini adalah bagaimana kita menjadikan shalat sebagai wahana penghubung (silah) kita dengan Tuhan, sehingga kita benar-benar merasa dekat dengan Dia. Jika ini tercapai, maka kita telah mendapatkan benefit psikologis dari ibadah shalat. 

Hal yang lebih penting lainnya dalam menjaga shalat adalah berusaha sekuat tenaga untuk meninggalkan hal sia-sia yang melanggar batasan agama. Karena kita tahu bahwa shalat itu mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar (QS. Al Ankabut: 45). 

Apabila kita STMJ (shalat terus, maksiat jalan) maka itu tanda shalat kita belum diterima oleh-Nya. Tapi, dengan begitu bukan berarti kita berhenti dan menyerah. Yang bijak adalah bagaimana kita memperbaiki shalat sebagai wahana untuk menghentikan maksiat. 

Semoga Allah swt membantu kita untuk senantiasa menjaga shalat kita, sehingga mengantarkan kita pada ketenangan jiwa dan batin. Aamiin. []

Agama Menyelamatkan Jiwa

Oleh @syahruzzaky

MANUSIA secara fitrah diciptakan penuh keluh kesah. Dia akan merasa takut dan gelisah, ketika diberikan kesempitan hidup berupa sakit, kemiskinan dan yang lainnya. Akan tetapi dalam waktu bersamaan mereka juga sangat tamak dan kikir ketika dianugerahi kelapangan. 

Menurut Hamka sifat buruk ini biasanya dibarengi dengan penyakit jiwa (mental hygiene). Masyarakat modern, misalnya, yang hidup dalam bayang-bayang budaya konsumerisme seringkali dihinggapi oleh perasaan takut (fear) dan cemas (anxious) jika tidak mampu memuaskan hasrat mereka sehingga menyebabkan depresi (depressed) dan penyakit jiwa lainnya

Psikologi positif mencoba menawarkan pengobatan bagi orang-orang yang terjangkit penyakit jiwa tersebut. Akan tetapi, hal ini hanya terbatas pada tataran kuratif, yang seringkali tidak memotong akar permasalahan. Selagi manusia hidup dalam tatanan dunia yang tidak suportif, maka jiwa mereka akan rentan dengan pelbagai penyakit. 

Islam menawarkan solusi komprehensif atas permasalahan ini. Dalam Q.S. Al-Ma’arij ayat 19 – 21 dijelaskan bahwa secara fitrah manusia diasosiasikan dengan sifat-sifat buruk di atas. Lalu, pada ayat-ayat berikutnya dipaparkan juga langkah-langkah agar mereka terbebas dari belenggu sifat buruk ini, sehingga bisa menyelematkan jiwa mereka. 

Langkah pertama yang ditawarkan adalah shalat. Di samping sebagai sebuah ritual ibadah, shalat memiliki keuntungan-keuntungan psikologis – di mana orang yang melakukannya akan merasa dekat dengan sebuah Kekuatan yang senantiasa menjaganya, yaitu Allah s.w.t. Ini adalah sebuah modal psikologis yang akan membuat dia kuat dan menerima ketika diuji dengan kesusahan, dan bersyukur serta mau memberi ketika diberikan kelapangan hidup. 

Dalam beberapa kitab tafsir dikatakan bahwa yang dimaksud dengan mushollin dalam ayat ini adalah orang-orang beriman. Ini mengisyaratkan bahwa supaya terbebas dari belenggu sifat keluh kesah, takut, gelisah dan tamak, manusia harus menjadi orang yang beriman. Iman kepada Allah swt dan semua perintah-Nya. 

Pernyataan ini bisa berperan secara faktual dan normatif. Dalam kondisi pertama, ini menginformasikan bahwa manusia tidak beriman akan senantiasa dihantui oleh sifat-sifat destruktif di atas. Tidak adanya keimanan terhadap Allah dan aturan-aturan-Nya menyebabkan manusia berbuat sekehendak hati, yang seringkali mengutamakan hawa nafsu daripada akal sehat. Manusia terjebak dalam budaya materialisme dan hedonisme yang mana ini merupakan pangkal dari penyakit-penyakit jiwa seperti yang telah disebutkan di atas. 

Dalam kondisi kedua, manusia beriman diingatkan untuk menjauhi sifat-sifat di atas. Lalu Allah s.w.t memaparkan perangkat-perangkat yang sudah dimiliki oleh ajaran agama kita supaya bisa terbebas dari kondisi jiwa yang rusak. 

Secara fitrah agama diturunkan bagi umat manusia sebagai agen penyelamat, baik bagi nyawa maupun jiwa. Agama bukan hanya bicara tentang keselamatan di alam akhirat, tapi juga tentang kebahagiaan di dunia. Maka, jika ada beberapa golongan orang yang membawa ajaran agama yang menyelisihi fitrah ini, seyogyanya kita memasang sikap kritis terhadapnya. Ini juga menjadi modal bagi kita untuk memberikan sikap counter terhadap mereka yang menyerang agama dan memandangnya sebagai candu bagi masyarakat. [] 

Tentang Kesendirian di Alam Akhirat: Hanya Amal Saleh yang Mampu Menyelamatkan Kita

Ilustrasi kesendirian/Pinterest.

@syahruzzaky

Ketika hidup di dunia, banyak orang-orang terlibat membantu kita. Saat kecil, kita sangat tergantung dengan uluran tangan orang tua – entah itu orang tua biologis, maupun orang dewasa yang berperan sebagai pengasuh di rumah-rumah sosial. Kita tidak bisa hidup tanpa bantuan mereka. 

Guru-guru di sekolah membantu kita untuk mempersiapkan diri menuju fase kemandirian. Mereka melatih kita untuk membaca dan menulis – skill yang sangat fundamental untuk bertahan hidup. Selain itu, di sekolah kita belajar berinteraksi dengan orang lain – hal yang harus kita lakukan di sisa hidup kita, apabila ingin bertahan hidup. 

Sayangnya, sekolah tidak benar-benar membuat kita mandiri. Semandiri-mandirinya orang – bahkan orang yang mempraktekan hikikomori di Jepang – tetap membutuhkan orang lain untuk bisa melanjutkan hidup. Di dunia kerja, misalnya, kita bergantung dengan rekan kita dari divisi penjualan, agar produk yang kita kembangkan bisa terjual dengan baik di masyarakat. Bahkan, eksistensi masyarakat secara keseluruhan sebagai konsumen produk kita sangat membantu kita untuk bisa terus hidup. 

Kalau ada orang yang berseloroh dia dapat hidup mandiri, karena memiliki banyak uang yang dihasilkan hasil jerih payah kerjanya, maka itu adalah omong kosong. Orang terkaya di Indonesia, Bambang Hartono, pemilik Bank BCA dan perusahaan rokok Djarum, sangat bergantung pada karyawan-karyawannya – yang bekerja tak kenal lelah untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah yang dari hari ke hari membuat dia semakin kaya. Lucunya, kehidupan Hartono juga ditentukan oleh seorang penarik becak, yang sedang mengisap rokok Djarum Coklat di pojok jalan, di saat menunggu datangnya penumpang. Padahal sang penarik becak harus berjuang keras untuk bisa makan dalam sehari. Sungguh ironis. 

Maka sungguh tepat ketika Aristoteles menyimpulkan bahwa manusia itu adalah zoon politicon, makhluk yang membutuhkan sosialisasi untuk bisa bertahan hidup. Faktanya, tidak ada manusia yang benar-benar bisa hidup sendirian. Kalaupun ada, dia tetap harus meminta bantuan alam sekitarnya. 

Hal ini sangat kontras dengan kehidupan yang akan kita hadapi di akhirat. Di sana, tak ada satu orang pun yang bisa membantu kita, kecuali diri kita sendiri (melalui amal saleh yang kita kumpulkan selama hidup di dunia). 

Bahkan, orang-orang yang kita anggap dekat pun (mis., orang tua, anak, istri, sahabat karib) tidak bisa membantu kita. Mereka sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Semua orang berubah menjadi egois, karena memikirkan apakah mereka akan hidup dengan penuh kebahagiaan atau kesengsaraan di fase kedua kehidupan berikutnya (alam akhirat). 

***

Menyadari bahwa dirinya tidak akan selamat dari azab neraka, orang kafir membuat penawaran dengan Allah swt. Mereka ingin membuat penebusan dosa dengan memberikan jaminan, yaitu  anak-anak mereka, isteri dan saudara mereka, kaum famili yang terbiasa melindungi mereka, bahkan seluruh umat manusia yang pernah ada. Sebagai imbalan, mereka berharap bisa selamat dari azab neraka yang pedih. Hal ini seperti yang terdokumentasikan dalam Q.S. Al-Ma’arij ayat 11 – 15: 

“… Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya, dan isterinya dan saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia). Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya.” 

Q.S. Al-Ma’arij ayat 11 – 14

Tentu saja jaminan itu tidak dapat diterima. Allah swt terang-terangan menyatakan tidak. Dia swt berfirman,

Sekali-kali tidak dapat, sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergolak,

Q.S. Al-Ma’arij ayat 15


“pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.”

Q.S. Abbasa ayat 34 – 37 

Bahkan seperti yang disinggung dalam artikel tentang Ulasan Kitab Tafsir Q.S. Al-Ma’arij bagian pertama, Fakhruddin Ar-Razi menyatakan bahwa kebijaksanaan mewajibkan Allah s.w.t untuk tidak mencegah datangnya azab bagi orang-orang kafir.  

Begitulah, di alam akhirat, hanya amalan kita – yang diliputi rahmannya Allah – yang bisa menyelamatkan kita dari azab neraka. Tidak ada koneksi dalam, atau hal lainnya yang bisa kita sogok seperti di dunia. Wallahu a’lam. []

Condong, 18 Juni 2020

06:28