Peserta Didik Sebagai Subjek dalam Proses Pendidikan: Perspektif Alquran

XIR218738 Ms 1671 A Shop Selling Different Merchandise, c.1580 (gouache on paper) by Islamic School, (16th century); Museo Correr, Venice, Italy; (add.info.: boutique avec toutes sortes de marchandises; street scene in Constantinople; Istanbul; market; merchant; ); out of copyright

SAAT ini, wacana pendidikan arus utama mendorong para pendidik untuk memosisikan peserta didik sebagai subjek aktif dalam proses pendidikan, bukan objek pasif. Beberapa istilah muncul dalam konteks ini, seperti Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), student-centered learning, dan terma-terma lainnya yang mengindikasikan peran aktif peserta didik dalam proses pembelajaran. 

Yang terbaru, di Indonesia, dalam penerapan Kurikulum 2013, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mendorong para pendidik untuk menggunakan scientific approach sebagai pendekatan utama dalam kegiatan belajar mengajar. Pendekatan ini mengharuskan para siswa untuk aktif dalam menemukan (discover/inquire) poin-poin pengetahuan yang disampaikan di dalam kelas melalui kegiatan-kegiatan seperti bertanya, observasi, reasoning, dan menyimpulkan. Siswa tidak lagi dianggap sebagai gelas kosong yang diisi teko yang kemungkinan akan mbudal ketika gelas itu sudah penuh. 

Di beberapa lembaga pendidikan (misalnya pesantren) pelibatan siswa dalam proses pendidikan dilaksanakan dengan kadar yang lebih tinggi. Pembelajaran aktif tidak hanya berlangsung di dalam kelas, akan tetapi juga di luar kelas, terutama berkaitan dengan pengelolaan kehidupan santri selama 24 jam. Para santri sudah terbiasa untuk memikirkan bagaimana proses pendidikan di pesantren bisa berjalan, tentunya dengan bimbingan intensif dari guru yang lebih senior. 

Sistem pendidikan model ini memaksa santri untuk memiliki pola pikir bukan hanya sebagai peserta didik akan tetapi juga sebagai pendidik. Pembentukan pola pikir ini diharapkan dapat membuat sikap kritis dan kedewasaan siswa ketika mereka mengikuti proses pendidikan di pondok pesantren. 

Bayangkan, anda menjadi seorang murid di dalam kelas. Karena anda sudah pernah mengalami proses menjadi seorang pendidik – dalam keterlibatan-keterlibatan di setiap kegiatan sekolah – tentunya anda telah mengetahui rahasia-rahasia di balik proses pembelajaran di kelas, sehingga hal ini akan membuat siswa berpikir lebih dewasa dan kritis dengan tetap mengedepankan akhlakul karimah.

Selain itu, para santri juga diberikan pemahaman yang komprehensif tentang tujuan dari proses pendidikan yang mereka hadapi di pesantren, sekaligus diberikan tanggung jawab dalam menjaga nama baik lembaga, baik dengan perilaku mereka di dalam pondok maupun di luar pondok. Pada titik ini, para santri dianggap sebagai insider karena mereka dilibatkan dalam rahasia-rahasia yang ada dalam proses pendidikan di pesantren. Tentunya, hal ini dijalankan secara bertahap sesuai dengan tingkat kedewasaan santri. 

Proses pendidikan model ini dapat ditemukan dalam bagaimana Alquran berkomunikasi dengan para pembacanya. Pembaca Alquran tidak hanya diposisikan sebagai objek dari pesan-pesan yang ada di dalamnya, akan tetapi juga diajak berpikir sebagai orang yang menyampaikan pesan dakwah. Misalnya, dalam beberapa ayat Alquran, pembaca diajak untuk berpikir seperti halnya nabi yang menggunakan segala cara agar dakwah mereka dapat diterima di masyarakat. 

Mari kita ambil contoh. Dalam Q.S. Nuh pembaca dihadapkan pada usaha yang dilakukan oleh Nabi Nuh a.s. dalam menyampaikan risalah tauhid kepada kaumnya. Di surat tersebut dipaparkan, bagaimana Nuh menggunakan pelbagai strategi dakwah dimulai dengan yang sembunyi-sembunyi, lalu berproses menjadi terang-terangan. Diawali dengan dakwah lembut, lalu dilanjutkan dengan dakwah tegas. 

Selain itu dipaparkan juga bahwa proses dakwah memerlukan adanya diversifikasi materi dakwah, yang tidak monoton itu-itu saja. Adanya kita perlu membujuk objek dakwah kita dengan iming-iming kebahagiaan dan kesenangan baik di dunia maupun di akhirat. Di sisi lain, perlu juga diperlihatkan tentang kekuasaan Tuhan berupa ciptaan-Nya yang sempurna di muka bumi sehingga pengetahuan ini dapat membawa mereka pada keimanan.  

Di sini, para pembaca diajak untuk berpikir bukan sebagai objek dakwah, akan tetapi menjadi pelaku dakwah, yaitu bagaimana ketika kita mengemban misi dakwah maka harus melakukan diversifikasi baik dari aspek strategi maupun materi. Dengan metode ini, para pembaca diposisikan sebagai subjek yang aktif dan diharuskan untuk ikut berpartisipasi dalam melanjutkan perjuangan yang telah dimulai oleh para nabi dan rasul sehingga Islam akan tetap eksis sampai akhir zaman. 

Dengan model pendidikan aktif seperti ini, Insya Allah, para peserta didik kita tidak hanya berperan sebagai pengekor, akan tetapi juga tampil di depan sebagai inisiator yang berkontribusi dalam memperbaiki bangsa ini secara bertahap dan berkelanjutan. Wallahu a’lam. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s