Perhitungan Allah swt Kepada Kaum yang Mendustakan Ajaran Al-Qur’an – Ulasan Kitab Tafsir Q.S. Al-Qalam ayat 44-45

Ilustrasi

Ketika menjalankan misi dakwahnya, Rasul saw seringkali mendapatkan resistensi dari orang-orang yang mendustakan risalah kenabian beliau. Ada yang mencap beliau gila. Ada juga yang meludahi beliau ketika hendak pergi ke masjid, dan mengencingi tempat salat beliau. Bahkan, beberapa pembesar Kaum Quraisy memprovokasi paman beliau untuk menghentikan dakwah keponakannya. Dan banyak intimidasi lainnya, yang tentu secara manusiawi membuat Nabi saw gelisah.

Namun, Allah swt, melalui ayat ini menegaskan bahwa urusan dengan orang-orang tersebut janganlah Nabi saw pusingkan. Percayakan perhitungannya kepada Allah swt, karena Allah swt telah menyiapkan azab dari arah yang mereka tidak duga.

Sekilas, memang azab ini tidak kelihatan karena bentuknya adalah ‘kenikmatan’ yang banyak dan kehidupan yang normal. Seakan tidak akan terjadi apa-apa dengan melakukan pembangkangan. Namun, semua itu hakikatnya adalah tipu daya yang melenakan. Karena sifatnya yang laten, mereka menjadi lengah, sehingga ketika azab Allah swt datang pada waktunya, mereka tidak memiliki persiapan sama sekali.

***

Prof. Maroghi melihat bahwa ayat ini adalah respon dari Allah swt untuk menghibur Nabi saw di saat tantangan yang datang bertubi-tubi saat mengemban tugas kenabian. Lebih jauh, Prof. Hamka menerangkan bahwa Rasul saw diperintahkan untuk terus berjuang, tanpa harus mengindahkan hinaan, cacian dan olokan dari kaum Kafir Quraisy. Allah swt telah menyiapkan perangkap (kaid) bagi mereka berupa nikmat yang banyak dan penangguhan azab yang membuat mereka lengah dan congkak; sampai pada satu saat azab datang di hadapan mereka.

Perihal nikmat yang diberikan kepada kaum kafir di saat resistensi mereka yang kuat terhadap dakwah Nabi saw, Fakhruddin Ar-Razi berpendapat bahwa kebaikan (nikmat) tersebut besifat matanah (keras), karena efeknya yang dapat mendorong pada kerusakan. Model azab seperti ini – dinamakan juga istidraj – justru lebih berbahaya dari siksaan langsung, karena membuat orang terlena dan merasa tidak perlu untuk bertobat.

Menurut Hamka, kenikmatan yang mereka dapatkan akan membuat mereka semakin congkak dan besar kepala. Pembangkangan mereka kepada usaha dakwah Nabi saw semakin hari semakin besar karena mereka merasa aman atas apa yang mereka perbuat. Mereka tidak tahu, bahwa sesungguhnya Allah swt telah menyiapkan siksa yang sangat pedih dalam arah yang mereka tidak ketahui.  

Fakhruddin Ar-Razi mengatakan bahwa dalam ayat ini Allah swt menegaskan Kemahakuasaan-Nya dalam bertindak, dan tidak ada satu pun yang bisa mencegah-Nya. Orang kafir boleh saja membuat makar yang sangat keras kepada dakwah Nabi saw, namun hal itu tidak sebanding dengan makar Allah swt terhadap mereka.