Ukuran Kemuliaan 

Kemuliaan (Ilustrasi)/Pinterest

Dalam Islam, kelapangan harta tidak mesti ekuivalen dengan kemuliaan. Bisa jadi keadaan tersebut justru menjadi alat bagi Allah untuk “menjerumuskan” manusia-manusia pembangkang pada jurang kehinaan. Hal ini tertutama ditujukkan bagi orang-orang yang enggan mengakui kebesaran Tuhan, meskipun telah dianugerahi oleh-Nya kenikmatan yang sangat besar. 

Apalagi, misalnya, kelapangan harta yang kita miliki malah dijadikan sebagai alat untuk “melawan” Allah, yaitu dengan berbuat makar kepada-Nya, mendustakan ajaran-Nya dan menzalimi orang-orang yang mengikuti syariat-Nya. Alih-alih mensyukuri semua karunia, kita malah menghalang-halangi dakwah Islam, menyerang orang-orang yang mempromosikan syariat Islam di muka bumi, dan memfitnah mereka dengan tuduhan yang keji. 

Dengan dalih tradisi, kita menolak ajakan untuk mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW dan syariat yang dibawa oleh beliau. Padahal sudah mafhum bahwa ajaran Islam tidak hendak menginvasi budaya lokal. Selagi tidak mengandung aspek syirik, tradisi lokal dapat berjalan bergandengan dengan syariat Islam. 

Walhasil, dalam perspektif seorang mukmin, sangat tidak elok jika kita mengukur kemuliaan dan kehinaan dengan banyaknya harta yang dimiliki selama hidup dunia. Patokan yang benar adalah sejauh mana kita bisa taat dan tunduk kepada-Nya. Jika kita memiliki banyak harta dan memanfaatkannya untuk ketaatan, maka, Insya Allah hal itu adalah kemuliaan. Sebaliknya, jika kita dititipi harta dan menggunakannya untuk membangkang kepada-Nya, maka sudah dipastikan itu adalah kehinaan. Wallahu a’lam.  

Inspirasi Ayat Al-Qur’an 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s