Setelah Sumpah Palsu – Inspirasi al-Quran Q.S. Al-Qalam (8 – 16)

fastcompany.net

SUMPAH palsu dan kebohongan adalah sumber kemaksiatan dan memicu perbuatan-perbuatan tercela lainnya. Dalam Q.S. Al-Qalam (8 – 16) digambarkan beberapa perbuatan keji yang mungkin dapat dipicu dari kebiasaan bersumpah dan berbohong.

Orang yang sering bersumpah biasanya memiliki pikiran kotor. Aura negatif senantiasa melingkupi pemikirannya. Dia akan terbiasa dengan sikap suuzhan terhadap apa yang diperbuat oleh rekannya, tanpa melihat fakta dan data. Apabila tabiat ini dibiarkan, maka tidak mungkin semua perilaku dia akan bersifat negatif dan kontra-produktif.

Selanjutnya, manusia tipe ini tidak akan memiliki teman sejati, hatta keluarga yang sangat dekat dengannya. Karena persepsi negatif selalu menyesaki pikirannya, dia tidak akan pernah memiliki teman kepercayaan. Dia akan menikam sahabat karibnya tanpa diketahui olehnya. Rahasia pribadi yang disampaikan oleh rekannya akan dia umbar sebagai bentuk pembunuhan karakter dan penikaman dari belakang. 

Maka dari itu dia tidak akan pernah menjadi orang yang konsisten. Perilakunya disesuaikan dengan kepentingan pada masanya. Pada saat golongan A jaya, dia akan menjadi bagian darinya dan meraup keuntungan di dalamnya. Tapi, tatkala golongan tersebut meredup, dia akan meninggalkannya dan menjadi oposan utama; menyebarkan aib internal golongan tersebut pada musuh bebuyutannya – yang sekarang menjadi sahabat karibnya.

Manusia jenis ini pada dasarnya bersifat egois – hanya mementingkan ego pribadi dan mengabaikan kepentingan bersama. Maka wajar apabila dia sangat bakhil dengan hartanya. Dia tidak mau menginfakkan hartanya pada jalan yang telah disyariatkan oleh Allah swt. Dia berpikir bahwa harta yang dia dapatkan semata adalah hasil dari jerih payah yang ia kumpulkan tanpa lelah, maka tak layak untuk diberikan secara percuma kepada orang lain.

Kalaupun dia mengeluarkan sebagian hartanya, hal itu tidaklah murni atas dasar kemanusiaan, akan tetapi lebih pada bagiamana dia mengerek popularitasnya di mata manusia lain. Ya, dia mengambil keuntungan duniawi dari kegiatan filantropisnya. Lihat saja bagaimana dia mengekspos ‘kedermawanannya’ sehingga hampir seluruh manusia tahu.

Walakhir, sikap-sikap negatif ini akan menjadi sebuah kepribadian yang melekat pada dirinya. Akan sangat sulit baginya untuk merubahnya. Dia akan terbiasa dengan perbuatan-perbuatan yang menguntungkan dirinya dan menzalimi orang lain, tanpa melihat apakah hal ini dibolehkan dalam agama.

Seyogyanya, tugas kita adalah menjauhi tipikal manusia seperti ini, karena pada dasarnya akhlak tercela itu menyebar. Kita berlindung pada Allah swt dari perbuatan-perbuatan keji di atas. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s