Persamaan umat Muslim dan Non-Muslim dalam konstitusi: sebuah kritik teologis

pewresearch.org

Beberapa waktu lalu, Forum Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, Banjar memberikan rekomendasi penggantian diksi ‘kafir’ dengan ‘muwathin’ (warga negara) dalam konteks bernegara.

Selain karena alasan bahwa kata ‘kafir’ mengandung kekerasan teologis, keputusan ini merujuk pada kesamaan posisi antara Muslim dengan Non-Muslim dalam konstitusi negara Indonesia. Setiap orang (apapun agama, ras atau golongannya) setara di hadapan hukum, politik, budaya dan sosial yang berlaku di Indonesia.

Maka wajar apabila beberapa pentolan NU sempat mengeluarkan pendapat bahwa Non-Muslim seperti Ahok berhak untuk menjadi pemimpin pada suatu daerah atau negara karena perspektif yang mereka gunakan adalah negara bukan agama. Meskipun begitu, ada beberapa yang mencoba memberikan argumen teologis atas pendapat ini.

Tentu saja saya menghormati pendapat para ulama NU tersebut karena mereka berpijak pada dalil yang mereka yakini benar.

Bagaimana dengan pendapat saya?

Saya berpendapat bahwa hasil bahtsul masail di atas tidaklah tepat apabila merujuk pada worldview Islam. Sebagai seorang Muslim, saya melihat perspektif Islam harus kita gunakan sebagai landasan dalam berpikir dan bersikap meskipun itu pada tataran ketatanegaraan. Pemisahan antara negara dan agama – menurut hemat saya – adalah pengejawantahan dari proses sekulerisasi.

Sepanjang sepengetahuan pendek saya, dalam ajaran Islam, baik dalam konteks bernegara maupun beragama, umat Islam tidaklah setara dengan umat non-Islam. Umat Islam memiliki kedudukan yang lebih mulia dari mereka.

Saya mengambil hikmah dari Q.S. Al-Qalam ayat 35 yang mana Allah swt menegaskan bahwa tidaklah mungkin setara antara ketaatan dan kekufuran.

Konteks ayat di atas adalah pernyataan kaum kafir Quraisy yang mengatakan bahwa mereka akan diberikan keutamaan di akhirat kelak, sebagaimana mereka mendapatkan itu di dunia.

Para ulama menyatakan bahwa ayat ini menunjukan posisi yang tidak sama antara Muslim dan non-Muslim (lihat Tafsir Mafatihul Gaib Fakhruddin Ar-Razi).

Doktrin teologis tentang ketidaksamaan ini, sejatinya kita integrasikan dalam kritik terhadap konstitusi. Karena, bagaimanapun juga ayat-ayat Alquran harus kita jadikan referensi yang lebih tinggi dari ayat-ayat konsitusi.

Adapun penerimaan terhadap sikap kita ini dalam konteks konstitusi tergantung pada usaha kita dalam membuatnya sebagai kesepakatan dengan umat non-Muslim di wilayah Indonesia. Apakah ada political will dari para politisi Muslim untuk menjadikan umat Islam mendapatkan posisi lebih tinggi dari umat-umat lain dalam konteks kenegaraan.

Sebagai bukti empiris, Israel, Malaysia dan Arab Saudi bisa melakukan hal seperti itu dalam konsitusi negara mereka. Dan menurut saya, dalam demokrasi yang kita sepakati sebagai sistem yang berlaku di Indonesia hal ini sah adanya.

Kita tahu bahwa baru-baru ini Israel meratifikasi undang-undang yang menjadikan negara ini sebagai negara Yahudi dan bangsa Yahudi memiliki previlege lebih dari ras dan penganut agama lain.

Di Malaysia, bangsa Melayu mendapatkan kedudukan istimewa di mata konstitusi. Begitu juga di Arab Saudi di mana umat Muslim mendapatkan posisi lebih tinggi dari penganut agama lain.

Meskipun begitu, kita tahu bahwa di negara-negara tersebut supermasi hukum tetap bisa tegak. Ketidaksamaan antar warga negara tidak memengaruhi pelayanan pemerintah terhadap rakyatnya.

Kalau pun usaha ini mustahil adanya, setidaknya dalam iktikad kita tetap terpatri bahwa Muslim tidak sama dengan non-Muslim, seperti halnya keyakinan bahwa umat Islam hanya boleh memilih pemimpin Muslim seperti yang tertuang dalam Q.S. Al-Maidah ayat 51, meskipun pendapat kita ini tidak mendapatkan legitimasi oleh konstitusi negara.

Kalau pun kita tidak bisa menyukseskan usaha ini, setidaknya kita tidak menjadi bagian yang mencegah usaha orang-orang yang berusaha untuk menggapai cita-cita ini.

Tolonglah agama Allah, niscaya Allah akan menolong kita dan menetapkan langkah kita. Wallahu a’lam. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s