Keyakinan kaum kafir akan kehidupan yang baik di hari kiamat dan bantahan Allah swt terhadapnya

Allah swt mengungkapkan ‘keheranan-Nya’ atas keyakinan kaum Kafir (Quraisy) bahwa mereka akan mendapatkan keutamaan (fadhilah) di akhirat kelak, sebagaimana mereka mendapatkannya ketika hidup di dunia. Hal ini terungkap dalam Q.S. Al-Qalam ayat 35.

Lalu Allah swt membantah keyakinan ini dengan memberikan pertanyaan ingkar (pertanyaan yang bertujuan meniadakan) apakah Dia swt pernah memberikan janji kepada mereka yang diperkuat dengan sumpah dan berlaku sampai hari kiamat, sehingga mereka benar-benar yakin akan pendapat tersebut.

Dalam ayat ini, Allah swt memberikan beberapa penekanan secara spesifik tentang janji yang dimaksudkan; 1) janji yang diperkuat dengan sumpah, dan 2) janji yang dilekatkan dengan jangka waktu spesifik.

Tak tangung-tanggung, janji tersebut dilekatkan pada hari akhir (kiamat) yang menunjukan kekuatan dan kesempurnaan dari janji Allah swt ini.

Spesifikasi yang detail akan ‘janji Allah’ ini berfungsi untuk menunjukan ‘keheranan-Nya’ sekaligus pengingkarannya akan keyakinan Kaum Kafir Quraisy tersebut. Allah swt tidak pernah berjanji seperti ini kepada kaum yang tidak beriman kepada-Nya. Sebaliknya, Dia swt menjanjikan azab yang pedih bagi mereka sebagai konsekuensi atas kekufurannya.

Dalam hemat saya, jika kita merenungi ayat-ayat al-Qur’an, dapat disimpulkan bahwa janji yang tertuang dalam ayat ini Allah swt tujukan bagi mereka yang bersedia berserah diri dan tunduk pada syariat yang telah ditentukan-Nya. Wallahu a’lam. []

Sumber: Tafsir Mafatihul Ghaib Fakhruddin ar-Razi

Advertisements

Keutamaan Akhlak Mulia

sumber: Republika.co.id

 

SIKAP keberagamaan kita tidak akan sempurna tanpa diikuti dengan akhlak yang baik sebagai hasil dari pemahaman tauhid yang benar. Kedekatan pada Allah Swt – melalui berbagai ritual ibadah yang dilakukan sepanjang waktu – seyogyanya membimbing kita berperilaku terpuji (akhlaq mahmudah) dalam sikap keseharian.

Sebagian ulama menyandingkan agama dengan akhlak. Dalam sebuah hadits masyhur diriwayatkan bahwa Rasul Saw diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlak. Para ulama berpendapat bahwasanya makna akhlak di sini adalah agama.

Aisyah Ra ketika ditanya oleh sahabat tentang keperibadian/akhlak Rasul Saw, beliau Ra menyatakan bahwa akhlak Rasul Saw adalah al-Qur’an. Padahal kita tahu bahwasanya al-Qur’an adalah rujukan utama dalam beragama. Maka dapat dikatakan bahwa salah inti esensial dari agama itu adalah akhlak.

Keagungan akhlak Rasul Saw menjadi salah satu parameter kesalahan fatal tuduhan gila yang dilontarkan oleh Kaum Kafir Quraisy ketika mereka mendengar kenabian Rasul Saw. Bagaimana mungkin orang yang memiliki akhlak yang terpuji pada saat yang sama memiliki sifat yang diidentikan dengan orang gila. Tentu itu adalah hal yang mustahil. Statement logis ini diceritakan dalam permulaan Q.S. Al-Qalam.

Tentunya, kita sebagai umatnya, harus meneladani sifat-sifat beliau Rasul Saw yang mulia. Dalam beberapa hadits diriwayatkan bahwa Rasul Saw tidak pernah menghardik pembantu, tidak pernah berkata “huss”, dan tidak pernah memukul kecuali dalam peperangan. Dalam pribadi Rasul Saw terkumpul pekerti yang agung seperti rasa malu untuk berbuat maksiat, dermawan, berani, bijaksana, lembut, pemaaf dan berbagai pekerti baik lainnya. Kesempurnaan akhlak beliau menjadi bukti akan kebenaran agama Islam. Wallahu a’lam. []

Insipirasi ayat: Q.S. Al-Qalam (68: 1-7)