Ayat-ayat Semesta

Alam semesta (Pinterest)

Sinopsis

Di dalam Al-Quran terdapat ayat-ayat yang membicarakan alam semesta. Tujuannya adalah untuk menggugah akal para pembaca agar kagum terhadap kesempurnaan ciptaan Tuhan sehingga akan muncul benih-benih keimanan. Namun, para ulama berbeda pendapat bagaimana menyikapi ayat-ayat tersebut; apakah mereka bisa dijadikan sumber ilmu pengetahuan? Atau tidak boleh, karena ilmu pengetahuan sifatnya dinamis, sehingga bisa jadi kebenaran sekarang dikoreksi di kemudian hari? Jika begitu, apakah kredibilitas Al-Quran kemudian akan dipertanyakan? Lalu, bagaimana jika terdapat kontradiksi antara penafsiran keliru tentang Al-Quran dengan temuan ilmiah yang sudah disepakati secara umum, seperti pada kasus bumi datar (flat earth)?

Al-Quran mengandung banyak ayat yang menggambarkan alam semesta, keindahannya dan cara dia bekerja. Seringkali deskripsi ini dimaksudkan untuk menunjukan keagungan Sang Pencipta, sehingga diharapkan dengan tadabbur ini, manusia bisa hijrah kepada jalan keimanan. 

Kita ambil contoh. Di surat Q.S. Nuh ayat 13, Allah menanyakan kenapa kaum Nabi Nuh enggan memuliakan Allah dengan beriman kepada-Nya, padahal Dia memiliki semua persyaratan untuk dimuliakan. Lalu, dijelaskan di ayat-ayat berikutnya, kekuasaan Allah yang maha sempurna seperti proses penciptaan manusia; penciptaan langit, matahari, dan bulan; penciptaan tumbuhan dan hikmah di balik penciptaan bumi yang terbentang luas. Semua ini dimaksudkan agar mereka yakin akan keagungan Tuhan dengan memikirkan kesempurnaan ciptaan-Nya.  

Baca juga: Q.S. Nuh ayat 13-20, Ciptaan Tuhan Membawa kepada Keimanan

Beberapa ulama mencoba menjadikan informasi yang mereka dapat dari Al-Quran tentang gambaran alam semesta sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan. Lalu, dibuatlah penyelidikan ilmiah yang tujuan utamanya menjustifikasi kebenaran informasi yang termaktub dalam Al-Quran, sehingga diharapkan hal ini bisa menjadi bukti akan kebenaran Al-Quran. 

Salah satu ilmuwan yang memilih cara ini adalah Prof Agus Purwanto, pakar fisika teoretis ITS yang sekarang mengembangkan Pesantren Trensains di beberapa tempat. Beliau mengembangkan teori-teori fisika dengan pijakan nash Al-Quran. Dalam kata pengantar buku Ayat-Ayat Semesta beliau menulis, “Penulis secara pribadi berharap dapat semakin mantap mengembangkan fisika teori setelah mendapat basis pijakan nash-nash dari Kitab Suci seperti tertuang dalam buku ini.”

Metode ini memiliki kelemahan; salah satunya adalah bahwa ilmu pengetahuan itu berkembang dan dinamis. Bisa jadi apa yang jadi kebenaran pada hari ini akan berubah di masa yang akan datang. Itu artinya, kebenaran tentang Al-Quran bisa berubah seiring dengan berubahnya kriteria kebenaran. Menurut pendapat sebagian ulama ini sangat berbahaya karena akan merusak kredibilitas Al-Quran.

Baca juga: Tadabbur Penciptaan Alam Semesta

Di sisi lain, ada beberapa hal yang dipahami oleh sebagian orang dari Al-Quran kontradiktif dengan kebenaran ilmiah yang disepakati secara umum. Misalnya, sebagian orang dengan pijakan dalil Al-Quran berpendapat bahwa bumi itu datar. Padahal sudah jelas secara empiris bahwa bumi itu bulat. Hal ini justru menjadi bumerang bagi keagungan Al-Quran. 

Ada juga yang bilang, jika informasi yang ada di Al-Quran tidak sesuai dengan kebenaran yang disepakati manusia pada hari ini, bisa jadi pemahaman kita terhadap ayat Al-Quran itu kurang tepat, seperti halnya pendapat sebagian orang tadi yang menganggap bumi itu datar.

Lalu bagaimana dengan pendapat saya? Saya sendiri belum begitu memahami terkait topik ini, sehingga belum bisa memberikan pendapat. Namun yang pasti, saya meyakini apa yang disampaikan oleh Allah swt di dalam Al-Quran terkait gambaran alam semesta benar adanya. Akan tetapi, pemahaman mutlak akan topik ini semuanya kembali kepada Allah. Kita dengan segala sumber yang kita miliki hanya mampu memahami sesuai dengan kadar yang kita miliki. 

Namun, saya berpendapat bahwa kita tidak boleh lupa akan hikmah di balik penjelasan Al-Quran tentang alam semesta. Seperti yang saya kutip di muka, bahwa seringkali Allah menggambarkan kesempurnaan ciptaan-Nya untuk mengajak umat manusia berpikir bahwa hanya Allah lah yang layak disembah, bukan makhluk yang sangat lemah. 

Saat ini di sekolah-sekolah sekuler – bahkan di sebagian sekolah Muslim juga – pembelajaran sains tidak mengambil peran seperti apa yang dilakukan oleh Al-Quran; bahwa selepas para siswa mengkaji alam semesta, akan muncul keimanan yang kuat. Justru dalam beberapa kasus pembelajaran sains melahirkan kekufuran karena memang ada gerakan masif ke arah sana seperti yang digagas oleh biolog berkebangsaan Inggris, Richards Dawkins. Melalui inisiatifnya di Richard Dawkins Foundation for Reason and Science (RDFRS), Dawkins membiayai penelitian dalam bidang psikologi kepercayaan dan agama, membiayai program pendidikan sains di sekolah dalam kerangka menjauhkan sains dari agama. Wallahu a’lam. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s