Akhlak Agung Baginda Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Komunitas Al-Muhajirin 

Ada perbedaan mendasar antara sikap Kanjeng Nabi Muhammad s.a.w dengan nabi-nabi lainnya yang diutus oleh Allah s.w.t terhadap resistensi yang dihadapi dari kaumnya. Nabi Muhammad lebih bersikap untuk menahan diri dan tidak dengan mudah menggunakan previlege-nya untuk membinasakan mereka di muka bumi. Hal ini berbeda dengan beberapa senior beliau, yang lebih memilih untuk meminta Allah s.w.t agar melenyapkan mereka di muka bumi. 

Saat Baginda Rasul dan para sahabat meminta suaka kepada Bani Tsaqif, suku yang paling berpengaruh di Thaif pada masa itu, mereka mendapatkan perlakuan yang tidak terduga. Alih-alih mendapatkan perlindungan, mereka justru harus menemui intimidasi lain berupa cacian, hujatan dan lemparan batu yang melukai mereka, termasuk Rasul. 

Pada awalnya, Rasul melihat bahwa penduduk Thaif sangat terbuka dan berada di kawasan nir-konflik. Saat itu, kondisi umat Muslim yang masih minoritas sangat mengkhawatirkan. Mereka terus mendapatkan ancaman dari suku Quraisy yang mayoritas masih kafir. Apalagi backing utama kegiatan dakwah Rasul baru saja meninggal, yakni paman Rasul tercinta, Abu Thalib bin Abdul Muthallib. Maka, Rasul berinisiatif untuk mencari suaka ke daerah yang lebih aman demi keselamatan umat Islam. 

Sayangnya, Rasul dan rombongan tidak mendapatkan perlakukan yang mereka harapkan. Mereka ditolak untuk masuk ke kawasan Thaif. Selain itu mereka mendapatkan cacian, hasutan dan intimidasi baik verbal maupun non-verbal berupa lemparan batu dari penduduk setempat. Akhirnya, Rasul memutuskan untuk meninggalkan daerah tersebut dan kembali ke Mekkah. 

Dalam beberapa riwayat dikatakan bahwa di perjalanan pulang, Rasul mendapati malaikat penjaga gunung yang diutus oleh Allah s.w.t datang dan bertanya apakah dia perlu membinasakan penduduk Thaif yang telah berbuat zalim. Alih-alih menerima tawaran ini, Rasul dengan halus menolaknya. 

“Walaupun penduduk Thaif menolakku, aku berharap dengan kehendak Allah keturunan mereka kelak akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya,” ujar beliau kepada malaikat utusan Allah. 

Beliau kemudian berdoa, “Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kaumku. Sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”

Meskipun dakwah Rasul banyak mendapatkan resistensi dan ancaman baik secara fisik maupun psikis, beliau masih bisa menahan diri untuk tidak mendoakan jelek terhadap mereka. Kecuali dalam kondisi tertentu yang amat parah (seperti momen ketika 70 sahabat rasul yang dibunuh oleh perwakilan Bani Amir di Pertempuran Bir Mauna), Rasulullah tidak pernah mencela siapapun. 

Hal ini berbeda, misalnya, dengan apa yang dilakukan oleh senior Baginda Rasul, Nabi Nuh a.s. Tatkala dakwah beliau tidak menunjukan hasil yang menggembirakan, beliau meminta Allah s.w.t untuk membinasakan kaumnya yang keukeuh pada kekufuran. 

Nabi Nuh a.s memang sudah sangat bersabar dengan dakwahnya yang kurang mendapatkan respons positif dari kaumnya. Bayangkan, dalam rentang waktu dakwah 900 tahun, beliau  hanya berhasil mengajak 80 orang. Sisanya tetap menolak dan tetap teguh dengan keyakinan mereka. Pada akhirnya, Nuh mengeluh kepada Tuhannya tentang hal ini. Kisah ini terekam dalam Q.S. Nuh ayat 5 – 7 

Nuh berkata: "Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, () maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). () Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.

Pada akhirnya, Nuh meminta Allah untuk membinasakan mereka karena memberikan efek negatif bagi orang-orang yang telah mengikuti ajakan beliau. Ini dijelaskan dalam penggalan selanjutnya dari Q.S. Nuh. 

'Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan keturunan selain anak-anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir'.'' Q.S. Nuh ayat 26 - 27. 

Dan pola yang sama terjadi pada kaum-kaum yang lain seperti kaum Nabi Hud, Kaum Nabi Saleh, Kaum Nabi Luth, Kaum Nabi Syuaib, dan yang lainnya. Kecuali umat Nabi Muhammad s.a.w, rata-rata kaum nabi-nabi sebelumnya harus berakhir dengan pembinasaan di muka bumi. 

Mungkin ini yang menjadi penyebab mengapa, di hari kiamat kelak, Nabi Muhammad memiliki keistimewaan untuk memberikan syafa’at kepada umat manusia. Rasa sayang kepada umatnya menjadikan beliau mendapatkan keistimewaan dari Allah s.w.t untuk “menyelamatkan” umatnya dari pedihnya siksa api neraka. 

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dikatakan bahwa Baginda Rasul s.a.w adalah satu-satunya orang yang mendapatkan keistimewaan dari Allah untuk memberikan syafaat kepada kaumnya di padang Mahsyar kelak. Hal ini, misalnya, berbeda dengan Nabi Nuh yang merasa tidak mampu memberikan syafaat karena “kesalahan” beliau. Tatkala umat manusia meminta syafaat kepada beliau seraya berkata, “Wahai Nabi Nuh! Engkau adalah rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi, dan Allah telah menamakanmu hamba yang bersyukur. Tidakkah engkau dapat memintakan syafa’at untuk kami kepada Allah? Tidakkah engkau telah melihat keadaan kami dan yang menimpa kami?”

Nabi Nuh a.s menjawab, 

“Sungguh, pada hari ini Allah telah marah dengan marah yang sebenar-benarnya, dimana Dia belum pernah marah seperti ini dan juga tidak akan marah setelahnya seperti ini. Sungguh, dahulu aku memiliki satu do’a yang aku gunakan untuk menghancurkan kaumku. Diriku sendiri butuh syafa’at, pergilah menemui selainku! Pergilah menemui Ibrahim!”

Tentu cerita di atas tidak menunjukan kelemahan dari nabi-nabi sebelum Rasul s.a.w, akan tetapi lebih menonjolkan sisi agung dari akhlak Baginda Nabi Muhammad s.a.w. Semoga kita sebagai umatnya bisa meniru jejak langkah beliau. Aamiin. []  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s