Worldview Al-Qur’an 

BLOG Komunitas Al-Muhajirin dan beberapa derivasinya berperan sebagai ikhtiar untuk memahami konsep dan ajaran Al-Qur’an tentang kehidupan dan manusia. Alhamdulillah, dengan izin dari Allah, proyek ini sudah berjalan cukup lama dan setiap waktu struktur dan sistematikanya terus disempurnakan, agar dapat menghasilkan pemahaman yang utuh dan komprehensif. 

Kami yakin, pola yang telah kami terapkan dalam program ini tidak akan mengarah pada pemahaman keagamaan yang salah, karena kami melakukan triangulasi data dengan memvalidasi beberapa pendapat para ulama yang tersebar dalam buku-buku tafsir mu’tabaroh. Ke depan, triangulasi ini Insya Allah akan kami perkuat dengan berkonsultasi dengan beberapa ulama, asaatidz, dan elemen lainnya yang memiliki pemahaman keagamaan yang otoritatif dan sanad keilmuan yang menyambung langsung kepada Rasulullah saw, sehingga apa yang kami hasilkan dalam proyek ini sesuai dengan pemahaman para salafus shalih dalam koridor ahlussunnah wal jamaah. 

Lalu, muncul pertanyaan, untuk apa kami bersusah payah melakukan proyek ini? Apakah mungkin, kita dapat mengembangkan apa yang namanya worldview Al-Qur’an yang dapat menjadi landasan dalam konstruksi ilmu-ilmu pengetahuan kontemporer? Apakah dengan memilih Al-Qur’an sebagai sumber pandangan hidup, tidak menjadikan pemikiran kita picik? 

Lalu, muncul pertanyaan, untuk apa kami bersusah payah melakukan proyek ini? Apakah mungkin, kita dapat mengembangkan apa yang namanya worldview Al-Qur’an yang dapat menjadi landasan dalam konstruksi ilmu-ilmu pengetahuan kontemporer? Apakah dengan memilih Al-Qur’an sebagai sumber pandangan hidup, tidak menjadikan pemikiran kita picik?

Mungkin, ada kekhawatiran jika bacaan kita terbatas pada kajian Al-Qur’an, epistemologi keilmuan akan “dikerangkeng” oleh paradigma Al-Qur’an yang berimplikasi pada corak pemikiran yang picik dan konservatif, dan tidak mampu memberikan sumbangan yang berarti dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Misalnya, di negara Arab Saudi, dikembangkan model pengembangan keilmuan seperti ini – di mana kajian sains dibedah dalam framework pembuktian kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an – akan tetapi itu tidak menjadikan Arab Saudi sebagai pusat ilmu pengetahuan dunia. Yang ada adalah pembatasan kajian ilmiah dengan apa yang ada dalam Al-Qur’an. Padahal, menurut sebagai ulama, Al-Qur’an bukanlah kitab ensiklopedi kehidupan, yang membahas semua kejadian yang ada di dunia. 

Dalam hemat kami kekhawatiran ini tidak akan terbukti, mengingat Al-Qur’an dan ajaran-ajaran Islam secara umum tidaklah menyajikan pandangan-pandangan terkait kehidupan yang bersifat rinci, sehingga menjadikan kajian keilmuan menjadi sangat terbatas. Al-Qur’an hanya memberikan rambu-rambu umum dan prinsip-prinsip tentang kehidupan, sehingga hal ini bisa membuat kajian dalam proyek ini sesuai dengan tradisi keilmuan pada setiap disiplin ilmu. Program ini bisa menjadi “eksperimen” bagaimana disiplin ilmu keahlian tim redaksi akan dipadu-padankan dengan pemaham terhadap ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan al-Hadits, serta pendapat para ulama yang otoritatif. 

Dengan model seperti ini, kami berharap blog ini bisa menjadi masagi, yang berupaya menghadirkan integrasi ilmu-ilmu agama dan ilmu kontemporer sehingga menjadikan kami dan para pembaca sekalian lebih dekat lagi dengan keagungan karya Tuhan di muka bumi. [] 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s