Kenikmatan Ukhrowi

Banyak orang yang berlomba untuk meraih kebahagiaan di dunia dengan mengeluarkan segenap upaya yang mereka miliki. Tak jarang, untuk meraih itu, mereka harus mengorbankan kehidupan keluarga, masa muda, bahkan kesempatan beribadah sebagai bekal menuju alam akhirat. 

Tentunya, Islam tidak melarang setiap manusia bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup di dunia. Namun, seyogyanya itu dilakukan secukupnya, tidak menunjukkan sikap berlebih-lebihan. “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela; yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung; dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya; sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthomah,” Allah s.w.t mengingatkan kita dalam Q.S. Al-Humazah ayat 1 – 4. 

Tidak jarang dari mereka yang tidak bisa membedakan mana kenikmatan yang semu dan mana yang sebenarnya. Paham empirisme dan materialisme membutakan mata kita dengan membuat sebuah pemahaman bahwa yang real adalah apa yang kita temukan sekarang di dunia. Itulah yang konkret. Sedangkan surga dan neraka adalah sesuatu yang belum pasti kebenarannya, karena tidak bisa diverifikasi secara ilmiah. 

Pandangan hidup Islam menolak pemahaman ini. Tentu, dalam satu sisi, kita bisa menerima empirisme, tapi itu bukanlah satu-satunya sumber kebenaran. Dalam perspektif Islam, akhirat adalah lebih baik dari dunia. Allah s.w.t menjelaskannya dalam Q.S. Ad-Duha ayat 4, “Dan sesungguhnya hari kemudian (akhirat) itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan/dunia).”

Lebih jauh Al-Quran memberikan gambaran perbandingan dunia dan akhirat. Dari segi waktu, misalnya, satu hari di akhirat berbanding dengan lima puluh ribu tahun di dunia. Tentu, ini tidak berpretensi menunjukan gambaran spesifik perbandingan waktu antara dunia dan akhirat, akan tetapi dari sini kita bisa mengetahui bahwa perbandingan dunia dan akhirat dari perspektif waktu bak sumur dan langit, sangat jauh menganga. 

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.  

Q.S. Al-Ma’arij ayat 4.

Jika kita telah memahami bahwa kehidupan dunia sangat kecil bila dibandingkan dengan kehidupan akhirat, tentu kita akan menentukan prioritas yang tepat. Kita tidak akan dibutakan oleh kenikmatan dunia, akan tetapi akan menjadikannya sebagai bekal supaya kita bisa menikmati indahnya kehidupan di akhirat kelak. 

Lalu kenikmatan ukhrowi apa yang sesungguhnya kita idam-idamkan? 

Apakah itu bidadari yang cantik dan perawan? Atau khamr yang nikmat dan memabukkan? Atau bisa jadi rumah yang megah dan indah? 

Alangkah rendahnya derajat kita apabila kenikmatan ukhrowi diukur oleh hal-hal berbau materialis tersebut. Memang, surga menyediakan hal itu semua – seperti yang termaktub dalam ratusan ayat al-Qur’an tentang deskripsi kenikmatan surgawi. Namun, dibalik itu semua ada kenikmatan yang lebih tinggi dan seharusnya menjadi dambaan seorang Mukmin hakiki. Yaitu, kenikmatan musyahadah melihat Allah s.w.t (rukyatullah) secara langsung – sesuatu hal yang musykil kita dapatkan ketika masih hidup di dunia. Allah s.w.t bersabda, “Wajah orang-orang yang berbahagia pada Hari Kiamat akan berbinar, bersuka cita dan bergembira, wajah-wajah itu akan melihat Penciptanya dan pemegang urusannya, maka wajah-wajah itu mendapatkan kenikmatan karenanya.” Q.S. Al-Qiyamah 22-23. 

Wallahu a’lam bisshawab. []

Cahaya Iman

Tidak ada balasan bagi kekufuran, melainkan siksaan yang pedih di alam akhirat kelak. Allah s.w.t memastikan bahwa imbalan bagi orang-orang kafir ini pasti adanya dan tidak ada yang mampu menolaknya. Bahkan, dalam beberapa tafsir dikatakan bahwa tidak mungkin bagi Allah s.w.t untuk menangguhkan janjinya ini. Dalam Tafsir Mafatihul Ghoib, Fakhruddin Ar-Razi mengatakan, “Tidak mungkin pencegah azab itu berasal dari sisi Allah. Kebijaksanaan mewajibkan Allah untuk tidak mencegah datangnya azab bagi orang-orang kafir.” 

Allah s.w.t memang Maha Pemurah dan Penyayang, tapi Dia tidak memberikan toleransi bagi orang-orang yang menyekutukan-Nya atau mengingkari eksistensi-Nya. Memang, setiap makhluk diberikan kehendak bebas (free will) untuk taat atau tidak kepada aturan-Nya, akan tetapi hal itu dibarengi dengan resikonya. Bagi yang tidak taat, maka harus siap menerima konsekuensi azab yang berat, baik di dunia maupun di akhirat. 

Karena itulah, dalam Islam tauhid memiliki posisi kunci bagi keselamatan manusia. Orang bisa saja berbuat maksiat, dengan melanggar beberapa aturan yang telah ditetapkan, tapi kalau sudah menyangkut dengan tauhid maka tidak ada toleransi bagi dia untuk tidak mendapatkan azab yang telah dijanjikan.

Dalam doktrin teologi ahlusunnah wal jamaah, seberat apapun maksiat yang dilakukan oleh seorang hamba, kalau dia masih mengikat kuat tauhid di hatinya, maka hal itu masih bisa menyelematkan dia. Setelah perbuatan maksiatnya dibakar di neraka, maka dia bisa diangkat dan dimasukkan ke surga. 

Sebaliknya, sebaik apapun hal yang dia lakukan di dunia, apabila hal itu tidak diikat dengan kalimah tauhid maka akan sia-sia di mata Allah. “Kebaikan” tersebut tidak akan menyelamatkan dia dari keabadian siksa neraka. 

Tentu, ini tidak berkaitan dengan kebaikan dalam perspektif humanisme sekuler. Amalan-amalan baik yang dilakukan oleh para filantropis “kafir” tentu sangat bermanfaat dalam kacamata humanisme sekuler, karena membantu memperbaiki derajat hidup manusia di muka bumi. 

Sayangnya, dalam kacamata teologis, kebaikan-kebaikan tersebut akan sia-sia karena tidak ditimbang sebagai amal saleh di hadapan Allah. Yang paling penting, amalan tersebut tidak mampu menyelamatkan dia dari dahsyatnya api neraka.  

Semoga Allah swt senantiasa menjaga kita dalam naungan akidah yang kuat, sehingga bisa menunaikan amanat kehidupan ini sampai penghujung waktu.

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allâh sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

[Ali ‘Imrân/3:102]

Selamat merayakan Idul Fitri 1441 Hijriyah, semoga kasih Allah senantiasa menaungi kita. Aamiin. 

Pola Pikir

Salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam hidup kita adalah pola pikir. Apapun kondisi yang kita temui, pola pikir menentukan bagaimana kita menyikapinya. Apakah gelisah, tenang, cemas, gembira atau khawatir. 

Biasanya, pola pikir dibentuk oleh pandangan hidup. Seorang muslim akan melihat bahwa harta melimpah yang ia dapatkan adalah bentuk titipan dari Allah s.w.t, sehingga ia menggunakannya di jalan-Nya. Hal ini akan berbeda pada seorang kafir, yang melihat bahwa itu adalah hasil jerih payah usahanya. Maka, suka-suka dia mau menggunakan harta tersebut sesuai dengan kehendaknya. 

Pola pikir seorang kiai dan usahawan jelas akan berbeda dalam melihat satu perkara, meskipun itu hal yang sama. Kiai melihat bahwa pesantren adalah tempat dia mengamalkan ilmu dan berpegang pada hadits Nabi s.a.w yang menyatakan bahwa siapa yang ditanya tentang suatu ilmu lalu menyembunyikannya, maka Allah akan mencambuknya dengan api di hari kiamat nanti. 

Seorang wirausahawan akan melihat pesantren sebagai ladang untuk mendapatkan keuntungan duniawi. Pengajaran yang diberikan oleh para guru adalah bentuk pelayanan jasa yang harus dibayar oleh user / customer dalam hal ini orang tua dan santri. Pesantren adalah entitas bisnis yang harus menghasilkan profit bagi para pengelolanya. 

Begitulah satu hal yang sama tapi beda hasilnya dikarenakan perbedaan pola pikir. 

=============

Di hari kiamat, manusia akan menunggu giliran untuk mendapatkan hisab atas perbuatan mereka di dunia. Orang-orang yang durhaka – yang menyia-nyiakan kesempatan hidup di dunia – akan merasakan penantian yang sangat lama sampai tiba masa gilirannya. Dalam beberapa ayat Al-Qur’an (misal: Q.S. Al-Ma’arij: 4) dikatakan secara spesifik bahwa satu hari masa penantian saat itu sama dengan lima puluh ribu tahun masa di dunia. Meskipun begitu, sebagian ulama berpendapat penyebutan waktu spesifik tersebut hanya untuk menunjukan masa yang sangat panjang. 

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.

Q.S. Al-Ma’arij: 4

Sebaliknya, orang-orang yang beriman tidak merasakan penantian yang lama dalam masa ini. Bahkan kata Rasul s.a.w hanya seukuran waktu satu kali shalat fardhu saja. 

Di sini kita bisa melihat pola pikir yang berbeda memberikan hasil yang berbeda. Bagi orang kafir masa penantian ini terasa sangat lama karena mereka gelisah menunggu giliran untuk mendapatkan siksa neraka. Sebaliknya, umat beriman tidak merasakan hal yang sama, karena mereka menunggunya dengan riang gembira: bersiap untuk mendapatkan kenikmatan surgawi. 

Ada ibrah yang bisa kita ambil dari peringatan dalam ayat Al-Quran di atas: betapa pentingnya kita memiliki pola pikir yang benar dalam melihat suatu hal, agar selamat dari segala hal yang bisa membuat celaka. Wallahu a’lam [] 

Nadhir bin Haris – Inspirasi Q.S. Al-Ma’arij Ayat 1 – 7

Ejekan tentang neraka yang tertempel di kaos oblong. (Google)

Komunitas Al-Muhajirin

SIKSA neraka tampak mustahil apabila dilihat dari perspektif ilmu modern yang bertumpu pada perkawinan antara empirisme dan positivisme. Sudah maklum kedua aliran filsafat ini terang-terangan menolak metafisika, termasuk penjelasan tentang surga dan neraka seperti yang disampaikan oleh para teolog. 

Maka jangan jengah, ketika mengetahui mayoritas ilmuwan Barat, bahkan pada titik tertentu sudah menjangkit masyarakat awamnya – tidak percaya hal-hal yang bersifat gaib, baik itu kabar tentang alam akhirat, moralitas keagamaan, bahkan pada puncak tertinggi menolak eksistensi Tuhan. 

Tidak sedikit dari mereka menjadikan agama sebagai bahan olok-olok, termasuk ketika meminta agar azab yang dijanjikan oleh teks-teks keagamaan (religious scriptures) kepada golongan mereka segera menghampiri. Ketika permintaan mereka tidak terpenuhi, itu menjadi lahan bagi mereka untuk mengafirmasi bahwa ajaran agama adalah khayalan manusia belaka. 

Perilaku ini bukanlah monopoli para sapiens abad ke-21, akan tetapi juga sudah terjadi ketika zaman Rasul saw masih hidup. 

Suatu saat Nadhir bin Haris, seorang pemuka Suku Quraisy, meminta kepada Nabi saw agar segera mendatangkan azab yang Dia s.a.w janjikan seperti yang termaktub dalam Al-Quran. Dia berkata,

Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih

(Q.S. Al-Anfaal: 32)

Tentunya, ini bukanlah permintaan yang tulus, akan tetapi bentuk kepongahan dan olok-olok atas ajaran yang dibawa oleh Nabi s.a.w; supaya dia bisa mengejek beliau ketika permintaannya tidak dapat terpenuhinya. Untungnya, Allah s.w.t menunjukan kuasa-Nya dengan menghinakan dia di Perang Badar. Nadhir tewas dengan naas dalam tragedi tersebut. 

Karena sifatnya yang gaib, banyak orang kafir tidak mau percaya azab yang telah dijanjikan oleh Allah s.w.t melalui risalah kenabian. Mereka berpegang pada fakta empiris bahwa pembangkangan tidak ada korelasinya dengan hidup sengsara di dunia. 

Dulu, ada seorang dosen UIN yang membuat eksperimen dengan tidak shalat selama tiga bulan lamanya. Ia ingin membuktikan bahwa bahwa hidupnya akan tenang-tenangnya meskipun membangkang perintah-Nya. Ketika tidak terjadi apa dalam hidupnya, ia menyimpulkan bahwa tidak ada korelasi antara kekufuran dengan azab yang dijanjikan Allah s.w.t.

Lalu, bagaimana Al-Qur’an mengomentari fenomena ini? 

Dalam Q.S. Ali Imran: 178, Allah s.w.t bersabda,  

Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.

Q.S. Ali Imran: 178

Itu artinya, Allah s.w.t sengaja menangguhkan azab mereka di dunia supaya mereka tetap terlena dengan dosa-dosa mereka, sehingga ketika azab itu datang (baca: kematian), mereka tidak pernah siap untuk menghadapinya. 

Meskipun secara fisik tidak terjadi apa-apa pada dosen UIN tadi, secara non-fisik telah terjadi ‘azab’ pada aspek rohaninya, di mana hidayah Allah s.w.t yang telah ia dapatkan semenjak kecil, harus terlepas dalam genggaman. Dalam perspektif kita, itu adalah azab terberat yang Allah s.w.t berikan pada setiap insan di muka bumi. Wallahu a’lam. []