Hidup Adalah Ujian: Kandungan Q.S. Al-Insan (16, 1-3)

Inspirasi Ayat: Q.S. Al-Insaan (76, 1 – 3)

Allah swt menciptakan manusia setelah Dia menciptakan makhluk-makhluk-Nya yang lain seperti bumi, malaikat dan jin. Tidak tanggung-tanggung, Dia memberikan posisi yang sangat berat, yang mana makhluk Allah yang lain pun tidak mampu untuk mengembannya – yaitu menjadi khalifah Allah swt di muka bumi. Sebelumnya, ada segelintir makhluk yang memprotes keputusan tersebut, namun setelah Allah swt melakukan serangkaian ujian (fit and proper test), terlihat jelas bahwasanya manusia memang pantas untuk mengemban misi ini.

Pada dasarnya, Allah swt menciptakan manusia dari saripati tanah melalui serangkaian proses yang cukup panjang. Bermula dari percampuran antara sel telur jantan dan sel telur betina (nutfah), kemudian terbentuklah segumpal darah (‘alaqah), lalu bertransformasi menjadi segumpal daging (mudhgah) dan menjadi tulang (‘idzam) yang dibalut daging (lahm). Setelah itu ditiupkan roh pada dzat fisik tersebut.

Lihatlah, manusia, yang seringkali menunjukan sikap sombong karena kehebatan dan kecerdasannya, dulunya terbentuk dari dzat yang dianggap jijik, bahkan dalam beberapa budaya dianggap sebagai hal yang hina.

Penciptaan manusia tentunya memiliki tujuan – yaitu untuk mengemban tugas sebagai khalifah Allah swt di muka bumi. Untuk mencapai tujuan tersebut Allah swt menguji manusia dengan taklif, yaitu kewajiban untuk berjalan di atas jalan kebenaran – dengan mengikuti semua perintah-Nya; dan menghindari jalan kebatilan – menjauhi semua larangan-Nya.

Allah swt telah menciptakan beberapa sumber (resources) yang bisa mengantarkan manusia menemukan jalan kebenaran.  Pertama, Allah swt telah memberikan naluri alamiah kepada manusia untuk menyembah Supreme Power, sang Pemilik Kekuatan alam semesta yang ada di luar jangkauannya. Mayoritas agama lokal yang berkembang dalam sebuah komunitas masyarakat tradisional bersumber dari naluri alamiah yang dieksplorasi sehingga menjadi sebuah kepercayaan (belief). Kedua, panca indra. Dengan sumber ini manusia menyaksikan bukti kebesaran Ilahi. Bayangkan anda berada di bibir pantai, berdiri menikmati angin sepoi disertai deburan ombak yang bergulung tanpa henti. Tanyakan pada diri, apakah hati anda bergetar? Apakah anda berpikir bahwasanya dibalik indahnya alam ini, ada kekuatan gaib yang menggerakannya? Rasanya mustahil tidak ada hal yang tersembunyi dari fenomena alam seperti ini!

Ketiga, akal pikiran. Dengan perangkat ini manusia mampu menalar akan kemungkinan adanya kuasa Tuhan di balik fenomena alam semesta. Terakhir, khabar shadiq dari Allah swt melalui wahyu yang disampaikan oleh para rasul-Nya. Inilah yang menjadi panduan akurat menuju jalan kebenaran.

Ujian yang berbentuk taklif ini akan melahirkan dua macam manusia yang saling bertolak belakang. Yang pertama adalah orang yang mulia, yaitu mereka yang mampu untuk mensyukuri semua nikmat yang Dia berikan. Dia bersyukur dengan senantiasa taat terhadap perintah-Nya dan sabar untuk menjauhi larangan-Nya. Tipikal orang seperti ini adalah orang yang sukses dalam mengahadapi ujian, yaitu dengan menyelesaikan seluruh problem dalam setiap fase kehidupan.

Di sisi lain, akan selalu ada orang yang gagal dalam menghadapi ujian, yaitu mereka yang ingkar terhadap apa yang telah Allah swt berikan. Secara tidak langsung, tipikal orang kedua ini memilih untuk melangkah dalam jalur kehinaan. Maka dari itulah sebuah pepatah Arab mengatakan, bil imtihaani yukromul mar’u au yuhaanu.” Dengan ujianlah manusia itu bisa jadi mulia, akan tetapi bisa juga menjadi hina.

Semoga Allah swt menuntut kita menuju jalan kemuliaan, amiin.