Pola Pikir

Salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam hidup kita adalah pola pikir. Apapun kondisi yang kita temui, pola pikir menentukan bagaimana kita menyikapinya. Apakah gelisah, tenang, cemas, gembira atau khawatir. 

Biasanya, pola pikir dibentuk oleh pandangan hidup. Seorang muslim akan melihat bahwa harta melimpah yang ia dapatkan adalah bentuk titipan dari Allah s.w.t, sehingga ia menggunakannya di jalan-Nya. Hal ini akan berbeda pada seorang kafir, yang melihat bahwa itu adalah hasil jerih payah usahanya. Maka, suka-suka dia mau menggunakan harta tersebut sesuai dengan kehendaknya. 

Pola pikir seorang kiai dan usahawan jelas akan berbeda dalam melihat satu perkara, meskipun itu hal yang sama. Kiai melihat bahwa pesantren adalah tempat dia mengamalkan ilmu dan berpegang pada hadits Nabi s.a.w yang menyatakan bahwa siapa yang ditanya tentang suatu ilmu lalu menyembunyikannya, maka Allah akan mencambuknya dengan api di hari kiamat nanti. 

Seorang wirausahawan akan melihat pesantren sebagai ladang untuk mendapatkan keuntungan duniawi. Pengajaran yang diberikan oleh para guru adalah bentuk pelayanan jasa yang harus dibayar oleh user / customer dalam hal ini orang tua dan santri. Pesantren adalah entitas bisnis yang harus menghasilkan profit bagi para pengelolanya. 

Begitulah satu hal yang sama tapi beda hasilnya dikarenakan perbedaan pola pikir. 

=============

Di hari kiamat, manusia akan menunggu giliran untuk mendapatkan hisab atas perbuatan mereka di dunia. Orang-orang yang durhaka – yang menyia-nyiakan kesempatan hidup di dunia – akan merasakan penantian yang sangat lama sampai tiba masa gilirannya. Dalam beberapa ayat Al-Qur’an (misal: Q.S. Al-Ma’arij: 4) dikatakan secara spesifik bahwa satu hari masa penantian saat itu sama dengan lima puluh ribu tahun masa di dunia. Meskipun begitu, sebagian ulama berpendapat penyebutan waktu spesifik tersebut hanya untuk menunjukan masa yang sangat panjang. 

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.

Q.S. Al-Ma’arij: 4

Sebaliknya, orang-orang yang beriman tidak merasakan penantian yang lama dalam masa ini. Bahkan kata Rasul s.a.w hanya seukuran waktu satu kali shalat fardhu saja. 

Di sini kita bisa melihat pola pikir yang berbeda memberikan hasil yang berbeda. Bagi orang kafir masa penantian ini terasa sangat lama karena mereka gelisah menunggu giliran untuk mendapatkan siksa neraka. Sebaliknya, umat beriman tidak merasakan hal yang sama, karena mereka menunggunya dengan riang gembira: bersiap untuk mendapatkan kenikmatan surgawi. 

Ada ibrah yang bisa kita ambil dari peringatan dalam ayat Al-Quran di atas: betapa pentingnya kita memiliki pola pikir yang benar dalam melihat suatu hal, agar selamat dari segala hal yang bisa membuat celaka. Wallahu a’lam []