Surga, Neraka, dan Wujud Cinta Hamba kepada Tuhannya

Komunitas Al-Muhajirin

SEPENDEK pengetahuan saya, Islam adalah agama rasional; ajaran-ajarannya mudah dicerna oleh akal manusia dan selaras dengan fitrah penciptaan manusia, sebagai salah satu makhluk yang dibebankan taklif oleh Allah s.w.t.

Fitrah manusia adalah suka dengan kesenangan dan takut akan penderitaan. Oleh karena itu, Islam – sebagai agama yang selaras dengan fitrah – memiliki konsep targhib, janji terhadap kesenangan dan kenikmatan akhirat yang disertai bujukan; dan tarhib, ancaman yang menimbulkan ketakutan secara mendalam kepada orang yang diancam.

Konsep ini relevan dengan peran Alquran sebagai tabsyir, pembawa kabar gembira sekaligus indzar, pembawa peringatan. Kabar gembira ditujukan bagi orang-orang mukmin, sedangkan ancaman disodorkan bagi orang-orang kafir, musyrik dan munafik. 

"Sungguh, Al-Qur'an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar." (Q.S Al-Isra' ayat 9).
“Demikianlah Kami wahyukan kepadamu al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka.” (QS. Asy-Syuro:7)

Lebih spesifik lagi, Islam menawarkan surga (targhib) bagi mereka yang memanfaatkan kesempatan hidup di dunia dengan ketaatan dan ketakwaan kepada Allah s.w.t. dan neraka (tarhib) bagi mereka yang enggan mengikuti jalan  kebenaran – yaitu risalah tauhid. 

Uniknya, Alquran menggambarkan surga dan neraka dengan bahasa yang dapat dicerna oleh manusia. Misalnya, surga digambarkan sebagai tempat berkumpulnya semua jenis kesenangan seperti bidadari cantik yang masih perawan, arak yang menyegarkan, sungai-sungai indah yang tidak pernah surut, bantalan-bantalan hijau permadani, dan gambaran sempurna lainnya – yang tentu akan menarik manusia untuk meraihnya.  

Sebaliknya, Alquran mendeskripsikan neraka sebagai hal yang kontras dari kenikmatan surgawi; kepedihan dan kesengsaraan yang tak berujung. Neraka digambarkan sebagai tempat yang berisi api yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, makanan dan minumannya sangat tidak enak dan beracun seperti pohon zaqum yang pahit, pohon dhori’ yang berduri, ghislin cairan berupa darah dan nanah, air hamim yang mendidih, air shodid dari nanah dan gambaran negatif lain yang mungkin akan membuat manusia sangat takut untuk membangkang dan lari pada kebenaran.  

Meskipun demikian, kita mafhum, bahwasanya kita tidak akan mampu untuk mengetahui gambaran surga dan neraka yang sesungguhnya, karena apa yang digambarkan oleh Al-Qur’an hanyalah media untuk mamahamkan manusia. Tentang deskripsi surga yang sebenarnya, Allah s.w.t bersabda dalam hadits qudsi,

"Aku telah menyediakan buat hamba-hamba-Ku yang shalih (kenikmatan) yang belum pernah mata melihatnya, telinga mendengarnya dan terbetik dari lubuk hati manusia".

Maka dari itulah, para ulama ahli tafsir berpendapat bahwa Al-Qur’an turun dengan bahasa yang bisa dipahami oleh manusia (Bahasa Arab), meskipun secara hakikat, Al-Qur’an bersifat qadim, karena menjadi bagian tidak terpisahkan dari Kalam Allah s.w.t.

Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya). (Q.S. Az-Zukhruf:3)

Dalam pandangan saya, konsep targhib dan tarhib yang telah diulas di muka, adalah bukti lain bahwa ajaran Islam relevan dengan fitrah manusia. Konsep ini sangat mirip dengan salah mazhab psikologi yang sangat terkenal, behaviorisme. Meskipun kontroversial, teori ini cukup mendapatkan perhatian para ahli dan banyak diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan manusia.

Beribadah dengan pamrih surga dan neraka memang dibenarkan, karena selaras dengan nash Al-Qur’an. Akan tetapi, dalam perspektif tasawuf, hal ini dianggap tidak etis. Tasawuf yang melandaskan ajarannya pada konsep cinta, menempatkan Allah s.w.t sebagai puncak alasan bagi seluruh gerak nadi kita di dunia.

Demi mengungkapkan cintanya kepada Sang Pencipta, banyak sufi yang berkata, “saya rela masuk neraka, asal itu merupakan titah Allah s.w.t dan pengorbanan yang harus saya tempuh untuk mendapatkan cinta-Nya.” []