Agar Keluar dari Kesulitan Hidup – Kandungan Q.S. Al-Insyirah

Hidup ini memiliki misi, dan misi utamanya adalah penghambaan tanpa batas kepada Allah swt yang dikejawantahkan dalam kerja-kerja baik.

Mengembangkan pesantren menjadi lebih besar dan memiliki pengaruh yang kuat dan mengakar dalam masyarakat, misalnya, adalah, Insya Allah, misi mulia yang masih ada dalam ruang lingkup penghambaan tanpa batas kepada-Nya, Sang Pencipta alam semesta.

Tentunya, selayaknya nabi Muhammad saw dalam menyebarkan syariat-Nya, kita akan menemukan pelbagai tantangan dan rintangan. Entah itu kesulitan ekonomi, sakit, cemoohan orang, sampai kemalasan yang tak tertahankan. Semuanya seringkali memikat kita untuk berhenti sampai di sini, membuang semua idealisme hidup dan berapologi pada kekurangan-kekurangan diri.

Tidak sama sekali. Kesulitan adalah bumbu kehidupan, dan Allah swt telah menyiapkan kemudahan setelahnya. Namun, Allah memberikan prasyarat; kita harus terus cape dan tetap merendahkan diri di hadapan-Nya.

Iya benar, cape adalah salah satu inti daripada kehidupan. Ia adalah gambaran kehidupan kita yang penuh dengan dinamika, usaha, peperangan dengan hawa nafsu, ambisi dan cita-cita. Orang yang tak pernah cape tidak mungkin bisa merasakan enaknya hidup. Wamalladzatu ba’da ta’abi. Maka sungguh sangat dipahami apabila Pak Zar, pendiri Pondok Modern Gontor sering mengungkapkan bahwa istirahat itu di surga, arrahatu fil jannah.  Atau ungkapan semangat Pak Syukri yang sering berkata, “Kalau mau sukses jangan pernah cape”. Dan ternyata semua ungkapannya itu sangat benar, terbukti dengan karya-karya dahsyat mereka.

Syarat kedua adalah sikap tawadhu dan tadharru’ kita di hadapan Allah swt. Bagaimanapun juga Dia lah yang memberikan kita kekuatan untuk bisa berusaha. Secara hakikat, tidak ada sebab akibat yang ditempelkan kepada manusia di dunia ini. Semuanya adalah oleh-Nya dan berkat-Nya. Maka, sangat penting apabila kita tetap bersikap humble, misalnya, ketika kita telah meraih apa yang kita dapatkan. Kita tidak boleh jumawa terhadap apa yang kita capai. Sikap yang tepat adalah selalu bersyukur dan selalu mengaitkan ini sebagai pertolongan Allah. Pun sebaliknya, ketika kita merasa lelah dan payah dalam mencapai tujuan akhir dari pengabdian kita, maka titipkanlah harapan ini kepada-Nya, Sang Penguasa alam semesta.

Wallahu a’lam.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s