Cahaya Iman

Tidak ada balasan bagi kekufuran, melainkan siksaan yang pedih di alam akhirat kelak. Allah s.w.t memastikan bahwa imbalan bagi orang-orang kafir ini pasti adanya dan tidak ada yang mampu menolaknya. Bahkan, dalam beberapa tafsir dikatakan bahwa tidak mungkin bagi Allah s.w.t untuk menangguhkan janjinya ini. Dalam Tafsir Mafatihul Ghoib, Fakhruddin Ar-Razi mengatakan, “Tidak mungkin pencegah azab itu berasal dari sisi Allah. Kebijaksanaan mewajibkan Allah untuk tidak mencegah datangnya azab bagi orang-orang kafir.” 

Allah s.w.t memang Maha Pemurah dan Penyayang, tapi Dia tidak memberikan toleransi bagi orang-orang yang menyekutukan-Nya atau mengingkari eksistensi-Nya. Memang, setiap makhluk diberikan kehendak bebas (free will) untuk taat atau tidak kepada aturan-Nya, akan tetapi hal itu dibarengi dengan resikonya. Bagi yang tidak taat, maka harus siap menerima konsekuensi azab yang berat, baik di dunia maupun di akhirat. 

Karena itulah, dalam Islam tauhid memiliki posisi kunci bagi keselamatan manusia. Orang bisa saja berbuat maksiat, dengan melanggar beberapa aturan yang telah ditetapkan, tapi kalau sudah menyangkut dengan tauhid maka tidak ada toleransi bagi dia untuk tidak mendapatkan azab yang telah dijanjikan.

Dalam doktrin teologi ahlusunnah wal jamaah, seberat apapun maksiat yang dilakukan oleh seorang hamba, kalau dia masih mengikat kuat tauhid di hatinya, maka hal itu masih bisa menyelematkan dia. Setelah perbuatan maksiatnya dibakar di neraka, maka dia bisa diangkat dan dimasukkan ke surga. 

Sebaliknya, sebaik apapun hal yang dia lakukan di dunia, apabila hal itu tidak diikat dengan kalimah tauhid maka akan sia-sia di mata Allah. “Kebaikan” tersebut tidak akan menyelamatkan dia dari keabadian siksa neraka. 

Tentu, ini tidak berkaitan dengan kebaikan dalam perspektif humanisme sekuler. Amalan-amalan baik yang dilakukan oleh para filantropis “kafir” tentu sangat bermanfaat dalam kacamata humanisme sekuler, karena membantu memperbaiki derajat hidup manusia di muka bumi. 

Sayangnya, dalam kacamata teologis, kebaikan-kebaikan tersebut akan sia-sia karena tidak ditimbang sebagai amal saleh di hadapan Allah. Yang paling penting, amalan tersebut tidak mampu menyelamatkan dia dari dahsyatnya api neraka.  

Semoga Allah swt senantiasa menjaga kita dalam naungan akidah yang kuat, sehingga bisa menunaikan amanat kehidupan ini sampai penghujung waktu.

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allâh sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

[Ali ‘Imrân/3:102]

Selamat merayakan Idul Fitri 1441 Hijriyah, semoga kasih Allah senantiasa menaungi kita. Aamiin.