Belajar dari Nabi Nuh a.s.

Para pegiat dakwah seharusnya belajar dari proses dakwah yang diemban oleh Nabi Nuh a.s. (pinterest)

Sekali-kali para pegiat dakwah harus belajar dari sejarah yang termaktub dalam Al-Qur’an tentang bagaimana usaha dakwah selalu menemui resistensi dari masyarakat, sehingga kita tidak perlu kagetan, baperan atau sikap-sikap lainnya yang menunjukan sikap memble dan putus asa. 

Nabi Nuh a.s berdakwah selama 900 tahun, dan hanya berhasil mengajak tidak lebih dari 100 orang dari umat manusia yang hidup pada masa itu. Tentang resistensi yang ia temui, beliau tidak pernah menyalahkan umat yang menentangnya, hanya dikembalikan kepada Sang Pemilik Hidayah, yaitu Allah s.w.t. 

Beliau berdoa kepada Allah, bahwasanya segala usaha telah dia tunaikan. Siang dan malam beliau korbankan untuk menunaikan tugas dakwah mulia, meminta mereka untuk kembali ke ajaran tauhid yang dibawa oleh Adam a.s. Tetapi, yang beliau dapatkan adalah resistensi yang tak berujung. Bahkan dari waktu ke waktu sikap penentangan mereka semakin menjadi-jadi. 

Tentunya, Nuh a.s. tidak tinggal diam. Beliau menggunakan berbagai cara untuk menarik perhatian umatnya, dari mulai dakwah yang dilakukan secara terang-terangan, sampai dakwah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Semua cara telah beliau lakukan, namun sayang hidayah tetaplah bukan otoritasnya, akan tetapi milik Allah s.w.t. 

Meskipun pada akhirnya, beliau mengembalikan urusan ini kepada Allah s.w.t dengan meminta-Nya untuk membinasakan kaumnya yang enggan untuk kembali ke ajaran tauhid, di hari kiamat Nuh a.s. mengakui bahwa tindakannya itu tidak tepat. Bahwa setinggi apapun resistensi objek dakwah, tidaklah elok mendoakan mereka binasa. Yang tepat adalah meminta Allah s.w.t untuk memberikan hidayah kepada mereka agar bisa bersama-sama merasakan indahnya hidup di surga Allah. []