Agama Menyelamatkan Jiwa

Oleh @syahruzzaky

MANUSIA secara fitrah diciptakan penuh keluh kesah. Dia akan merasa takut dan gelisah, ketika diberikan kesempitan hidup berupa sakit, kemiskinan dan yang lainnya. Akan tetapi dalam waktu bersamaan mereka juga sangat tamak dan kikir ketika dianugerahi kelapangan. 

Menurut Hamka sifat buruk ini biasanya dibarengi dengan penyakit jiwa (mental hygiene). Masyarakat modern, misalnya, yang hidup dalam bayang-bayang budaya konsumerisme seringkali dihinggapi oleh perasaan takut (fear) dan cemas (anxious) jika tidak mampu memuaskan hasrat mereka sehingga menyebabkan depresi (depressed) dan penyakit jiwa lainnya

Psikologi positif mencoba menawarkan pengobatan bagi orang-orang yang terjangkit penyakit jiwa tersebut. Akan tetapi, hal ini hanya terbatas pada tataran kuratif, yang seringkali tidak memotong akar permasalahan. Selagi manusia hidup dalam tatanan dunia yang tidak suportif, maka jiwa mereka akan rentan dengan pelbagai penyakit. 

Islam menawarkan solusi komprehensif atas permasalahan ini. Dalam Q.S. Al-Ma’arij ayat 19 – 21 dijelaskan bahwa secara fitrah manusia diasosiasikan dengan sifat-sifat buruk di atas. Lalu, pada ayat-ayat berikutnya dipaparkan juga langkah-langkah agar mereka terbebas dari belenggu sifat buruk ini, sehingga bisa menyelematkan jiwa mereka. 

Langkah pertama yang ditawarkan adalah shalat. Di samping sebagai sebuah ritual ibadah, shalat memiliki keuntungan-keuntungan psikologis – di mana orang yang melakukannya akan merasa dekat dengan sebuah Kekuatan yang senantiasa menjaganya, yaitu Allah s.w.t. Ini adalah sebuah modal psikologis yang akan membuat dia kuat dan menerima ketika diuji dengan kesusahan, dan bersyukur serta mau memberi ketika diberikan kelapangan hidup. 

Dalam beberapa kitab tafsir dikatakan bahwa yang dimaksud dengan mushollin dalam ayat ini adalah orang-orang beriman. Ini mengisyaratkan bahwa supaya terbebas dari belenggu sifat keluh kesah, takut, gelisah dan tamak, manusia harus menjadi orang yang beriman. Iman kepada Allah swt dan semua perintah-Nya. 

Pernyataan ini bisa berperan secara faktual dan normatif. Dalam kondisi pertama, ini menginformasikan bahwa manusia tidak beriman akan senantiasa dihantui oleh sifat-sifat destruktif di atas. Tidak adanya keimanan terhadap Allah dan aturan-aturan-Nya menyebabkan manusia berbuat sekehendak hati, yang seringkali mengutamakan hawa nafsu daripada akal sehat. Manusia terjebak dalam budaya materialisme dan hedonisme yang mana ini merupakan pangkal dari penyakit-penyakit jiwa seperti yang telah disebutkan di atas. 

Dalam kondisi kedua, manusia beriman diingatkan untuk menjauhi sifat-sifat di atas. Lalu Allah s.w.t memaparkan perangkat-perangkat yang sudah dimiliki oleh ajaran agama kita supaya bisa terbebas dari kondisi jiwa yang rusak. 

Secara fitrah agama diturunkan bagi umat manusia sebagai agen penyelamat, baik bagi nyawa maupun jiwa. Agama bukan hanya bicara tentang keselamatan di alam akhirat, tapi juga tentang kebahagiaan di dunia. Maka, jika ada beberapa golongan orang yang membawa ajaran agama yang menyelisihi fitrah ini, seyogyanya kita memasang sikap kritis terhadapnya. Ini juga menjadi modal bagi kita untuk memberikan sikap counter terhadap mereka yang menyerang agama dan memandangnya sebagai candu bagi masyarakat. [] 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s