Afirmasi Negatif

Secara manusiawi, yang kita inginkan adalah afirmasi positif berupa dukungan dari berbagai pihak. (mindtools.com)

SERINGKALI kita tidak ngeh dengan cobaan cercaan, olok-olok, dan afirmasi negatif lainnya dari orang-orang di sekitar kita. Kita menganggap hal itu sesuatu yang menghambat dan memperlambat kita dalam meraih kesuksesan hidup. Orang-orang yang masuk dalam gerbong ini kita anggap tidak mendukung kita, dan cenderung ingin menjatuhkan. 

Secara manusiawi, yang kita inginkan adalah afirmasi positif berupa dukungan dari berbagai pihak. Pujian dan motivasi sangat kita tunggu. Dan itu yang membuat kita bangun ketika jatuh. Yang memberikan pencerahan di kegelapan hidup. 

Namun, mari kita kaji ulang. Tidak semua afirmasi negatif dari luar adalah bentuk ketidaksukaan orang-orang. Bisa jadi itu cara mereka dalam mencintai kita, supaya kita tetap melek dalam perjalanan panjang meraih kesuksesan hidup. 

Seringkali Ayah perlu berkata keras ketika anaknya berbuat salah. Atau sang guru menegur jika muridnya berbuat khilaf. “Semesta” seringkali memberikan kita jalan terjal dan ombak yang tinggi agar kita tetap waspada. 

Kiai saya punya cara unik dalam mendidik santri-santrinya. Seringkali beliau menggunakan kata-kata “kotor” seperti “goblok”, “bodoh”, dan kata-kata agresif lainnya untuk mengoreksi hal-hal yang tidak benar yang dilakukan santrinya. Meskipun perkataan tersebut terlihat tidak mendidik, tapi karena berangkat dari niat yang baik dan ikhlas, model pendidikan beliau berhasil melahirkan para pemimpin di negeri ini.  

Dalam pepatah Arab dikatakan, “teman kamu adalah yang membuatmu menangis, bukan membuatmu tertawa.” 

Allah swt pun demikian, tidak selamanya Dia mencintai dengan cara yang “baik”. Ada banyak sumpah dan ancaman yang Dia sampaikan dalam Al-Qur’an yang fungsinya agar kita tetap awas dan menghindari hal-hal yang Dia benci. 

Menurut saya, ancaman siksa kubur, neraka dan janji-janji Allah swt bagi orang kafir adalah bentuk kecintaan Dia pada umat manusia, agar waspada dan mengambil langkah preventif untuk tidak terjerumus pada jurang kehinaan baik di dunia maupun di akhirat. 

Kita telah diberikan akal sehat untuk meramu mana yang baik dan mana yang benar, dan melihat dengan jernih akan kemungkinan adanya kehidupan setelah kematian. Adanya afirmasi positif (surga) dan negatif (neraka) di akhirat dimaksudkan agar kita mampu berpikir tentang jalan mana yang hendak ditempuh. 

Tentu sangat manusiawi apabila telinga kita ramah dengan pujian, akan tetapi marilah kita mencoba mendengar hinaan dan cacian dan kita jadikan itu sebagai bumbu kehidupan yang dapat membuat hidup kita lebih berwarna. Wallahu a’lam. [] 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s