Terbuka terhadap Kebenaran

Cendikiawan muslim pada abad pertengahan sangat terbuka dengan perkembangan ilmu pengetahuan (Pinterest)

Kita harus memiliki pikiran terbuka; memberikan kemungkinan-kemungkinan terhadap kebenaran yang masih terserak di luar sana sambil memasang sikap kritis dan memancangkan worldview Islam sehingga kita bisa lebih jernih dan selamat dalam melihat. 

Kejumudan berpikir seringkali bermula dari ketertutupan. Kaum Nabi Nuh as harus dibinasakan oleh Allah swt karena sikap mereka yang sangat tertutup terhadap kebenaran yang dibawa oleh salah satu Rasul-Nya. Begitupun dengan kaum-kaum lainnya yang tidak mau bersikap terbuka terhadap kebenaran-kebenaran yang dibawa oleh para nabi/rasul/ulama pencerah. 

Baca juga: Belajar dari Perjalanan Dakwah Nabi Nuh a.s. 

Sikap terbuka seringkali melahirkan peradaban yang maju. Umat Islam memutuskan untuk memasang sikap terbuka terhadap pemikiran-pemikiran Bangsa Yunani sambil tetap menggunakan sikap kritis terhadap hal-hal yang menyimpang dari akidah Islam. Bangsa Eropa tidak menutup diri untuk memungut reruntuhan peradaban dari komunitas Muslim sehingga mereka bisa berkembang sampai saat ini. 

Saya sangat setuju dengan salah satu prinsip yang digaungkan oleh pendiri Pondok Modern Gontor dalam panca jiwa dan moto lembaga; “berpikiran bebas”, setelah sebelumnya disebutkan prasyaratnya, yaitu sikap “berbudi tinggi, berbadan sehat dan berpengetahuan luas”. Ini mengindikasikan bahwa setelah kita mampu menempa budi kita dengan akhlak yang baik, jasad kita dengan kesehatan yang prima, dan otak kita dengan pengetahuan yang luas, maka saatnya kita bersikap terbuka untuk menerima kebenaran-kebenaran yang ada di luar sana. Pikiran kita tidak jumud, kaku dan berorientasi dengan masa lalu tapi luwes dan adaptif dengan hal-hal yang baru, – sekali lagi – selagi itu selaras dengan pakem-pakem yang ada. Di kalangan nahdliyin sikap ini terejawantahkan dalam sebuah ungkapan masyhur “al-muhafadzah ‘ala qodimi as-sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah,” memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik. 

Dengan sikap seperti ini, Insya Allah diri kita kaya dengan hikmah/kebenaran yang terserak di luar sana. Seperti kata Rasulullulah saw, “Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.” Wallahu a’lam. [] 

Podcast Inspirasi Al-Quran: Terbuka terhadap Kebenaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s