Menjaga Kehormatan

sumber foto: pinterest

MANUSIA diberikan fitrah dengan memiliki hasrat biologis berupa kehidupan seks. Namun, Islam mengatur hal ini sedemikian rupa sehingga berimplikasi pada tertibnya kehidupan sosial (social order) manusia. Kegiatan seks di luar nikah sangat dilarang dan aksi pornografi mendapatkan kritikan tajam.  

Ini adalah keindahan dari ajaran Islam: dia tidak bertentangan dengan fitrah penciptaan, namun tetap memberikan batasan-batasan demi ketertiban kehidupan sosial manusia di muka bumi. 

Sudah mafhum, seks bebas (free sex) menimbulkan banyak ekses negatif pada kehidupan sosial manusia. Salah satunya adalah efek psikologis yang muncul dari tindakan tercela ini. Al-Qur’an (dalam Q.S. Al-Ma’arij ayat 29 – 31) mengingatkan bahwa kebiasaan ini dapat menyebabkan sikap halu’, selalu gelisah ketika mendapatkan kesulitan hidup, dan rakus serta bakhil ketika mendapatkan rezeki lebih. Ini menunjukan tidak stabilnya kondisi psikologis orang yang terbiasa dengan seks bebas. 

Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa agar hidup kita tenang maka sebaiknya kita tinggalkan praktek seks di luar nikah. Sebagai solusinya, Islam menawarkan institusi keluarga yang memberikan ketentraman hidup yang lebih komprehensif dan menyentuh hampir seluruh aspek psikologis setiap individu. Solusi ini akan menjaga manusia agar tidak terjerumus dalam degradasi moral yang akut. Buya Hamka, dalam Tafsir Al-Azhar menulis, “Sudah jadi salah satu syarat menjaga hidup manusia di atas dunia ialah apabila dia mengatur persetubuhan dengan pernikahan.” 

Dalam wadah pernikahan, seseorang tidak hanya bisa menyalurkan nafsu biologisnya saja, tapi dia dapat berkolaborasi dengan partner menikah (baca: suami/istri) untuk mendapatkan target-target hidup. Mereka bisa bekerjasama untuk menciptakan kebahagiaan yang tidak mungkin didapat ketika hidup melajang. 

Hal penting lainnya dari institusi pernikahan adalah melestarikan keturunan. Legacy kita bisa abadi ketika dilanjutkan oleh anak cucu kita. Jika hari ini kita konsisten dalam menekuni tugas-tugas dakwah, misalnya, maka perjuangan ini bisa dilanjutkan oleh anak-anak masa depan yang dilahirkan sebagai buah cinta antara kita dan pasangan. 

Persetubuhan di luar nikah jelas menimbulkan efek sosial yang negatif. Di negara-negara Barat, banyak anak yang lahir tanpa sentuhan kasih sayang bapak dan/atau ibu, sehingga menyebabkan patologi sosial yang cukup akut. Masyarakat modern sangat gersang, dan dihantui oleh penyakit-penyakit jiwa yang beragam. Hidup mereka nampak baik sebagai buah dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, di balik itu, banyak dari mereka tersiksa karena tidak bisa mendapatkan ketentraman hidup yang hakiki. 

Islam mengatur kehidupan seks dan menyandingkannya dengan institusi pernikahan yang mulia. Ini tidak lain adalah resep atas kondisi psikologis masyarakat modern dibangun atas fondasi yang rapuh: nilai-nilai yang jauh dari ajaran agama. Dengan menghindari seks bebas, kehormatan manusia dijaga pada posisinya yang mulia. [] 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s