Terapi Jiwa

ilustrasi terapi jiwa

@syahruzzaky

BAGI sebagian orang hidup ini berat; menyisakan pelbagai cobaan dan tantangan yang seringkali melukai jiwa dan batin, sehingga menyelesaikan misi hidup dianggap sebagai sebuah jawaban. 

Bisa jadi kondisi jiwa tersebut membuat kita tertekan yang berujung munculnya penyakit-penyakit mental; depresi (depressed), cemas (anxious), atau bahkan schizophrenia. 

Ada orang – yang menderita dengan salah satu penyakit jiwa di atas – mengeluh ketika dikata-katai, “Lu mah jadi kayak gini karena kurang agamanya.” Dia menolak dan berdalih bahwa penyakit ini adalah bagian dari mental illness dan hanya akan sembuh apabila diobati melalui pengobatan psikologi atau psikiatri modern. 

Apa iya? 

Lalu kenapa ada orang stress dengan tekanan hidup, lalu memilih meditasi dan yoga sebagai bentuk terapi? 

Atau kenapa orang model Anand Krishna semakin populer di masyarakat urban yang penuh dengan masalah yang kompleks? 

Saya pikir labelling bahwa orang yang stress kurang agamanya ada benarnya. Lebih tepatnya mereka kurang memiliki kekuatan spiritual transenden yang menghubungkan dia dengan Dzat yang Maha Memiliki Kekuatan. 

Banyak orang Muslim mencari asupan ruhani ini dengan memilih praktik-praktik yang berasal dari tradisi agama lain. Yoga, misalnya, adalah olahraga yang berasal dari tradisi agama Hindu, tapi sangat digandrungi oleh kalangan Muslim.  

Saya tidak melarang untuk melaksanakan Yoga – asal itu murni olahraga kesehatan dan tidak disusupi pengajaran nilai-nilai filsafat agama Hindu. Tapi sangat naif apabila kita justru lebih memilih praktik agama lain, daripada apa yang telah ditawarkan oleh agama kita dalam rangka pemenuhan jiwa? 

Islam memiliki seperangkat metode pemenuhan kebutuhan spiritualitas dalam bentuk ibadah ritual yang sudah baku. Asal kita tidak terjebak pada pemikiran fiqih-oriented, yang menganggap Islam hanya dari aspek pemenuhan syarat-syarat ibadah ritual, insya Allah agama kita kaya akan dimensi spiritualitas. 

Orang menyebutnya tasawuf. Ada juga yang mengatakan akhlak. 

Saya tidak akan berbicara tentang tasawuf, karena hal ini akan membutuhkan penjelasan yang cukup panjang. Tapi, mari kita ambil salah satu ritual ibadah yang sangat familiar dan sering dilakukan oleh seorang Muslim: shalat. 

Shalat memiliki dimensi spiritual yang sangat kaya. Dilihat dari makna harfiahnya, shalat adalah doa. Kita tahu bahwa doa adalah penghubung antara hamba dan Tuannya. Shalat menawarkan kesempatan bagi seorang hamba untuk secara intens berhubungan dengan Tuan-nya melalui lafal-lafal yang diucapkan. 

Coba resapi dahsyatnya makna doa iftitah, al-fatihah, rukuk, i’tidal, sujud, duduk di antara sujud dua, tasyahud awal dan akhir. Doa-doa tersebut yang menghubungkan antara seorang Muslim dengan Tuhan-nya. Bayangkan dia melakukan ritual ini minimal lima kali sehari!

Sekali lagi, ini akan berhasil jika kita tidak melihat shalat sebagai ritual fisik saja, tapi lebih dari itu, sebagai ritual pemenuhan jiwa yang penuh makna. Banyak ulama yang telah memaparkan hal ini. Silahkan baca “Bidayatul Hidayah”-nya Al-Ghazali atau “Buat Apa Shalat”-nya Haidar Bagir untuk lebih mengeksplorasi lebih jauh tentang ini.

Al-Qur’an (Q.S. 70, 19-23) sendiri berpesan bahwa shalat adalah salah satu obat agar kita terhindar dari penyakit halu’ – selalu mengeluh ketika tertimpa bencana dan enggan berbagi ketika sedang mendapatkan kelapangan hidup. Situasi yang sangat dekat dengan masyarakat urban modern sekarang. 

***

Saya tidak hendak menafikan peran psikologi atau psikiatri sebagai disiplin ilmu yang menawarkan pengobatan bagi penyakit-penyakit jiwa (mental illness), tapi sungguh naif apabila kita meninggalkan solusi yang ditawarkan agama kita sebagai obat bagi penyakit-penyakit tersebut. Apalagi jika kita lebih memilih praktik-praktik pengobatan tradisional yang berasal dari tradisi agama lain, padahal agama kita memiliki khazanah ritual yang sangat kaya yang berkaitan dengan problem ini. 

Mari kita bersama meresapi agama pada bentuknya yang lebih dalam, tidak berhenti di luarannya (surface) saja. [] 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s