Jalan Ruhani seorang Pendidik: Belajar dari Kisah Nabi Nuh a.s.

Ilmuwan abad pertengahan (Pinterest)

Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang,

maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).

Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.

Q.S. Nuh ayat 5 – 7

….

DARI perjalanan dakwah Nuh a.s. kita bisa belajar bahwasanya seorang guru hendaknya memiliki relasi khusus dengan Tuhannya, di saat menjalankan misi mencerdaskan anak bangsa. 

Dulu Nabi Nuh a.s. sering mengadukan permasalahannya kepada Allah s.w.t ketika beliau merasa sudah sangat maksimal dalam mengemban tugas dakwah, akan tetapi kaumnya tidak juga mau mengikuti ajakan untuk beriman. Segala cara telah beliau lakukan, baik dengan dakwah sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Membujuk kaumnya dengan targhib dan mengancam dengan tarhib, sampai mengajak mereka berpikir dengan menghadirkan kekuasaan Allah s.w.t melalui ciptaan-Nya. Tapi sayang, umatnya tetap bergeming dalam kekufuran, dan yang bisa dilakukan oleh Nuh hanyalah mengadukan hal ini kepada Sang Maha Kuasa. 

Betapa tidak, perjuangan seorang pendidik dalam mendidik anak-anaknya seringkali dipenuhi dengan cabaran, tantangan dan cemoohan serupa. Niat baik dan ajakan kepada jalan kebenaran, seringkali dibalas dengan kenakalan, ketidakpatuhan, bahkan serangan baik secara fisik maupun non-fisik. Jika hanya mengandalkan rasio saja, tentu perjuangan ini akan sangat melelahkan. 

Apalagi perjuangan ini seringkali tidak menjanjikan orang yang menekuni profesi ini dengan gemerlap dunia, seperti halnya yang ditawarkan oleh dunia hiburan, wirausaha atau lapangan kehidupan lainnya. Di beberapa lembaga pendidikan, sekolah hanya “menghargai” jerih payah perjuangan para pendidik dengan lembaran uang berwarna merah yang seringkali tidak mencukupi untuk menjaga dapur rumah ngebul

Maka sudah menjadi keharusan bagi seorang guru untuk senantiasa memperbaiki dan meningkatkan relasi personal dia dengan Tuhannya, sebagai satu-satunya Zat yang menjadi tempat kembali dan mengadukan semua permasalahan. Anak-anak yang nakal, kesejahteraan yang minim, fasilitas yang kurang dan sederet permasalahan lainnya hendaknya dikembalikan kepada Tuhan, sambil tetap berikhtiar untuk mencari jalan keluar dari semua permasalahan. 

Seorang guru haruslah memiliki tirakat khusus, entah itu berbentuk dawam tahajjud dan dhuha, bacaan zikir khusus, sedekah rutin, manaqiban, bacaan al-ma’tusrat, dan lain-lain yang dapat membantu meningkatkan spiritualitasnya, sehingga – sedikit banyak – meringankan beban di pundak. Termasuk doa khusus di sepertiga malam yang ditujukan bagi kesuksesan anak didik, kemudahan dalam berjuang, dan ridha dari Allah yang mengiringi lika-liku perjuangan. 

Langkah ini diharapkan dapat menjadi energi positif yang akan menguatkan setiap langkah dalam menghadapi perjuangan di medan pendidikan. [] 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s