Penjelasan Tafsir Jalalain Q.S. Nuh ayat 5 – 20 (Bagian Kedua): Minta Ampunlah kepada Tuhanmu, Sesungguhnya Dia Maha Pengampun

10. maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-,

11. niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,

12. dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.

13. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?

14. Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian.

15. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?

16. Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?

17. Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya,

18. kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya.

19. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan,

20. supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu”.

 10. (Maka aku katakan, "Mohonlah ampun kepada Rabb kalian) dari kemusyrikan kalian (sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.")

Salah satu kecintaan Nabi Nuh a.s. kepada kaumnya adalah permintaannya kepada mereka untuk beristighfar dan bertobat dengan cara beriman dan bertakwa kepada-Nya. Istighfar menjadi wasilah agar terhindar dari wabah dan hal-hal yang buruk yang mungkin menimpa. 

Menurut beberapa sumber seperti yang diceritakan oleh Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi saat itu umat Nabi Nuh sedang ditimpa musibah berupa kekeringan yang berkepanjangan dan rendahnya fertilitas perempuan yang berimplikasi pada kesulitan untuk mendapatkan keturunan. Allah s.w.t. – melalui perantara rasul-Nya, Nuh a.s. – kemudian menawarkan kepada mereka untuk beriman dan beristighfar. Sebagai konsekuensinya, mereka akan diturunkan hujan dan dikaruniai harta dan keturunan yang banyak – yang mana hal tersebut menjadi sesuatu hal yang sangat mahal untuk mereka dapatkan pada saat itu. 

Menurut Prof. Wahbah Zuḥaylī ayat ini menyiratkan bahwa keimanan dan istighfar bisa menjadi media untuk terhindar dari segala marabahaya. Hal ini diafirmasi oleh Buya Hamka yang menulis, “Jika Tuhan telah memberikan ampunan, maka pekerjaan menjadi serba mudah dan dada menjadi lapang, terang benderang. Allah juga akan memberikan kemakmuran.” 

11. (Niscaya Dia akan mengirimkan hujan) pada saat itu mereka sedang mengalami kekeringan karena terlalu lama tidak ada hujan (kepada kalian dengan lebat) dengan deras. [] 12. (Dan membanyakkan harta dan anak-anak kalian dan mengadakan untuk kalian kebun-kebun) ladang-ladang (dan mengadakan pula bagi kalian sungai-sungai) yang mengalir di dalamnya. 

Seperti yang telah diungkap di atas, Allah s.w.t. menimpakan bencana kepada kaum Nabi Nuh berupa kekeringan yang berkepanjangan, tingkat fertilitas perempuan yang rendah dan kerusakan aset dan harta. Lalu Allah menjanjikan mereka agar bisa keluar dari bencana ini, asal mereka mau kembali kepada ajaran tauhid.  

Menurut Prof. Wahbah Zuḥaylī turunnya hujan berarti awal dari munculnya kebaikan-kebaikan yang lain seperti tumbuhnya kayu-kayuan, buah-buahan, air yang melimpah dan lain sebagainya. Dengan turunnya hujan, maka akan timbul ketenangan, kebahagiaan dan ketentraman, sehingga berimbas pada kesehatan reproduksi perempuan. Dengan begitu, masyarakat bisa terhindar dari bencana yang berkepanjangan. 

Lebih jauh Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi mengungkapkan bahwa akan ada empat hal yang Allah janjikan ketika kaum Nabi Nuh ber-istighfar dan bertobat serta turunnya hujan sebagai imbalan atas perbuatan mereka tersebut. Keempat hal itu adalah: 

  1. harta yang melimpah, 
  2. keturunan yang banyak, 
  3. kebun-kebun yang rindang dan, 
  4. sungai yang dialiri air yang deras.

Lalu apa hubungan antara istighfar dengan turunnya hujan? Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi mengungkapkan bahwa Allah seringkali men-ta’liq hujan dengan istighfar. Lihat penjelasan Allah dalam ayat lainnya: 

Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa”. Q.S. Hud ayat 52 

Allah adalah satu-satunya Zat yang memiliki kuasa untuk menurunkan hujan. Meskipun awan sudah mendung, dan menurut ilmu alam itu adalah pertanda akan turunnya hujan, namun jika Allah tidak berkehendak, maka hujan tidak akan pernah turun. Kita sering menemukan anomali seperti ini dalam kehidupan sehari-hari. 

Tentunya ini tidak serta merta membuat kita anti-sains. Atau beranggapan bahwa sains dapat menjerumuskan anak-anak kita pada kesyirikan. Secara syariat, hukum alam bekerja sesuai dengan fungsinya, tapi secara hakikat, hanya Allah lah yang memiliki kuasa untuk menggerakkannya. 

Dalam beberapa keterangan Al-Qur’an, seperti yang sudah dipaparkan di atas, Allah berjanji untuk menurunkan hujan jika manusia mau beristighfar kepada-Nya. Maka dari itu, dianjurkan bagi umat manusia untuk beristighfar ketika hendak melakukan shalat minta hujan (istisqa’) karena jika Allah berkehendak, maka sangat mudah bagi Dia untuk menurunkan hujan bagi seluruh umat manusia di dunia. 

Setelah Allah mengungkapkan dakwah targhib di ayat-ayat sebelumnya, Dia melanjutkannya dengan dakwah tarhib. Menurut Ibnu Katsir, pada bagian pertama, Allah menjanjikan hal-hal yang baik berupa limpahan rezeki yang banyak yang berasal dari hujan yang turun dengan deras (midror), di bagian selanjutnya Dia mempertanyakan umat manusia kenapa tidak mengagungkan-Nya, padahal Allah memiliki azab yang sangat pedih. 

13. (Mengapa kalian tidak mengharapkan keagungan dari Allah?) tidak mengharapkan Allah mengangkat derajat kalian, agar kalian beriman kepada-Nya.

Di ayat ini, Allah mempertanyakan keengganan manusia untuk mengagungkan-Nya (dengan beriman kepada-Nya). Pertanyaan ini dilanjutkan dengan penyebutan beberapa bukti keagungan Allah melalui mahakarya ciptaan-Nya yang sangat sempurna; dari proses penciptaan manusia sampai refleksi penciptaan bumi yang menghampar sangat luas. Fakhruddin Ar-Razi mengutip pendapat ulama tafsir mu’tazilah Zamakhsyari mengatakan bahwa ayat ini dan ayat-ayat pendukung setelahnya dapat menjadi dalil naqli dari eksistensi dan keesaan Allah yang dinisbatkan pada pengamatan pada diri manusia, dan penciptaan alam lainnya. 

Ahmad Ibn Muhammad Al-Showi Al-Maliki menilai bahwa ayat ini adalah anjuran untuk beriman dan taat dengan harapan mendapatkan ganjaran dari Allah s.w.t. Keinginan ini tidak akan terlepas dari rasa cinta kepada Zat tersebut, maka hal itu tidak mungkin didapat kecuali dengan keimanan dan ketaatan. 

Lebih jauh, Asy-Sya’rawi melihat bahwa jika manusia belum beriman, berarti mereka belum memberikan hak seutuhnya kepada Allah. Jika saja mereka tahu betapa agung dan hebatnya Sang Pencipta, maka mereka tidak akan berpikir lama untuk memberikan hak ini sepenuhnya kepada Allah s.w.t. 

Self-claim Allah akan keagungan-Nya yang diiringi dengan penyebutan ciptaan-Nya yang sempurna dilakukan oleh Allah pada ayat-ayat lain. Tujuannya adalah untuk memberi pemahaman manusia akan kadar mereka, sehingga mau untuk beriman kepada-Nya. 

Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Q.S. Al-Hajj ayat 74 

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. Q.S. Az-Zumar ayat 67 

14. (Padahal sesungguhnya Dia telah menciptakan kalian dalam beberapa tingkatan kejadian) lafal athwaaran bentuk jamak dari lafal thaurun, artinya tahap; yakni mulai dari tahap air mani terus menjadi darah kental atau alaqah, hingga menjadi manusia yang sempurna bentuknya. Dan memperhatikan kejadian makhluk-Nya seharusnya menuntun mereka iman kepada yang telah menciptakannya.

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan salah satu bukti dari keagungan-Nya, yaitu proses penciptaan manusia yang melalui beberapa tahapan. Menurut As-Sya’rawi atwar adalah bentuk jamak dari tour, yang menandakan bahwa Allah menciptakan manusia dari satu keadaan ke keadaan yang lain. Kemudian, dalam ayat lain Dia menjelaskan bahwa tahapan itu meliputi: air mani (nuthfah), segumpal darah kental (alaqoh), segumpal daging (mudghoh), tulang belulang (izham), dan daging (lahm). Lalu terbentuklah janin yang bentuknya indah dan sempurna. 

Dalam Q.S. Al-Mu’minun ayat 14, Allah menjelaskan, 

Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Kompleksitas proses penciptaan manusia seperti yang tergambar dalam ayat ini seharusnya membuat manusia sadar akan posisinya dan melangkah ke arah keimanan. 

15. (Tidakkah kalian perhatikan) kalian lihat (bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?) sebagian di antaranya berada di atas sebagian yang lain.

Dalam ayat ini, Prof. Wahbah Zuḥaylī mengungkapkan bahwa Allah sedang memaparkan keagungan ciptaan-Nya dari alam semesta bagian atas, yaitu penciptaan langit yang bertingkat-tingkat, akan tetapi tidak saling bertabrakan satu sama lain. 

Yang menjadi poin unik dari penciptaan ini menurut Ahmad Ibn Muhammad Al-Showi Al-Maliki adalah bagaimana penciptaan langit yang bertumpuk itu mungkin terjadi tanpa saling bertabrakan satu sama lain. Ini menurut Buya Hamka menunjukan kreasi Allah yang sangat agung dan bukti akan kebesaran Allah, dan tidak dapat ditandingi oleh siapapun dari makhluk-Nya. 

Lebih jauh, Buya Hamka menyoroti penggunaan frasa penciptaan langit sejumlah 7 tingkat. Menurut beliau, tidak ada satu penafsiran pun yang presisi tentang maksud dari frasa ini, apakah yang dimaksud dari langit ini adalah lapisan atmosfer, atau galaksi atau sesuatu yang lain. Yang harus menjadi kepastian adalah kita benar-benar harus percaya akan hakikat makna yang terkandung dalam ayat ini. 

16. (Dan Allah menciptakan padanya bulan) yaitu pada langit yang paling terdekat di antara keseluruhan langit itu (sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?) yang memancarkan sinar terang yang jauh lebih kuat daripada sinar bulan.

Setelah Nuh mengambil perhatian kaumnya dengan cerita tentang kedahsyatan penciptaan langit, dia mengajak mereka kembali berpikir tentang bagaimana Tuhan menciptakan bulan sebagai cahaya dan matahari bak pelita di antara makhluk-makhluk-Nya yang lain. 

As-Sya’rawi melihat bahwa matahari adalah pelita dan sinar sekaligus. Beliau menyitir ayat lainnya yang berbunyi, “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya …” (Q.S. Yunus ayat 5). Sedangkan bulan disebut sebagai cahaya dalam kedua ayat di atas. 

Lebih lanjut As-Sya’rawi menjelaskan perbedaan antara pelita (siraj) dan cahaya (nur); pelita mencakup panas dan sinar, untuk itulah kita membutuhkan tempat untuk berteduh dari panasnya matahari. Sedangkan cahaya yang dipancarkan oleh bulan tidak mewajibkan kita untuk berteduh, karena memang dia tidak memancarkan panas. 

Panas tidak akan muncul kecuali memiliki cahaya yang terpancar dari zatnya sendiri seperti halnya matahari, sedangkan bulan cahayanya bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan merupakan pancaran dari matahari, seperti halnya cermin yang memendarkan cahaya dari lampu. 

Dan Allah s.w.t. mensifati matahari sebagai pelita, yang memancarkan sinar dan panas sekaligus yang berasal dari dirinya sendiri. 

17. (Dan Allah menumbuhkan kalian) Dia telah menciptakan kalian (dari tanah) karena Dia telah menciptakan bapak moyang kalian, yaitu Nabi Adam daripadanya (dengan sebaik-baiknya.) [] 18. (Kemudian Dia mengembalikan kalian ke dalam tanah) dalam keadaan terkubur di dalamnya (dan mengeluarkan kalian) dari dalamnya menjadi hidup kembali pada hari kiamat (dengan sebenar-benarnya.)

Menurut keterangan Al-Quran, manusia diciptakan oleh Allah dari unsur tanah. Bak tanaman, dia lahir, tumbuh, menua dan kembali mati ke dalam tanah. Begitu juga manusia, dia lahir dari unsur tanah, dan ketika saatnya tiba akan kembali ke dalam tanah jua. 

Prof. Wahbah Zuḥaylī mengatakan bahwa penggunakan kata “menumbuhkan (anbata)” bermakna menciptakan. Allah meminjam istilah “anbata” yang biasa digunakan untuk merujuk pertumbuhan tanaman. 

Sebagaimana mafhum, bahwa manusia tercipta dari gumpalan mani yang berasal dari hubungan suami dan istri. Mani tersebut dihasilkan dari proses ekstraksi makanan. Dan makanan jika ditilik lebih jauh berasal dari tanah. 

Allah menciptakan manusia dari tanah, dan menjadikannya tumbuh dan berkembang seperti halnya tanaman. Pertumbuhan manusia sangat bergantung pada makanan dari tanah (hewan dan tumbuhan). Setelah itu, mereka akan kembali lagi ke tanah dan menjadi debu di dalam kuburan. Pada akhirnya, di hari kiamat mereka akan akan dibangkitkan lagi secara langsung, tidak berangsur.   

Terkait kemungkinan bangkitnya manusia di alam akhirat, Asy-Sya’rawi menilai Al-Qur’an menjelaskannya dengan sangat baik. Manusia diajak untuk berpikir, apabila mereka ragu dengan penciptaan kedua, maka lihatlah bagaimana alam semesta ini diciptakan dari ketiadaan. Allah Maha Kuasa untuk melakukan itu. Dalam Q.S. Qaf ayat 15, Allah s.w.t. bersabda, “Maka apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama? Sebenarnya mereka dalam keadaan ragu-ragu tentang penciptaan yang baru.” 

19. (Dan Allah menjadikan bagi kalian bumi sebagai hamparan) yakni dalam keadaan terhampar. [] 20. (Supaya kalian menempuh padanya jalan-jalan) atau menempuh jalan-jalan (yang luas.") yang lebar.

Di antara nikmat Allah kepada makhluk-Nya adalah Dia telah menjadikan bumi terhampar dengan sangat luas seperti halnya karpet, dan Dia menancapkan gunung-gunung sebagai pasak, sehingga manusia bisa berjalan di atasnya untuk mencari rezeki dan kehidupan. 

Menurut Asy-Sya’rawi, melalui ayat ini Allah ingin mengingatkan kaum Nabi Nuh akan salah satu nikmat-Nya, yaitu penciptaan bumi yang menghampar luas bak karpet, sehingga mereka bisa tinggal dan mencari rezeki di atasnya. 

Jika saja bumi ini tidak diciptakan demikian, maka akan sangat sulit dan payah bagi manusia untuk mencari rezeki, seperti halnya mereka yang tinggal di tempat ekstrem seperti kutub, gurun pasir dan yang lainnya. []  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s