Terapi Jiwa

ilustrasi terapi jiwa

@syahruzzaky

BAGI sebagian orang hidup ini berat; menyisakan pelbagai cobaan dan tantangan yang seringkali melukai jiwa dan batin, sehingga menyelesaikan misi hidup dianggap sebagai sebuah jawaban. 

Bisa jadi kondisi jiwa tersebut membuat kita tertekan yang berujung munculnya penyakit-penyakit mental; depresi (depressed), cemas (anxious), atau bahkan schizophrenia. 

Ada orang – yang menderita dengan salah satu penyakit jiwa di atas – mengeluh ketika dikata-katai, “Lu mah jadi kayak gini karena kurang agamanya.” Dia menolak dan berdalih bahwa penyakit ini adalah bagian dari mental illness dan hanya akan sembuh apabila diobati melalui pengobatan psikologi atau psikiatri modern. 

Apa iya? 

Lalu kenapa ada orang stress dengan tekanan hidup, lalu memilih meditasi dan yoga sebagai bentuk terapi? 

Atau kenapa orang model Anand Krishna semakin populer di masyarakat urban yang penuh dengan masalah yang kompleks? 

Saya pikir labelling bahwa orang yang stress kurang agamanya ada benarnya. Lebih tepatnya mereka kurang memiliki kekuatan spiritual transenden yang menghubungkan dia dengan Dzat yang Maha Memiliki Kekuatan. 

Banyak orang Muslim mencari asupan ruhani ini dengan memilih praktik-praktik yang berasal dari tradisi agama lain. Yoga, misalnya, adalah olahraga yang berasal dari tradisi agama Hindu, tapi sangat digandrungi oleh kalangan Muslim.  

Saya tidak melarang untuk melaksanakan Yoga – asal itu murni olahraga kesehatan dan tidak disusupi pengajaran nilai-nilai filsafat agama Hindu. Tapi sangat naif apabila kita justru lebih memilih praktik agama lain, daripada apa yang telah ditawarkan oleh agama kita dalam rangka pemenuhan jiwa? 

Islam memiliki seperangkat metode pemenuhan kebutuhan spiritualitas dalam bentuk ibadah ritual yang sudah baku. Asal kita tidak terjebak pada pemikiran fiqih-oriented, yang menganggap Islam hanya dari aspek pemenuhan syarat-syarat ibadah ritual, insya Allah agama kita kaya akan dimensi spiritualitas. 

Orang menyebutnya tasawuf. Ada juga yang mengatakan akhlak. 

Saya tidak akan berbicara tentang tasawuf, karena hal ini akan membutuhkan penjelasan yang cukup panjang. Tapi, mari kita ambil salah satu ritual ibadah yang sangat familiar dan sering dilakukan oleh seorang Muslim: shalat. 

Shalat memiliki dimensi spiritual yang sangat kaya. Dilihat dari makna harfiahnya, shalat adalah doa. Kita tahu bahwa doa adalah penghubung antara hamba dan Tuannya. Shalat menawarkan kesempatan bagi seorang hamba untuk secara intens berhubungan dengan Tuan-nya melalui lafal-lafal yang diucapkan. 

Coba resapi dahsyatnya makna doa iftitah, al-fatihah, rukuk, i’tidal, sujud, duduk di antara sujud dua, tasyahud awal dan akhir. Doa-doa tersebut yang menghubungkan antara seorang Muslim dengan Tuhan-nya. Bayangkan dia melakukan ritual ini minimal lima kali sehari!

Sekali lagi, ini akan berhasil jika kita tidak melihat shalat sebagai ritual fisik saja, tapi lebih dari itu, sebagai ritual pemenuhan jiwa yang penuh makna. Banyak ulama yang telah memaparkan hal ini. Silahkan baca “Bidayatul Hidayah”-nya Al-Ghazali atau “Buat Apa Shalat”-nya Haidar Bagir untuk lebih mengeksplorasi lebih jauh tentang ini.

Al-Qur’an (Q.S. 70, 19-23) sendiri berpesan bahwa shalat adalah salah satu obat agar kita terhindar dari penyakit halu’ – selalu mengeluh ketika tertimpa bencana dan enggan berbagi ketika sedang mendapatkan kelapangan hidup. Situasi yang sangat dekat dengan masyarakat urban modern sekarang. 

***

Saya tidak hendak menafikan peran psikologi atau psikiatri sebagai disiplin ilmu yang menawarkan pengobatan bagi penyakit-penyakit jiwa (mental illness), tapi sungguh naif apabila kita meninggalkan solusi yang ditawarkan agama kita sebagai obat bagi penyakit-penyakit tersebut. Apalagi jika kita lebih memilih praktik-praktik pengobatan tradisional yang berasal dari tradisi agama lain, padahal agama kita memiliki khazanah ritual yang sangat kaya yang berkaitan dengan problem ini. 

Mari kita bersama meresapi agama pada bentuknya yang lebih dalam, tidak berhenti di luarannya (surface) saja. [] 

Menjaga Shalat

Shalat. Sumber (pinterest)

@syahruzzaky 

Kehidupan modern bagaikan dua sisi koin yang berbeda; ia memudahkan kita untuk mewujudkan apa yang kita inginkan, sekaligus mewajibkan kita untuk bekerja dalam tekanan apabila ingin mendapatkan privilege-nya.

Acap kali tekanan yang diberikan oleh modernitas membuat kita lelah dan cemas. Mungkinkah kita survive? Atau malah tersungkur menjadi pecundang? 

Mereka yang akhirnya menjadi pecundang banyak yang berujung pada kehidupan yang selalu dirundung keluh kesah. 

Hidup miskin di era modernitas membuat kita berada pada posisi yang tidak diuntungkan; tidak bisa menikmati kemudahan yang diberikan oleh zaman. Mau ikut tren fashion masa kini, misalnya, itu membutuhkan biaya yang cukup besar. Kalau tidak bisa menahan hawa nafsu, maka kita akan memanfaatkan fasilitas hutang/kredit. Akan tetapi, semakin kita tidak bisa membendungnya, bukan tidak mungkin terjebak hutang yang menggunung. Debt Collector akan siap-siap menghantui hidup kita, sampai hotel predeo bisa jadi menjadi salah satu tempat yang akan kita singgahi. 

Dalam kondisi ini, keluh kesah akan menjadi suasana hati sepanjang hari. Dalam tahap yang lebih parah, muncul beberapa penyakit mental seperti stres, depresi, cemas, dan yang lainnya. Bahkan, tidak sedikit yang berujung pada menghabisi nyawa sendiri. 

Dalam posisi ini, manusia terbelah menjadi tiga kelompok: mereka yang percaya pada psikologi positif, kepada agama, dan kepada dua-duanya. Saya tidak hendak membenturkan antara agama dan sains, tapi sebagai seorang beriman, alangkah lebih baiknya melihat apa yang ditawarkan oleh Islam sebagai solusi atas permasalahan ini, di samping terapi berdasarkan ilmu psikologi modern. 

Al-Qur’an menawarkan shalat sebagai salah satu solusi atas permasalahan umum dari manusia modern ini (Q.S. Al-Ma’arij ayat 19-23). Namun, shalat yang dimaksud bukan sekedar gerakan rukuk, sujud dan i’tidal. Solusi yang ditawarkan adalah shalat yang terjaga. Apa dan bagaimana shalat yang terjaga tersebut – yang Insya Allah akan mengantarkan kita pada ketenangan jiwa? 

Para mufassirin (ahli tafsir) memberikan beberapa penjelasan tentang Q.S. Al-Ma’arij ayat 22 – 23. Di ayat ini, Allah s.w.t bersabda bahwa orang-orang yang menjaga shalat – dengan mendawamkannya – akan terbebas dari sifat keluh kesah yang dimiliki oleh manusia. Namun shalat tersebut bukanlah sekedar gerakan fisik nirmakna, tapi memiliki beberapa kriteria. 

Prof. Wahbah Az-Zuhaily, pakar tafsir ternama asal Suriah, menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah shalat fardhu lima waktu yang dikerjakan secara rutin, tanpa ada yang tertinggal dalam keadaan apapun. Meskipun kehidupan dunia memberikan kita ruang sedikit untuk rehat, jangan sampai kita berani meninggalkan shalat. Karena itu modal kita satu-satunya untuk merawat jiwa kita dari segala penyakit jiwa. 

Hal lain yang bisa kita lakukan dalam menjaga shalat adalah memperhatikan tata caranya: melaksanakan wudhu yang benar, menjaga aurat, memperhatikan kiblat, dan berusaha untuk senantiasa tepat pada waktunya. Ini adalah prasyarat standar dalam aspek fikih. 

Selanjutnya adalah memperhatikan aspek tasawuf dari shalat yaitu menjaga kekhusyuan, menjauhi riya’ dan melaksanakan hal-hal yang sunat dari shalat, termasuk mengerjakan shalat-shalat sunnah yang dianjurkan. Yang lebih penting dari aspek ini adalah bagaimana kita menjadikan shalat sebagai wahana penghubung (silah) kita dengan Tuhan, sehingga kita benar-benar merasa dekat dengan Dia. Jika ini tercapai, maka kita telah mendapatkan benefit psikologis dari ibadah shalat. 

Hal yang lebih penting lainnya dalam menjaga shalat adalah berusaha sekuat tenaga untuk meninggalkan hal sia-sia yang melanggar batasan agama. Karena kita tahu bahwa shalat itu mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar (QS. Al Ankabut: 45). 

Apabila kita STMJ (shalat terus, maksiat jalan) maka itu tanda shalat kita belum diterima oleh-Nya. Tapi, dengan begitu bukan berarti kita berhenti dan menyerah. Yang bijak adalah bagaimana kita memperbaiki shalat sebagai wahana untuk menghentikan maksiat. 

Semoga Allah swt membantu kita untuk senantiasa menjaga shalat kita, sehingga mengantarkan kita pada ketenangan jiwa dan batin. Aamiin. []

Agama Menyelamatkan Jiwa

Oleh @syahruzzaky

MANUSIA secara fitrah diciptakan penuh keluh kesah. Dia akan merasa takut dan gelisah, ketika diberikan kesempitan hidup berupa sakit, kemiskinan dan yang lainnya. Akan tetapi dalam waktu bersamaan mereka juga sangat tamak dan kikir ketika dianugerahi kelapangan. 

Menurut Hamka sifat buruk ini biasanya dibarengi dengan penyakit jiwa (mental hygiene). Masyarakat modern, misalnya, yang hidup dalam bayang-bayang budaya konsumerisme seringkali dihinggapi oleh perasaan takut (fear) dan cemas (anxious) jika tidak mampu memuaskan hasrat mereka sehingga menyebabkan depresi (depressed) dan penyakit jiwa lainnya

Psikologi positif mencoba menawarkan pengobatan bagi orang-orang yang terjangkit penyakit jiwa tersebut. Akan tetapi, hal ini hanya terbatas pada tataran kuratif, yang seringkali tidak memotong akar permasalahan. Selagi manusia hidup dalam tatanan dunia yang tidak suportif, maka jiwa mereka akan rentan dengan pelbagai penyakit. 

Islam menawarkan solusi komprehensif atas permasalahan ini. Dalam Q.S. Al-Ma’arij ayat 19 – 21 dijelaskan bahwa secara fitrah manusia diasosiasikan dengan sifat-sifat buruk di atas. Lalu, pada ayat-ayat berikutnya dipaparkan juga langkah-langkah agar mereka terbebas dari belenggu sifat buruk ini, sehingga bisa menyelematkan jiwa mereka. 

Langkah pertama yang ditawarkan adalah shalat. Di samping sebagai sebuah ritual ibadah, shalat memiliki keuntungan-keuntungan psikologis – di mana orang yang melakukannya akan merasa dekat dengan sebuah Kekuatan yang senantiasa menjaganya, yaitu Allah s.w.t. Ini adalah sebuah modal psikologis yang akan membuat dia kuat dan menerima ketika diuji dengan kesusahan, dan bersyukur serta mau memberi ketika diberikan kelapangan hidup. 

Dalam beberapa kitab tafsir dikatakan bahwa yang dimaksud dengan mushollin dalam ayat ini adalah orang-orang beriman. Ini mengisyaratkan bahwa supaya terbebas dari belenggu sifat keluh kesah, takut, gelisah dan tamak, manusia harus menjadi orang yang beriman. Iman kepada Allah swt dan semua perintah-Nya. 

Pernyataan ini bisa berperan secara faktual dan normatif. Dalam kondisi pertama, ini menginformasikan bahwa manusia tidak beriman akan senantiasa dihantui oleh sifat-sifat destruktif di atas. Tidak adanya keimanan terhadap Allah dan aturan-aturan-Nya menyebabkan manusia berbuat sekehendak hati, yang seringkali mengutamakan hawa nafsu daripada akal sehat. Manusia terjebak dalam budaya materialisme dan hedonisme yang mana ini merupakan pangkal dari penyakit-penyakit jiwa seperti yang telah disebutkan di atas. 

Dalam kondisi kedua, manusia beriman diingatkan untuk menjauhi sifat-sifat di atas. Lalu Allah s.w.t memaparkan perangkat-perangkat yang sudah dimiliki oleh ajaran agama kita supaya bisa terbebas dari kondisi jiwa yang rusak. 

Secara fitrah agama diturunkan bagi umat manusia sebagai agen penyelamat, baik bagi nyawa maupun jiwa. Agama bukan hanya bicara tentang keselamatan di alam akhirat, tapi juga tentang kebahagiaan di dunia. Maka, jika ada beberapa golongan orang yang membawa ajaran agama yang menyelisihi fitrah ini, seyogyanya kita memasang sikap kritis terhadapnya. Ini juga menjadi modal bagi kita untuk memberikan sikap counter terhadap mereka yang menyerang agama dan memandangnya sebagai candu bagi masyarakat. [] 

Manusia makhluk yang suka berkeluh kesah, Ulasan Kitab Tafsir Q.S. Al-Ma’arij ayat 19 – 21

Menurut Q.S. Al-Ma’arij ayat 19-20, secara fitrah, manusia dilahirkan dengan karakteristik penuh keluh kesah. Dia akan mengeluh ketika ditimpa kesusahan, dan jumawa serta menolak (bersedekah) tatkala diberikan kelapangan. Kecuali orang-orang beriman yang memiliki sepuluh karakterisitik yang termaktub dalam penjelasan ayat-ayat selanjutnya. 

Dalam Jami’ul Bayaan, Imam at-Thobari secara khusus menyematkan sifat ini pada orang-orang kafir, mereka yang tidak percaya akan ketuhanan Allah s.w.t dan orang musyrik, mereka yang menyekutukan-Nya. Sedangkan ‘halu’a’ dimaknai dengan perasaan sangat takut, gelisah dan tamak. Orang kafir, menurut ayat ini, disematkan sebuah sifat buruk, yaitu tatkala dia miskin akan merasa gelisah dan tidak sabar. Sebaliknya, jika diberikan kelimpahan harta, dia akan bakhil dan enggan untuk menggunakannya di jalan Allah. 

Dalam hemat saya, pernyataan Imam at-Thobari ini bisa dimaknai secara faktual maupun normatif. Artinya, bisa jadi memang secara faktual, mayoritas orang kafir memiliki sifat halu’; mereka sangat takut, gelisah dan tamak dengan harta. Tapi bisa juga ini dilihat dalam sudut pandang normatif, di mana umat Islam jangan sampai terjebak pada sifat halu’ yang mana karakter ini hanya pantas tersemat pada orang kafir. 

Lalu, apa sebenarnya makna halu’? 

Sekilas kata ini mirip dengan bahasa gaul yang digunakan oleh anak muda sekarang, ‘halu’. Namun, ternyata memiliki arti yang berbeda. Dalam bahasa gaul, ‘halu’ merupakan kependekan dari halusinasi, suatu sifat di mana kita memiliki keinginan yang sangat banyak. Akan tetapi, kata ‘halu’ dalam ayat ini bermakna keadaan cepat bersedih ketika menghadapi kesusahan, dan bakhil ketika mendapatkan kelapangan hidup (Al-Maroghi)

Prof. Wahbah Az-Zuhaili mengutip pernyataan Az-Zamaksyari mengatakan bahwa kata ‘halu’ bermakna cepat resah ketika terkena musibah, dan menolak (bersedekah) tatkala mendapatkan kebaikan. 

Muhammad Ibnu Thahir bertanya kepada Tsa’lab seperti yang dikutip oleh Al-Maroghi tentang makna ‘halu’ dalam ayat 19, beliau mengatakan bahwa dua ayat berikutnya (20-21) sudah sangat jelas mendeskripsikan makna sifat tersebut. 

Mungkin sifat dasar manusia – seperti yang dideskripsikan dalam ayat ini – ini bisa diuji secara empiris dalam kajian psikologi agama. Apakah manusia secara fitrah bersifat sangat resah, takut dan rakus? Mungkin penjelasan di bawah ini bisa sedikit memberikan gambaran. 

Menurut Hamka, perasaan keluh kesah, tidak tenang hati, selalu merasa kurang, cemas dan takut bisa dibarengi dengan beberapa penyakit jiwa lainnya seperti depresi (depression), cemas (anxiety), dan yang lainnya. Ketika sudah terkena keadaan ini, maka dia tidak bisa mengendalikan emosinya (jazu’), menyalahkan orang lain dan menyesali nasib. 

Ini adalah kondisi yang jamak kita lihat dalam masyarakat modern di mana segala bentuk tekanan (pressure) menghantui kehidupan mereka. 

Dalam sebuah video dokumenter dijelaskan bahwa di balik kemajuan negara Korea Selatan, negeri tersebut memiliki sisi buruk yang suatu saat dikhawatirkan menjadi bom waktu. Gemerlap kapitalisme yang dibarengi dengan kuatnya budaya konsumerisme menyebabkan masyarakat Korsel berlomba-lomba untuk membeli barang. Mereka dijejali janji-janji palsu yang ditayangkan melalui tayangan iklan di TV, billboard maupun media massa. Segala cara mereka lakukan agar terlihat keren seperti tayangan iklan, meskipun itu harus terjerat utang. 

Beberapa dari mereka harus memuaskan hasrat konsumerisme dengan cara berhutang memakai kartu kredit. Karena tingkat keinginan yang tidak sesuai dengan pemasukan akhirnya mereka terjebak pada hutang yang menggunung. Kemudahan berhutang yang diberikan oleh kartu kredit membuat keadaan semakin parah. Walhasil, ketika kondisi ini sudah mencapai limit-nya, mereka dipaksa untuk membayar. Kalau tidak mampu, mobil, rumah dan properti yang mereka miliki harus disita untuk membayar hutang yang gagal bayar. 

Kondisi ini tentu membuat mereka gelisah, cemas dan takut. Mayoritas dari mereka akan mengalami depresi, dan sebagian memilih untuk mengakhiri hidup sebagai jalan akhir. Ini adalah kondisi faktual yang relevan dengan apa yang disampaikan oleh Al-Qur’an melalui ayat ini. 

Prof. Al-Maroghi menyatakan bahwa kondisi halu’ lebih disebabkan oleh cinta dunia, yaitu senantiasa sibuk dengan urusan-urusan duniawi. Masyarakat modern terjebak pada ide materialisme, yang mementingkan urusan duniawi (dunia materi) dan meninggalkan urusan ukhrowi, urusan rohani. Hidup mereka kering, karena hanya peduli dengan jasad, sedangkan ruh mereka campakkan. 

Ideologi kapitalisme menciptakan sebuah kelas yang diisi oleh orang-orang kaya yang tidak perlu hidup dengan susah payah, karena hanya dengan menanam saham pada perusahaan-perusahaan, otomatis mereka akan mendapat income yang tidak pernah berhenti. Di beberapa negara yang menganut ide liberalisme, kondisi ini menyebabkan gap yang cukup lebar antara elit minoritas yang menguasai mayoritas uang, dengan masyarakat luas yang harus hidup hemat untuk bertahan hidup. 

Sayangnya, kelas menengah ke atas tidak mau berbagi dengan kelas pekerja. Alih-alih menyedekahkan hartanya untuk kemaslahatan bersama, mereka berlomba-lomba untuk memuaskan hasrat konsumtifnya. Kita bisa melihat bagaimana orang kaya menghabiskan uang milyaran rupiah hanya untuk menutupi badannya yang sebenarnya bisa dibeli dengan cukup ratusan ribu rupiah. 

Fenomena ini selaras dengan hadits Nabi saw yang berbunyi, “Seburuk-buruk sifat yang ada pada seseorang adalah sifat pelit yang sangat pelit dan sifat pengecut yang sangat pengecut” H.R. Abu Daud, Ibnu Hibban, dan Ahmad. 

Semoga Allah swt menjauhkan kita dari sifat takut, gelisah dan tamak seperti yang tergambar dalam ayat ini. Aamiin. [] 

Tentang Kesendirian di Alam Akhirat: Hanya Amal Saleh yang Mampu Menyelamatkan Kita

Ilustrasi kesendirian/Pinterest.

@syahruzzaky

Ketika hidup di dunia, banyak orang-orang terlibat membantu kita. Saat kecil, kita sangat tergantung dengan uluran tangan orang tua – entah itu orang tua biologis, maupun orang dewasa yang berperan sebagai pengasuh di rumah-rumah sosial. Kita tidak bisa hidup tanpa bantuan mereka. 

Guru-guru di sekolah membantu kita untuk mempersiapkan diri menuju fase kemandirian. Mereka melatih kita untuk membaca dan menulis – skill yang sangat fundamental untuk bertahan hidup. Selain itu, di sekolah kita belajar berinteraksi dengan orang lain – hal yang harus kita lakukan di sisa hidup kita, apabila ingin bertahan hidup. 

Sayangnya, sekolah tidak benar-benar membuat kita mandiri. Semandiri-mandirinya orang – bahkan orang yang mempraktekan hikikomori di Jepang – tetap membutuhkan orang lain untuk bisa melanjutkan hidup. Di dunia kerja, misalnya, kita bergantung dengan rekan kita dari divisi penjualan, agar produk yang kita kembangkan bisa terjual dengan baik di masyarakat. Bahkan, eksistensi masyarakat secara keseluruhan sebagai konsumen produk kita sangat membantu kita untuk bisa terus hidup. 

Kalau ada orang yang berseloroh dia dapat hidup mandiri, karena memiliki banyak uang yang dihasilkan hasil jerih payah kerjanya, maka itu adalah omong kosong. Orang terkaya di Indonesia, Bambang Hartono, pemilik Bank BCA dan perusahaan rokok Djarum, sangat bergantung pada karyawan-karyawannya – yang bekerja tak kenal lelah untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah yang dari hari ke hari membuat dia semakin kaya. Lucunya, kehidupan Hartono juga ditentukan oleh seorang penarik becak, yang sedang mengisap rokok Djarum Coklat di pojok jalan, di saat menunggu datangnya penumpang. Padahal sang penarik becak harus berjuang keras untuk bisa makan dalam sehari. Sungguh ironis. 

Maka sungguh tepat ketika Aristoteles menyimpulkan bahwa manusia itu adalah zoon politicon, makhluk yang membutuhkan sosialisasi untuk bisa bertahan hidup. Faktanya, tidak ada manusia yang benar-benar bisa hidup sendirian. Kalaupun ada, dia tetap harus meminta bantuan alam sekitarnya. 

Hal ini sangat kontras dengan kehidupan yang akan kita hadapi di akhirat. Di sana, tak ada satu orang pun yang bisa membantu kita, kecuali diri kita sendiri (melalui amal saleh yang kita kumpulkan selama hidup di dunia). 

Bahkan, orang-orang yang kita anggap dekat pun (mis., orang tua, anak, istri, sahabat karib) tidak bisa membantu kita. Mereka sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Semua orang berubah menjadi egois, karena memikirkan apakah mereka akan hidup dengan penuh kebahagiaan atau kesengsaraan di fase kedua kehidupan berikutnya (alam akhirat). 

***

Menyadari bahwa dirinya tidak akan selamat dari azab neraka, orang kafir membuat penawaran dengan Allah swt. Mereka ingin membuat penebusan dosa dengan memberikan jaminan, yaitu  anak-anak mereka, isteri dan saudara mereka, kaum famili yang terbiasa melindungi mereka, bahkan seluruh umat manusia yang pernah ada. Sebagai imbalan, mereka berharap bisa selamat dari azab neraka yang pedih. Hal ini seperti yang terdokumentasikan dalam Q.S. Al-Ma’arij ayat 11 – 15: 

“… Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya, dan isterinya dan saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia). Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya.” 

Q.S. Al-Ma’arij ayat 11 – 14

Tentu saja jaminan itu tidak dapat diterima. Allah swt terang-terangan menyatakan tidak. Dia swt berfirman,

Sekali-kali tidak dapat, sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergolak,

Q.S. Al-Ma’arij ayat 15


“pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.”

Q.S. Abbasa ayat 34 – 37 

Bahkan seperti yang disinggung dalam artikel tentang Ulasan Kitab Tafsir Q.S. Al-Ma’arij bagian pertama, Fakhruddin Ar-Razi menyatakan bahwa kebijaksanaan mewajibkan Allah s.w.t untuk tidak mencegah datangnya azab bagi orang-orang kafir.  

Begitulah, di alam akhirat, hanya amalan kita – yang diliputi rahmannya Allah – yang bisa menyelamatkan kita dari azab neraka. Tidak ada koneksi dalam, atau hal lainnya yang bisa kita sogok seperti di dunia. Wallahu a’lam. []

Condong, 18 Juni 2020

06:28

Dahsyatnya Siksa Neraka – Ulasan Kitab Tafsir Q.S. Al-Ma’arij Ayat 8 – 18

Pada ayat selanjutnya, Allah s.w.t mendeskripsikan secuil gambaran dahsyatnya hari kiamat. Dengan menggunakan bahasa yang mudah dicerna oleh manusia, Allah s.w.t menggambarkan bahwa pada hari kiamat langit terbelah bagaikan lelehan perak (muhl). Ia bak perak atau logam lainnya (mis, tembaga dan timah) yang dicairkan dan melebur serta tidak keras lagi. 

Continue reading

Permintaan Azab yang Dijanjikan – Ulasan Kitab Tafsir Q.S. Al-Ma’arij ayat 1 – 7

Seorang kafir Quraisy, Nadhir bin Harits, meminta – dengan nada ejekan – Nabi saw untuk segera menurunkan azab yang dijanjikan. Allah swt menjawab bahwa azab itu pasti ada dan tidak ada seorang pun yang bisa menolaknya. Azab itu berasal dari Allah swt yang memiliki ma’arij – tangga di mana Jibril as dan para malaikat turun dan naik menemui Allah swt. 

Suatu hari, datang kepada Nabi s.a.w seorang kafir Quraisy untuk meminta diturunkan azab yang dijanjikan oleh dia s.a.w melalui wahyu yang termaktub di dalam Al-Qur’an. Di hadapan Rasul s.a.w pemuka Quraisy itu berkata, “Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih” (Q.S. Al-Anfaal: 32).

“Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih”

Q.S. Al-Anfaal: 32

Orang tersebut adalah Nadhir bin Harits dan permintaannya dibayar langsung oleh Allah s.w.t dengan kematian yang mengenaskan dalam perang Badar. 

Baca juga: Nadhir bin Harits 

Sebenarnya Nadhir tidak sungguh-sungguh meminta azab ini. Ini adalah bentuk satire untuk mengolok-olok dakwah Nabi s.a.w (lihat Prof. Wahbah Zuhaili, Tafsir Al-Muniir) yang menjanjikan surga bagi kaum beriman, dan neraka bagi mereka yang menolak untuk mengikuti risalahnya. 

Menurut Ar-Razi, Allah s.w.t menjawab permintaan tersebut dengan turunnya ayat ini, yang menyatakan dengan tegas bahwa azab yang dijanjikan pasti akan datang, dan tidak ada satu pun yang bisa mencegahnya (lihat Tafsir Mafatihul Ghaib, Fakhruddin Ar-Razi). 

Ketetapan Allah s.w.t ini benar adanya, dan azab tersebut – tanpa harus diminta – benar-benar akan menimpanya. Tidak ada yang mampu mencegahnya, bahkan menurut pendapat sebagian ulama yang dikutip oleh Ar-Razi dikatakan “Tidak mungkin pencegah azab itu berasal dari sisi Allah. Kebijaksanaan mewajibkan Allah untuk tidak mencegah datangnya azab bagi orang-orang kafir.”

Lalu kenapa kaum kafir belum mendapatkan azab seperti yang dijanjikan Allah s.w.t? Menurut Al-Maroghi ada hikmah di balik delayed-nya balasan untuk mereka. Allah s.w.t akan menyimpan mereka di tingkatan paling bawah dari neraka karena konsistensi mereka dalam kekufuran.

Tangga – tempat Naik 

Azab yang dijanjikan tersebut berasal dari Allah s.w.t yang memiliki ma’arij. Para ahli tafsir memiliki pendapat yang berbeda-beda tentang makna ma’arij seperti yang tertulis dalam ayat ini. 

Menurut Imam Suyuthi & Mahalli dalam Tafsir Jalalain maknanya adalah tangga (tempat naik) bagi para malaikat. Hal ini selaras dengan pendapat Prof. Wahbah Az-Zuhaili yang mengatakan maksud dari ma’arij adalah maso’id, tempat naik para malaikat. 

Selanjutnya, Prof. Wahbah mengutip Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud dengan ma’arij adalah langit. Dikatakan demikian, karena para malaikat berjalan naik di langit tersebut. Beda dengan Ibnu Abbas, Qatadah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ma’arij adalah keutamaan (fadhilah) dan nikmat. Hal ini karena “tangan-tangan Allah, wajah-wajah-Nya dan kenikmatan-Nya memiliki tingkatan-tingkatan. Itu semua sampai kepada manusia berdasarkan tingkatan-tingkatan yang berlainan.” 

Pendapat Qatadah selaras dengan Al-Maroghi yang memaknai ma’arij dengan “nikmat-nikmat yang derajatnya bertingkat-tingkat, sehingga sampai kepada makhluk dalam berbagai martabatnya.”

Pendapat berbeda datang dari Fakhruddin Ar-Razi. Beliau mengatakan seperti halnya langit yang bertingkat-tingkat berbeda dari segi tinggi, rendah, besar dan kecil; begitu juga ruh-ruh malaikat berbeda-beda dari sisi kekuatan, kelemahan, kesempurnaan, kekurangan, luasnya pengetahuan dan kekuatan dalam mengelola alam. Maka, yang dimaksud dengan ma’arij  di sini adalah isyarat bahwa ruh (malaikat) yang berbeda-beda tersebut bak tempat naik yang memiliki tingkat kebutuhan yang berbeda-beda dan tempat turun untuk turunnya rahmat kepada kita. 

Penantian Panjang 

Jibril a.s dan para malaikat lainnya menaiki tangga tersebut untuk bertemu Allah s.w.t dalam waktu sehari yang ekuivalen dengan lima puluh ribu tahun waktu dunia apabila manusia hendak menaiki tangga yang sama (Lihat Prof. Wahbah Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir). Hal ini menunjukan relativitas waktu dunia dan akhirat; bahwa masa hidup di akhirat lebih lama dari waktu dunia. 

Baca juga: Penantian Panjang Menuju Alam Akhirat 

Apa relevansi antara permintaan orang kafir terhadap azab dan naiknya malaikat? Ini untuk Ini untuk menunjukan bahwa dunia yang orang kafir anggap lama, sebenarnya sangat sebentar bila dibandingkan dengan lamanya waktu di akhirat. Menurut Prof Wahbah, penyebutan waktu yaitu 1 hari : 50.000 tahun tidak berpretensi untuk menunjukan waktu yang spesifik, tapi lebih pada perbandingan yang sangat jauh antara dua masa tersebut. 

Dalam menafsirkan ayat ini, para ahli memiliki pendapat yang berbeda. 

Prof. Al-Maroghi mengatakan bahwa ma’arij seperti yang dibahas dalam ayat sebelumnya bermakna tingkatan nikmat yang disediakan oleh Allah s.w.t di akhirat kelak. Orang-orang mukmin dan para malaikat berada pada derajat-derajat yang tinggi sedangkan orang kafir berada pada lapisan bawah. 

Para malaikat dan Jibril a.s menaiki tangga-tangga ke tempat yang bertingkat-tingkat itu memerlukan waktu hanya satu hari, sedangkan para penghuni dunia memerlukan waktu lima puluh ribu tahun untuk menempuh jarak yang sama. 

Beda halnya dengan yang lain, Ar-Razi memiliki pendapat yang berbeda. ‘Uruj di sini bermakna masa penantian manusia untuk mendapatkan giliran penghitungan amalan. Pada masa ini, orang-orang kafir harus menunggu selama lima puluh ribu tahun lamanya. Ini tidak berarti waktu yang eksak, akan tetapi lebih kepada metafora betapa lamanya penantian orang kafir untuk menunggu masa penghisaban mereka. 

Akan tetapi, orang-orang mukmin tidak merasakan masa penantian yang lama. Mereka menunggu tidak lebih dari satu hari, bahkan bisa jadi hanya selama kita menunaikan salat fardu. Hal ini seperti yang diutarakan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abi Sa’id dari Ahmad bahwa masa penantian seorang mukmin diringankan menjadi hanya seperti menunggu salat wajib. 

Pendapat ulama yang berbeda-beda dalam menafsirkan ayat ini memiliki benang merah yang sama, yaitu perbandingan yang sangat jauh akan kehidupan dunia dan akhirat, terutama dari sisi waktu. Ini juga untuk mengingatkan kita – terutama orang kafir yang meminta (dengan nada ejekan) azab yang dijanjikan bahwa Dia s.w.t tidak main-main dengan ancaman ini.

Kewajiban untuk bersabar dalam perjuangan 

Perjuangan Nabi saw dalam menyiarkan risalah agama Islam di kalangan kaum Quraisy mengalami resistensi yang sangat kuat, terutama dari para elit mereka. Seperti halnya yang dikemukakan di awal surat ini, ada di antara mereka yang mengolok-olok Nabi saw dengan menghadirkan azab di hadapan mereka pada saat itu juga, bila memang ajaran yang dibawa Nabi saw itu benar adanya. 

Tentunya, sifat manusiawi Rasul saw bersedih atas olokan ini, namun Allah swt memerintahkan Nabi saw untuk bersabar dan menunggu. 

Baca juga: Akhlak Agung Baginda Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Menurut para ahli tafsir seperti Imam Suyuthi & Mahalli dan Al-Bagowi, ayat ini turun sebelum instruksi dari Allah swt untuk memerangi orang-orang yang menghalangi dakwah Nabi saw. 

Bantahan orang kafir akan datangnya azab bagi mereka 

Meskipun permintaan Nadhir bin Harits telah dijawab oleh Allah swt dalam permulaan ayat ini, akan tetapi orang kafir tetap membantah bahwa azab akan benar-benar datang kepada mereka. Mereka anggap itu adalah sesuatu hal yang mustahil dan mengada-ada. 

Tentu saja mereka menolak, karena pada dasarnya mereka juga tidak mau menerima adanya hari kiamat, surga dan neraka. Bagi mereka hal itu adalah absurd dan tidak dapat diterima oleh nalar. Sebagaimana kita tahu, orang-orang kafir kontemporer dalam tradisi filsafat Barat menganut paham materialisme dan empirisme yang menolak metafisika secara mentah-mentah. Itu artinya, konsep tentang hari kiamat, surga dan neraka tidak dapat mereka terima karena bertentangan dengan paham yang mereka anut. 

Para ulama tafsir seperti Fakhruddin Ar-Razi dan Imam Suyuthi & Mahalli mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “ba’id (jauh)” di sini adalah jauh dari kemungkinan adanya. Artinya, mereka berpendapat mustahil bagi mereka mendapatkan azab dari Allah swt karena sikap kekufuran ini. 

Namun, Allah swt menegaskan dalam ayat berikutnya bahwa azab itu mungkin adanya, bahkan dalam waktu yang sangat dekat. Sebagaimana kita tahu, perbandingan waktu antara dunia dan akhirat yaitu 1 hari : 50.000 tahun. Itu artinya, dalam kacamata akhirat, hari kiamat – di mana orang kafir bersiap untuk menerima balasan atas sikap kekufuran mereka – sangatlah dekat.