Jika Ibu Tidak Mengandung dan Melahirkanku …

Meskipun dalam Islam kita mengetahui bahwa rahmat Allah begitu luas dan meliputi segala sesuatu, namun hendaknya kita tetap menumbuhkan rasa takut akan azab-Nya yang begitu pedih seperti yang tergambar dalam dalil-dalil otoratif ajaran Islam. 

Perasaan ini akan membuat kita tetap waspada dan mawas diri untuk melangkah di muka bumi dan senantiasa merujuk pada panduan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan fatwa ulama dalam bersikap. 

Merasa aman akan azab Allah – dengan memiliki keyakinan berlebihan akan Rahmat-Nya – adalah tindakan yang tidak tepat, karena hal ini bisa jadi menjerumuskan kita pada pembangkangan terhadap syariat-Nya. 

Para sahabat Nabi dan ulama salaf menjadikan rasa takut (khauf) terhadap azab Allah sebagai pengingat agar membuat mereka senantiasa taat. 

Bahkan ketika taat sudah digapai perasaan ini tidak mereka hilangkan sebagai trigger agar tetap istiqomah dalam keadaan ini. 

Beberapa dari ulama salaf – saking takutnya akan azab Allah –  bahkan berucap, “Andaikan saja ibu saya tidak melahirkan saya (maka saya akan aman dari azab-Nya),” 

Yang lainnya berkata, “andaikan saya adalah sebuah pohon yang ditebang, dan buahnya dimakan – dan aku tidak pernah menjadi manusia (maka aku akan terbebas dari hisab)” 

Ungkapan ini menunjukan concern mereka bahwa setiap dari kita memiliki kemungkinan untuk merasakan pedihnya siksa neraka, maka adalah sebuah kewajiban untuk selalu mawas diri supaya tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang dapat memantik amarah Tuhan dan mengundang siksa-Nya. Wal-iyyadh billah. 

Takut terhadap Azab Allah swt – Kandungan Q.S. Al-Ma’arij ayat 27 – 28

Langkah kelima agar terhindar dari penyakit halu’, adalah sikap takut dan percaya terhadap azab Allah swt. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindar dari siksa-Nya, kecuali berkat rahmat-Nya yang begitu luas. 

Seorang mukmin yang memiliki karakter ini tidak akan pernah gelisah dengan kesulitan hidup karena dia yakin bahwa dunia ini fana; yang abadi hanya kehidupan akhirat. Kesulitan di dunia hanyalah secuil bila dibandingkan dengan dahsyatnya siksaan di alam kubur maupun akhirat. 

Selanjutnya, ketakutan akan azab Allah akan mendorong seseorang pada ketaatan. Dalam terminologi Islam, hal ini dinamakan khauf. Tentunya, sikap ini dibarengi dengan raja’, harapan akan rahmat Allah swt. Dengan begitu, seorang muslim akan selalu mawas diri karena takut akan azab-Nya, sekaligus berharap akan kasih sayang-Nya yang besarnya melebihi samudra. 

Fakhruddin Ar-Razi mencatat bahwa sikap takut ini mencakup dua hal: pertama, takut akan meninggalkan kewajiban seperti shalat, zakat, puasa, dan amalan lainnya yang bernilai ibadah. Kedua, khawatir terjerumus pada hal-hal yang berbahaya yang dapat mengundang murka-Nya. Sikap ini akan memotivasi seorang muslim untuk menjalankan semua perintah Allah yang dibebankan (taklif), dan menjauhi semua larangan-Nya.