Jalan Ruhani seorang Pendidik: Belajar dari Kisah Nabi Nuh a.s.

Ilmuwan abad pertengahan (Pinterest)

Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang,

maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).

Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.

Q.S. Nuh ayat 5 – 7

….

DARI perjalanan dakwah Nuh a.s. kita bisa belajar bahwasanya seorang guru hendaknya memiliki relasi khusus dengan Tuhannya, di saat menjalankan misi mencerdaskan anak bangsa. 

Dulu Nabi Nuh a.s. sering mengadukan permasalahannya kepada Allah s.w.t ketika beliau merasa sudah sangat maksimal dalam mengemban tugas dakwah, akan tetapi kaumnya tidak juga mau mengikuti ajakan untuk beriman. Segala cara telah beliau lakukan, baik dengan dakwah sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Membujuk kaumnya dengan targhib dan mengancam dengan tarhib, sampai mengajak mereka berpikir dengan menghadirkan kekuasaan Allah s.w.t melalui ciptaan-Nya. Tapi sayang, umatnya tetap bergeming dalam kekufuran, dan yang bisa dilakukan oleh Nuh hanyalah mengadukan hal ini kepada Sang Maha Kuasa. 

Continue reading