Mukmin vs. Kafir – Kandungan Q.S. Al-Bayyinah

orang-kafir

keajaibanislam.wordpress.com

Quran Surat al-Bayyinah menjelaskan tentang perbedaan respon kaum kafir dan beriman dalam menyikapi ayat-ayat Allah dan jani-Nya untuk mereka di alam akhirat.

  1. Rasulullah saw adalah perwakilan dari Allah swt dalam menyampaikan risalah ketauhidan ke seluruh umat manusia, termasuk ahlul kitab (yahudi dan nasrani), musyrikin (penganut agama lain dari bangsa Arab dan non-Arab).
  2. Di sini kita tahu bahwa kedatangan Islam adalah sebagai penyempurna dari agama-agama sebelumnya, dan menasakh agama Yahudi dan Nasrani dan menggantinya dengan ajaran Islam yang dibawa Muhammad saw.
  3. Ketika risalah Allah sampai kepada kaum kafir, mereka terpecah-pecah. Ada yang menerima, namun banyak juga yang menolak. Allah swt menggambarkan bahwa sebenarnya yang menolak pun banyak yang percaya akan kebenaran yang dibawa Nabi Muhamamd saw, namun karena beberapa hal seperti faktor sosiologis, mereka menolak kata hati mereka.
  4. Agama yang lurus itu adalah; beribadah Allah dengan ikhlas, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat.
  5. Ayat ini juga menggambarkan nasib kaum kafir di akhirat; mereka akan tanggal di neraka jahannam dan tinggal di dalamnya. Allah juga mendeskripsikan mereka sebagai sejelek-jeleknya makhluk (karena tidak mau percaya Allah).
  6. Selain itu, kaum beriman yang mengerjakan amal shaleh mereka akan tinggal di surgaadn selamanya, yang mana mengalir di dalamnya sungai. Orang beriman adalah sebaik-baiknya makhluk karena mau percaya akan eksistensi Allah swt.
  7. Allah meridhai mereka, dan mereka ridha menyatakan Allah sebagai Tuhan mereka. Mereka juga sangat takut kepada Allah, dengan menjauhi larangan-Nya, dan mengerjakan perintah-Nya.

Islam yang Murni

quran2

Dahulu, Allah swt mengutus sayyidaana Musa dan Isa As untuk menyampaikan risalah ketauhidan kepada masyarakat mereka. Namun dalam perjalanan waktu, ketika mereka telah wafat, banyak penyimpangan yang membuat legitimasi ketuhanan Allah ‘dirusak’ dengan pemahaman-pemahaman non-tauhidik.

Misalnya, dalam risalah Nabi Musa as dikenal anak Allah, yaitu Ezra. Pun dengan risalah Nabi Isa AS, beliau ditahbiskan sebagai putra Allah, dan berganti nama menjad Yesus.

Dalam Islam pun, tidak menutup kemungkinan terjadi hal seperti itu. Lihat saja bagaimana orang mengkultuskan Nabi Muhammad saw, sehingga peringkatnya hampir sama dengan Allah. Tentunya, saya tidak sedang mengkritisi tradisi rajaban dan muludan sepeti yang ada dalam tradisi NU. Kita merayakannya hanya untuk mengenangnya dan bershalawat padanya. Bukan dalam rangka mengkultuskannya.

Yang cukup mengkhawatirkan, sekarang tumbuh subur tarekat-tarekat yang mensyaratkan baiat kepada mursyid sebagai jalan menuju Allah. Dalam pandangan saya, kita bisa mengenal Allah tanpa perantara manusia yang lain. Tentunya, kita minta pertolongan dari Allah supaya bisa selamat dari segala godaan keimanan.

Lalu bagaimana dengan syafaat Nabi Muhammad saw? Saya belum tahu. Saya harus menelusurinya lebih jauh.

Tauhid vs. Amalan

ahok

Mana yang lebih penting, tauhid atau amalan? Yang pertama tentu tauhid terlebih dahulu. Tapi itu saja tidak cukup. Tauhid yang baik adalah terkejawantahkan dalam keyakinan, lisan dan perbuatan. Orang yang bartauhid baik, maka akan memiliki amalan yang baik. Untuk itu, sebagian ulama berpendapat bahwa akhlak yang baik merupakan refleksi dari tauhid yang baik.

Lalu apa yang harus kita lakukan ketika ada dua pilihan pemimpin; yang satu seorang Muslim, tapi zalim; kedua seorang non-Muslim tapi adil? Dalam pandangan saya, kedua-duanya tidak cocok untuk dipilih. Ada yang salah dalam keimanan Muslim yang zalim, begitu juga dengan Non-Muslim yang adil. Tapi ketika ketika dituntut untuk memilih, mungkin, kita bisa melihatnya dalam perspektif mana yang akan memberikan madharat lebih sedikit. Wallahu a’lam.

 

Pentingnya Rasul

rasul akhir zaman 1

Ada orang berpendapat bahwa kita tidak memerlukan rasul untuk menemukan kebenaran dari Allah swt. Akal kita sudah cukup untuk bisa menangkap pesan-pesan dari Langit tentang bagaimana kita menjalani hidup di dunia ini. Menurut mereka, akal adalah pemberian yang sangat berharga dari-Nya untuk umat manusia sebagai pengganti-Nya di muka bumi.

Dari kalangan agamawan, muncul gerakan inkarus-sunnah yang menolak otoritas Rasul dan hadits sebagai rujukan dalam menentukan hukum-hukum agama. Bagi golongan ini, hadits tidak mampu menandingi al-Quran dari segi otentikasi dan originalitas. Mereka juga merujuk kepada ayat-ayat al-Quran yang menunjukan kecukupan al-Quran sebagai sumber hukum Islam.

Dari kaum filosof, ada beberapa yang tidak mempercayai hadits, dan dalam titik tertentu ada yang menyepelekan otoritas hadits. Beberapa kalangan dari Muslim liberal, contohnya, menganggap syariat yang dibawa hadits seringkali tidak masuk akal, dan mempersempit ruang gerak kita di alam modern. Mereka melihat banyak hadits yang memiliki konteks masa lalu, sehingga tidak cocok untuk dipraktekan pada masa kini.

Mereka juga berargumen lemahnya studi periwayatan hadits yang ada dalam ulumul hadits. Sebagian dari mereka menolak sistem periwayatan hadits dalam menilai sebuah hadits, dan lebih memilih memakan metode sejarah, yang biasa diaplikasikan dalam penelitian ilmu sejarah kontemporer.

Yang lebih ekstrem, ada beberapa filosof Muslim yang berpendapat bahwa kehadiran Rasul ke muka bumi adalah sesuatu hal yang tidak perlu, karena kita tidak memerlukan manusia untuk bisa mencapai-Nya. Allah telah memberikan perangkat yang cukup untuk membawa manusia dalam memahami dan mencapai-Nya.

Pentingnya Rasul

Rasul bermakna utusan Allah swt yang mengemban tugas dalam menyampaikan ajaran Allah melalui wahyu yang disampaikan oleh Jibril. Dari sini saja sebenarnya sudah terlihat betapa pentingnya eksistensi Rasul dalam menyebarkan dan merawat eksistensi ajaran Allah di muka bumi. Rasul menjadi penting karena Allah tidak memberikan wahyunya ke sembarang orang. Hanya orang-orang terpilihlah dalam tingkat Rasul yang mendapatkan amanah untuk mengemban wahyu dan mengajarkannya ke umat manusia.

Dalam Q.S. Al-Bayyinah dijelaskan bahwa Rasul adalah penjelas, yang menjelaskan ayat-ayat Allah dan ajaran-Nya kepada umat manusia. Rasul pula yang menjadikan perselisihan antar umat karena permasalahan keagamaan dapat diselesaikan.

Dalam titik ini, kita memerlukan Rasul dan sunnahnya sebagai pensyarah ayat-ayat yang terkandung dalam al-Quran. Tergantung dari sikap anda apakah mau mempercayainya atau tidak. Wallahu a’lam.

 

Sesungguhnya Banyak Manusia Ingkar – Kandungan Q.S. Al-‘Adiyat

horses

  1. Allah swt bersumpah atas nama kuda yang berlari kencang, yang memercikkan api, yang menyerang di waktu subuh, sehingga menerbangkan debu-debu dan meneyerbu di tengah-tengah musuh,
  2. bahwasanya manusia seringkali ingkar, dengan sadar, sesadar-sadarnya tidak berterima kasih atas nikmat yang mereka dapatkan.
  3. Mereka sangat mencintai harta mereka, daripada berterima kasih kepada yang menganugerahkannya dengan tunduk sujud menyembah-Nya, mengakui keagungan rahmat-Nya.
  4. Mereka merasa bahwa apa yang mereka dapat adalah berkat usahanya sendiri, tidak ada campur tangan dari Tuhan.
  5. Kalau saja mereka tahu, apa yang terjadi ketika mereka dibangkitkan dari alam kubur, dan dikeluarkan apa yang ada di dada mereka, dari semua perbuatan mereka di dunia, tentu mereka tidak akan ingkar.
  6. Dan Allah Maha teliti terhadap apa yang mereka kerjakan di dunia.

Kebahagiaan bagi Orang yang Beramal – Kandungan Q.S. Al-Qariah

  1. Allah swt telah menginformasikan kepada kita tentang kiamat sebagai peralihan antara dunia dan akhirat.
  2. Ketika kiamat terjadi, manusia bak belalang yang berterbangan tanpa arah. Mereka bingung, dan tidak tahu tempat untuk berlindung. Gunung-gunung berterbangan seperti kapas yang mengapung.
  3. Tanda-tanda alam sudah menunjukan bahwa kiamat bukanlah hal yang mustahil; perubahan iklim yang ekstrim dan pemanasan global adalah salah satu indikasi akan kemungkinan hari kiamat.
  4. Manusia pun seakan tidak memiliki kuasa ketika menghadapi benacana alam; lihat saja bagaiamana lautan kesedihan yang terlahir dari bencana tsunami atau gempa bumi. Secanggih apapun teknonologi manusia, tetap tidak akan bisa menahannya.
  5. Lalu ada apa setelah kiamat?
  6. Allah juga menginformasikan bahwa setelah kiamat ada kehidupan akhirat, dimana sebagian besar manusia terbagi dua; yang amalannya berat maka baginya kehidupan yang bahagian. Sebaliknya, apabila timbangan kebaikannya ringan, maka neraka yang di dalamnya terdapat api yang sangat panas sudah menanti.
  7. Ayat ini menunujukan bahwa apa yang kita perbuat di dunia, mesti kita pertanggungjawabkan di akhirat kelak.