Semesta Penjemput Hidayah

Semesta penjemput hidayah (Pinterest).

ALLAH menggambarkan kompleksitas penciptaan alam semesta dalam berbagai ayat Al-Qur’an bertujuan untuk membuka mata umat manusia bahwa Dia ada seiring dengan kemungkinan wujudnya semesta. Jadi output yang diharapkan dari narasi ini adalah terbukanya pikiran manusia bahwa Tuhan memang ada dan kesadaran ini akan membawa mereka untuk secara sukarela beriman kepada-Nya. 

Namun dalam kenyataannya, banyak para saintis (dan diikuti oleh banyak orang awam) yang sehari-hari bergumul dengan proses kerja semesta baik bagian atas (luar angkasa, bumi dan seisinya) ataupun bagian bawah (penciptaan manusia) justru menolak eksistensi Tuhan dan berpikir bahwa semesta memiliki caranya tersendiri untuk mengada (to exist) dan tak perlu campur tangan zat lain (baca: Tuhan) untuk mengurus dirinya sendiri. 

Meskipun begitu kedua argumen (alam semesta diciptakan dan diatur oleh Tuhan vs.  keyakinan sebaliknya) memiliki landasan-landasan filosofis yang sama kaya dan dikembangkan oleh para filsuf dari kedua belah pihak. Dewasa ini sudah sangat banyak ulasan yang membahas kemungkinan adanya campur tangan Tuhan dalam penciptaan alam semesta seperti halnya bahasan yang menentang hal itu telah beredar lebih awal dan masif terutama paska era aufklarung di negeri-negeri Eropa. 

Tentunya kita tidak menafikan peran hidayah yang memang bersifat eksklusif dari Tuhan Al-Hadiy. Akan tetapi sebaiknya kita mengambil ibrah dalam fenomena ini, yaitu pentingnya memiliki niat yang baik dan tulus ketika hendak mempelajari alam semesta. 

Seorang pembelajar alam semesta sebaiknya tidak bersifat netral ketika belajar, akan tetapi meniatkannya untuk menggali keagungan Tuhan. Upaya ini harus terus disampaikan terutama di lembaga-lembaga pendidikan agar anak-anak kita tidak tersesat ketika menapaki dunia ilmu yang sangat luas. Inilah urgensi doa sebelum belajar agar kita mendapatkan manisnya buah belajar, bukan racunnya. 

Tentunya, proses ini tidak akan menghambat kemajuan ilmu pengetahuan. Banyak ahli berpendapat bahwa aspek kepentingan politis (dalam hal ini motif agama) akan menghambat manusia mencapai puncak peradaban, karena mereka tidak dibebani oleh hal-hal yang bersifat primordial. Dalam pandangan saya hal ini tidak akan terjadi karena Al-Qur’an tidak mengintervensi fakta alam. Al-Qur’an tidak mungkin menceritakan bahwa bumi itu datar, sedangkan fakta empiris berkata sebaliknya. Ayat suci mustahil berkata bahwa matahari terbit dari barat, padahal kenyataan menunjukan sebaliknya. 

Lalu bagaimana dengan cerita-cerita “irasional” yang ada di dalam Al-Qur’an, seperti Nabi Ibrahim yang tahan terhadap panasnya api, Nabi Musa yang bisa membelah lautan, Nabi Sulaiman yang mampu bercakap-cakap dengan hewan? Ini bukanlah perlawanan terhadap hukum alam, akan tetapi ejawantahan kekuasaan Tuhan yang tidak terbatas. Menurut hukum alam, panas api dapat membakar tubuh manusia, akan tetapi sejatinya yang menyebabkan hal itu adalah Allah. Maka, dalam konteks ini Allah bisa saja membelokkan hal tersebut pada akibat sebaliknya. 

Toh, sekarang juga kita paham bahwasanya empirisme dan positivisme bukanlah satu-satunya alat untuk menjelaskan kebenaran yang ada di dunia. Ada banyak saluran-saluran lain yang bisa kita gunakan untuk memahami kebenaran, salah satunya adalah khabar sadiq yang biasa kita temukan dari penjelasan kitab suci. [] 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s