Sejarah Pembangkangan Kaum Kafir: Kandungan Q.S. Al-Muthaffifin 7 – 17

richard-dawkins-007

Inspirasi Ayat:

tulisan-arab-alquran-surat-al-muthaffifiin-ayat-7-17

Sejarah seringkali terulang. Hanya orang dan kondisi saja yang berubah, tapi secara substansial apa yang terjadi pada masa lalu, kerap terjadi pada masa ini. Banyak orang tidak mau belajar sejarah, karena mengaggap kajian ini kuno di saat trend masa kini adalah serba futuristik. Padahal sejarah memberikan kita wawasan untuk melihat ke depan.

Begitu juga dengan sejarah pembangkangan manusia terhadap Tuhannya. Literatur-literatur keagamaan dan sejarah menunjukan siklus kehidupan yang mana di dalamnya terdapat golongan yang enggan tunduk kepada Sang Pencipta. Hati mereka tertutup, jiwa mereka buta dan akal waras mereka tak berfungsi ketika datang risalah dakwah di hadapan mereka. Mungkin, Allah pun enggan membukakan pintu hidayah kepada mereka, karena kesombongan dan kecongkakan tingkah mereka.

Zaman dahulu ada Fir’aun, intelektual aristokrat yang menolak seruan Nabi Musa AS untuk menyembah Tuhan Esa. Merasa dia kuat dan memiliki segalanya untuk mengontrol kehidupan, Tuhan pun dia lupakan. Dan kita melihat sejarah pun terus mencatat generasi keturunan Fir’aun. Lihat saja fenomena di Barat yang dikatakan maju dan memiliki kekuatan untuk mengontrol alam semesta. Mayoritas penduduknya sudah melupakan Tuhan dan merasa tidak memerlukanNya untuk menjalani kehidupan.

Tidak cukup di sana, mereka pun membuat program sistematis untuk menggatikan peran Tuhan di muka bumi. Lihat saja mereka menentang syari’at Tuhan tentang bagaimana kita hidup di muka bumi. Oke, tidak ada syariat Tuhan di muka bumi, tapi dia kan sudah memberikan gambaran prinsipal tentang bagaimana kita mengarungi kehidupan. Bisa kita katakan Tuhan sudah disingkirkan dan hanya menjadi komoditas pribadi saja.

Tidak cukup itu, mereka juga membuat sebuah kampanye untuk melupakan Tuhan. Anda tahu Richard Dawkins? Seorang biologist berkebangsaan Inggris melalui programnya RDF melakukan serangkaian acara dan advokasi untuk memurtadkan kaum beriman. Mereka pun membuat serangkaian kampanye sistematis untuk meninggalkan Tuhan di muka bumi. Tak jarang mereka melakukannya dengan menggunaan kata-kata sarkas. Mereka tertawakan para kaum beriman dan mengkategorikannya sebagai “savage”. Yang lebih serius, mereka justru mencap kaum beriman sebagai orang sesat, padahal merekalah yang sebenarnya sesat.

Tentunya, kita sebagai orang beriman tidak perlu lah terpancing dengan sikap dan ejekan mereka. Apa yang mereka lakukan tidak akan merusak keagungan Tuhan dan ajaran-Nya. Yang kita lakukan adalah tetap lurus, meskipun yang lain bengkok. Tentunya, kita juga harus menginfaqkan sebagian waktu kita untuk mengklarifikasi klaim kaum ateis terhadap orang beriman dengan cara yang lembut dan tidak menggunakan kekerasan.

Perspektif Alternatif Mengkaji al-Quran

quran

Interaksi mayoritas umat Islam dengan al-Quran hanyalah membaca, tanpa ada usaha signifikan untuk memahaminya, menghapalnya dan mengamalkannya. Memang, “sekedar” membaca al-Quran saja Insya Allah sudah mendapatkan pahala, akan tetapi kalau berhenti pada level ini saja tidaklah cukup. Perlu ada usaha yang kuat untuk bisa naik ke tingkat selanjutnya.

Salah satu alternatif untuk meniti titian ke tingkat selanjutnya adalah memahami al-Quran dan mengamalkannya untuk kehidupan sehari-hari. Namun ternyata ini tidak mudah. Untuk bisa menafsirkan al-Quran memerlukan beberapa perangkat ilmu yang cukup complicated. Mungkin sangat mustahil bagi orang awam yang tidak memiliki dasar kuat ilmu-ilmu bantu tersebut untuk bisa menafsirkan al-Quran. Misalnya,  ayat tentang “kalimah sawa” (Ali Imrah, 3:63) menghasilkan penafsiran yang berbeda secara tajam antar intelektual Muslim. Untuk menafsirkan ayat ini, kita harus menguasai beberapa ilmu bantu seperti balaghoh, nahwu, sharaf dan ilmu tafsir. Hal itu pun tidak akan membuat mereka bertemu pada konsesus yang sama karena setiap orang memakai perspektif yang berbeda ketika menafsirkan ayat.

Bagi orang awam – yang tidak memiliki dasar keilmuan bantu yang mumpuni – menafisrkan ayat tersebut tidaklah mudah – untuk tidak mengatakan mustahil. Orang awam seperti ini lebih baik belajar ilmu-ilmu naqliyah aplikatif yang sudah “jadi” seperti fiqh, tauhid, dan siyasah yang telah dikembangkan oleh para ulama otoritatif daripada langsung berinteraksi dengan al-Quran, supaya tidak menyebabkan penafsiran yang sesat.

Lalu apakah kita (baca: orang awam) bisa langsung menikmati al-Quran secara langsung tanpa harus merujuk kepada cabang-cabang ilmu naqliyah di atas? Menurut saya bisa. Caranya adalah dengan memahami ayat-ayat yang termasuk dalam kategori panduan kehidupan dan obat penawar bagi kerumitan hidup. Misalnya ayat yang berbunyi “bisa jadi apa yang baik bagi kamu, belum tentu baik menurut Allah” (Al-Baqarah, 2:216); kita bisa mengeksplorasi ayat ini untuk menasehati kita untuk bersabar ketika tidak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. Ibaratnya ayat-ayat tersebut berperan menggantikan buku-buku “how-to” yang sangat laris di pasaran atau kutipan motivator ulung seperti Mario Teguh dan Andrie Wongso. Dalam kaca mata saya, hal ini berarti kita memposisikan al-Quran sebagai as-syifa’; obat bagi segala kompleknya hidup. Atau tombo ati; obat hati yang menjadi penawar bagi hati yang resah dan gundah gulana. Saya melihat banyak ayat yang termasuk dalam kategori ini yang bisa dipahami meskipun dengan keilmuan bantu yang tidak terlalu dalam. Dan justru, jenis ayat seperti ini kalau dikompilasikan dan disebarluaskan akan sangat laris – melebihi larisnya buku how to yang tirasnya mengalahkan buku-buku serius seperti ilmu politik dan hukum.

Tentunya perspektif ini bukan dalam rangka mengkerdilkan al-Quran, yang sejatinya luas maknanya. Saya percaya bahwa dalam al-Quran terdapat prinsip-prinsip yang membimbing kita bagaimana kita menyikapi permasalahan pendidikan, politik, hukum, ketatatanegaraan, ekonomi dan alam semesta. Tapi, bagi orang yang awam, hal itu sangat sulit dijangkau karena keterbatasan ilmu bantu yang mereka punya. Walhasiil, supaya mereka bisa menikmati interaksi dengan al-Quran secara langsung, maka alangkah baiknya kalau kita menyodorkan perspektif interaksi al-Quran seperti ini. Dan inilah yang sedang saya gagas dalam blog ini. Insya Allah, semoga Allah meridhai kita semua, amiin.