Hidup dengan Tujuan – Inspirasi al-Quran – Q.S. Al Mulk Ayat 22

Allah swt telah memberikan informasi tentang jalan lurus yang harus dilalui oleh manusia, supaya mereka bisa mendapatkan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Sayangnya, masih banyak orang yang tidak mau mengambilnya, dan lebih memilih jalan terjal, meskipun mereka sudah tahu konsekuensi yang akan mereka hadapi.

Hal ini bukan karena pemahaman kognitif mereka yang rendah tentang hal tersebut, tapi lebih pada aspek psikomotorik dan afektif, di mana mereka lebih mengindahkan hawa nafsu daripada akal sehat untuk mencerna kebenaran yang dibawakan oleh para utusan Allah di muka bumi.

Secara fitrah, kaum beriman memiliki arah dan tujuan yang jelas ketika menjalani kehidupan, karena semuanya telah dijelaskan dengan gamblang dalam al-Qur’an dan as-Sunnah; bahwasanya kita dilahirkan ke dunia semata-mata untuk beribadah kepada-Nya dan tugas kita adalah menjadi pengganti-Nya (khalifah) di muka bumi. Maka, orang mukmin akan berjalan dengan tegak menempuh perjalanan ini tanpa harus merangkak, tertatih dan memalingkan muka.

Sebaliknya, kaum kafir senantiasa diliputi oleh kebingungan, karena hidupnya didedikasikan untuk mencari jawaban tentang tujuan kehidupan yang tak pernah selesai. Pijakan mereka terbatas pada hal-hal empiris saja, yang mana hal itu tidak mungkin menjangkau tujuan hidup yang hakiki. Walhasil, perjalanan mereka di dunia menjadi tertatih-tatih, seringkali jatuh kembali setelah bangun. Penuh dekonstruksi yang meluluhlantakkan struktur yang telah dibangun dengan susah payah oleh para pendahulu.

Tentunya orang yang menempuh jalan lurus yang telah digariskan oleh Tuhan lebih memiliki kesempatan untuk hidup selamat dan bahagia baik di dunia maupun di akhirat dibandingkan mereka yang memilih jalan terjal. Namun tetap saja manusia tidak mau menuruti kata nuraninya. Semoga Allah swt senantiasa memberikan kita bimbingan dan hidayah menuju jalan yang diridainya. Amin. (*)

Inspirasi Ayat:

Al Mulk Ayat 22

أَفَمَنْ يَمْشِي مُكِبًّا عَلَىٰ وَجْهِهِ أَهْدَىٰ أَمَّنْ يَمْشِي سَوِيًّا عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?

Advertisements

Jalan Lurus vs. Jalan Berliku – Ulasan Kitab Tafsir – Q.S. Al-Mulk Ayat 22

Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?

Menurut Jalaluddin dan Jalaluddin ayat ini membandingkan antara kaum beriman dan kaum kafir – mana di antara mereka yang lebih layak untuk mendapatkan hidayah dari Allah swt. Dalam hal ini kaum kafir dianalogikan sebagai orang yang berjalan merangkak dengan wajah tertelungkup, sedangkan orang beriman dimisalkan sebagai orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus.

Buya Hamka mendeskripsikan orang kafir sebagai orang yang lupa dari mana dia datang, di mana dia sekarang dan ke mana perjalanan hidupnya ini akan diteruskannya. Dia berjalan di muka bumi sambil menjungkir balik, ataupun menelungkup; dan mukanya menghadap ke bumi. Orang seperti ini meskipun mencoba berdiri, dia akan terjatuh kembali karena kakinya linglung, menggigil menginjak bumi, karena tidak tahu ke mana akan diarahkan. Gambaran ini kontras dengan orang mukmin yang berjalan tegak lurus, langkah tetap, mata memandang ke muka, memikirkan tujuan yang jauh tetapi pasti dan tidak pernah mengencong ke luar garis yang ditentukan.

Dari gambaran di atas, dapat disimpulkan bahwa orang mukmin yang berjalan tegak lurus karena telah memiliki pegangan hidup akan lebih memiliki peluang untuk hidup selamat dan bahagia baik di dunia maupun di akhirat daripada orang kafir yang berjalan merangkak sambil menelungkup ke bumi karena tidak memiliki tujuan hidup.

Tafsir al-Qur’am terbitan Kementerian Agama RI menjelaskan bahwa perjalanan hidup orang-orang kafir itu adalah perjalanan hidup menuju kesengsaraan dan penderitaan yang sangat. Mereka akan mudah tersesat dalam perjalanannya mengarungi samudera hidup di dunia fana ini, sedang di akhirat kelak mereka akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebaliknya, orang-orang mukmin menempuh jalan yang baik dan lurus, yaitu jalan yang diridai Allah, tidak akan tersesat dalam perjalanan hidupnya di dunia ini dan pasti akan sampai kepada tujuan yang diinginkannya. Di akhirat nanti, mereka akan menempati surga yang penuh kenikmatan yang disediakan Allah bagi mereka yang bertakwa.(*)