Nadhir bin Haris – Inspirasi Q.S. Al-Ma’arij Ayat 1 – 7

Ejekan tentang neraka yang tertempel di kaos oblong. (Google)

Komunitas Al-Muhajirin

SIKSA neraka tampak mustahil apabila dilihat dari perspektif ilmu modern yang bertumpu pada perkawinan antara empirisme dan positivisme. Sudah maklum kedua aliran filsafat ini terang-terangan menolak metafisika, termasuk penjelasan tentang surga dan neraka seperti yang disampaikan oleh para teolog. 

Maka jangan jengah, ketika mengetahui mayoritas ilmuwan Barat, bahkan pada titik tertentu sudah menjangkit masyarakat awamnya – tidak percaya hal-hal yang bersifat gaib, baik itu kabar tentang alam akhirat, moralitas keagamaan, bahkan pada puncak tertinggi menolak eksistensi Tuhan. 

Tidak sedikit dari mereka menjadikan agama sebagai bahan olok-olok, termasuk ketika meminta agar azab yang dijanjikan oleh teks-teks keagamaan (religious scriptures) kepada golongan mereka segera menghampiri. Ketika permintaan mereka tidak terpenuhi, itu menjadi lahan bagi mereka untuk mengafirmasi bahwa ajaran agama adalah khayalan manusia belaka. 

Perilaku ini bukanlah monopoli para sapiens abad ke-21, akan tetapi juga sudah terjadi ketika zaman Rasul saw masih hidup. 

Suatu saat Nadhir bin Haris, seorang pemuka Suku Quraisy, meminta kepada Nabi saw agar segera mendatangkan azab yang Dia s.a.w janjikan seperti yang termaktub dalam Al-Quran. Dia berkata,

Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih

(Q.S. Al-Anfaal: 32)

Tentunya, ini bukanlah permintaan yang tulus, akan tetapi bentuk kepongahan dan olok-olok atas ajaran yang dibawa oleh Nabi s.a.w; supaya dia bisa mengejek beliau ketika permintaannya tidak dapat terpenuhinya. Untungnya, Allah s.w.t menunjukan kuasa-Nya dengan menghinakan dia di Perang Badar. Nadhir tewas dengan naas dalam tragedi tersebut. 

Karena sifatnya yang gaib, banyak orang kafir tidak mau percaya azab yang telah dijanjikan oleh Allah s.w.t melalui risalah kenabian. Mereka berpegang pada fakta empiris bahwa pembangkangan tidak ada korelasinya dengan hidup sengsara di dunia. 

Dulu, ada seorang dosen UIN yang membuat eksperimen dengan tidak shalat selama tiga bulan lamanya. Ia ingin membuktikan bahwa bahwa hidupnya akan tenang-tenangnya meskipun membangkang perintah-Nya. Ketika tidak terjadi apa dalam hidupnya, ia menyimpulkan bahwa tidak ada korelasi antara kekufuran dengan azab yang dijanjikan Allah s.w.t.

Lalu, bagaimana Al-Qur’an mengomentari fenomena ini? 

Dalam Q.S. Ali Imran: 178, Allah s.w.t bersabda,  

Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.

Q.S. Ali Imran: 178

Itu artinya, Allah s.w.t sengaja menangguhkan azab mereka di dunia supaya mereka tetap terlena dengan dosa-dosa mereka, sehingga ketika azab itu datang (baca: kematian), mereka tidak pernah siap untuk menghadapinya. 

Meskipun secara fisik tidak terjadi apa-apa pada dosen UIN tadi, secara non-fisik telah terjadi ‘azab’ pada aspek rohaninya, di mana hidayah Allah s.w.t yang telah ia dapatkan semenjak kecil, harus terlepas dalam genggaman. Dalam perspektif kita, itu adalah azab terberat yang Allah s.w.t berikan pada setiap insan di muka bumi. Wallahu a’lam. [] 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s