Al-Mulk 15: Menjemput Rezeki

(15. Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya.)

Syukur alhamdulillah, dan ini memang bentuk kuasa-Nya, bahwasanya Dia menciptakan bumi mudah untuk digarap. Dalam pemaknaan kata “dzalula: mudah” ada beberapa pendapat seperti yang ditulis oleh Ar-Razi;

Pertama, bahwasanya Allah swt tidak menjadikan bumi keras seperti gurun yang membuat kita susah untuk berjalan di atasnya.

Kedua, Allah swt menjadikan bumi lembut sehingga memungkinkan untuk digali, dan dibangun bangunan di atasnya. Kalau misalnya keras, maka akan sangat sulit untuk mengolahnya.

Ketiga, Kalau misalnya keras seperti batu, atau seperti emas dan besi, maka akan panas ketika musim panas, dan sangat dingin ketika musim dingin, dan hal ini akan sulit untuk ditanami.

Keempat, Allah swt membentangkan bumi ini dengan mengontrol pergerakan udaranya, sehingga, meskipun pada hakikatnya selalu bergerak dan berputar,  dia akan tetap terkontrol.

Ayat ini menganjurkan kita untuk meninggalkan rumah ke tempat kerja, entah itu kantor, lapak, ladang, hutan atau yang lainnya dengan maksud menjemput rezeki yang memang telah disiapkan oleh Allah swt.

Para ahli tafsir berselisih pendapat ketika menafsirkan kata “manakib”. Ada yang mengartikan gunung-gunung, pelosok-pelosok, pinggir-pinggir, dan ujung-ujungnya. Dalam konteks dunia modern saat ini – menurut hemat saya – tentu hal itu bisa ditafsirkan sebagai macam-macam lapangan pekerjaan yang memiliki medan berbeda-beda. Bisa jadi kantor untuk para pekerja kantoran, lapak untuk para pedagang, ladang untuk para petani, bahkan bisa juga rumah untuk mereka yang bergerak dalam bidang internet marketing. Yang penting, untuk menjemput rezekinya, kita harus bergerak dan terus berusaha.  

Apabila kondisi kampung kita tidak kondusif untuk menjemput rezeki-Nya, maka kita dianjurkan untuk pergi merantau, mencarinya di tempat lain, yang memang masih merupakan bumi Allah yang mudah untuk digarap.

Namun tentunya hal ini harus dibarengi dengan sikap tawakkal kepada Allah swt. Usaha harus tetap dibarengi dengan tawakkal, karena pada hakikatnya semua rezeki itu adalah milik Allah. Hal ini selaras dengan hadits yang diriwayatkan oleh Umar Bin Khattab RA ”Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.”

Ibnu Katsir mengatakan, “bepergianlah semau kamu di seluruh penjuru bumi dengan berbagai macam pekerjaan dan perdagangan, dan ketahuilah bahwasanya usaha kamu akan sia-sia, kecuali Allah swt. memudahkan urusanmu.”

(… Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.)

Ar-Razi menulis, “Kehidupan dunia yang dipenuhi rezeki dari-Nya adalah kehidupan orang yang tahu bahwasanya tempat kembali-Nya adalah Allah swt, yakin bahwa perjalanan-Nya adalah menuju Allah.”

Penggalan ayat ini, pada hakikatnya, merupakan peringatan untuk menjauhi kekufuran dan kemaksiatan, baik di kala sendiri maupun di depan umum. Keselamatan kita di dunia merupakan kehendak dan rahmat-Nya, dan kalau saja Dia berkehendak maka bisa saja Dia membalikkan keadaan; seketika menurunkan hujan yang merusak dari awan yang dipaksa atas kehendak-Nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s