Mereka yang Tetap Berpaling

renunganjiwa.blogspot.com

Kandungan Ayat: (Q.S. Al-Qasas: 56), (Q.S. Al-Kahf: 6), (Q.S. An-Nahhl: 93).

Ketika seseorang memutuskan untuk bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, maka dia harus berkomitmen untuk menjalankan syariat Islam dalam kehidupannya. Salah satu makna syahadatain adalah tunduk terhadap aturan yang telah ditetapkan Allah yang terkejawantahkan dalam al-Quran dan as-Sunnah. Saya yakin komitmen ini tidak bermakna sekuler, yakni memasungnya pada ruang-ruang privat setiap individu. Akan tetapi kita menjadikannya sebagai landasan dalam pembangunan tatanan sebuah masyarakat.

Maka, sudah menjadi kewajiban setiap Muslim untuk menegakkan syariat Islam dalam kehidupannya. Mengenai pelaksanaannya boleh bermacam-macam. Ada yang berkeyakinan bahwa penegakkan syariat Islam tidak bisa dilaksanakan kecuali dengan jalur politik, namun sebagian lain berpikir bahwa hal ini lebih baik dilakukan dengan pendekatan kultur. Ada yang mengatakan bahwa penegakkan syariat Islam harus dilakukan baik secara formal maupun substansial, namun ada juga yang beranggapan bahwa penegakkan syariat Islam cukup dilaksanakan dalam tataran substansial dan prinsipal. Bagi saya hal itu sah-sah saja, dan saya menghormati setiap langkah setiap Muslim untuk menegakkan syariat Islam dalam kehidupannya.

Namun, yang saya kurang setujui adalah penggunaan langkah-langkah yang tidak syar’i / Islami dalam menegakkan syariat Islam seperti penggunaan kekerasan tidak pada tempatnya sebanding ketidaksetujuan saya pada sebagian Muslim yang menolak mentah-mentah penegakkan syariat Islam. Saya kira pencapaian syariat Islam dengan jalan-jalan yang tidak syar’i mencederai cita-cita yang sejatinya mulia tersebut. Analoginya, ada orang yang mencuri kain sarung untuk ia gunakan dalam sembahyang shalat, tentu ini hal yang salah kaprah. Melakukan hal yang diharamkan untuk melaksanakan hal yang diwajibkan.

Pernyataan saya ini bukanlah tanpa dasar, karena sekarang ini banyak umat Islam yang seringkali menggunakan kekerasan untuk meraih cita-cita menegakkan syariat Islam. Ribuan orang harus mereka bunuh, bahkan saudara-saudara Muslim mereka yang berbeda pendapat. Bayangkan saja, membunuh orang kafir tak berdosa adalah dosa besar, lalu bagaimanakah kalau membunuh Muslim seiman?

Lalu, keadaan ini melahirkan sebuah pertanyaan: begitu mahalkan cita-cita menyebarkan dan menegakkan syariat Islam, sehingga harus mengorbankan ribuan nyawa tak berdosa? Tidak kah ada jalan lain yang lebih damai dan indah untuk menggapainya? Pertanyaan ini semakin relevan ketika kita melihat bahwa dalam ajaran Islam ada adigum laa ikraaha fid din, tidak ada paksaan dalam beragama. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

***

Para nabi, sahabat, auliya dan ulama sedari dulu dengan ikhlas menyebarkan syariat Allah di muka bumi. Mereka menyeru umat manusia untuk tunduk pada ajaran Allah. Mereka mendedikasikan kehidupan mereka untuk menjadi perantara hidayah Allah bagi umat manusia.

Kisah-kisah dalam al-Quran menunjukan bahwa perjuangan para nabi Allah dalam menyebarkan risalah ketauhidan terhadap umatnya senantiasa diwarnai oleh pembangkangan dan penolakan. Kita melihat bagaimana Nabi Musa AS harus berjibaku melawan kezaliman Raja Fir’aun yang menahbiskan dirinya sebagai tuhan. Begitu juga Nabi Daud yang harus berperang melawan dengan musuhnya yang senantiasa menunjukan permusuhan terhadapnya dan umatnya. Bahkan Nabi Nuh AS tidak kuasa mengajak istri dan putranya untuk ikut dalam risalah kenabian.

Hal yang sama dihadapi oleh para penerus nabi yaitu para ulama yang shaleh yang senantiasa mendapatkan resistensi dari orang-orang disekitarnya. Wali songo, Ahmad Dahlan, Hadratussyaikh Hasyim As’ari, Natsir, dan ulama shaleh lainnya selalu mendapatkan rintangan ketika mengajak umatnya ke jalan tauhid.

Pembangkangan dan penolakan nampaknya sudah menjadi fitrah dari medan perjuangan dakwah Islamiyah sepanjang masa, semenjak zaman para nabi, auliya, sampai sekarang. Rasanya tidak mungkin semua umat yang kita seru mengikuti ajakan kita untuk mengesakan Allah.

Dewasa ini, kita pun masih dapat menemukan orang-orang yang tetap konsisten dalam kekafirannya dan berpaling dari risalah tauhid di saat semakin gencarnya gerakan dakwah di negara kita. Kita memiliki banyak sekolah Islam dan pesantren yang senantiasa konsisten dalam memberikan pendidikan dan pengajaran bagi generasi muda Islam. Kita pun melihat semakin menjamurnya forum majelis taklim dan pengajian yang diselenggarakan secara swadaya oleh masyarakat, bahkan kini telah menjamah perkantoran-perkantoran elit. Lebih jauh, di kaca televisi kita juga tidak sulit menemukan program-program dakwah terutama di pagi hari atau bulan Ramadhan.

Dalam bidang keilmuan, kita memiliki stok cendikiawan Muslim yang banyak dan konsisten dalam menyerukan umat ke jalan Allah. Tiap bulan berjilid-jilid buku keislaman terbit dan menghiasi toko-toko buku kita. Dalam dunia digital pun kita memiliki cyber army yang setiap saat mengajak para netizen untuk kembali ke fitrah mereka sebagai hamba Allah.

Sayangnya, semakin bergeliatnya kegiatan dakwah Islamiyah tidak cukup ampuh untuk membawa orang-orang melirik ajakan ini. Banyak sekolah Islam dan pesantren gagal membentuk generasi muda Muslim yang bangga dengan identitas keislaman mereka. Yang kita lihat justru, semakin banyak generasi muda Muslim yang memilih untuk meninggalkan risalah Islam dan berpaling ke jalan yang bengkok.

Pengajian dan majelis taklim tidak mampu untuk membendung even-even yang justru membawa manusia pada jurang kemaksiatan dan kehancuran. Konser musik pengumbar nafsu, pesta sabu dan minuman keras, dan kegiatan-kegiatan yang mengagungkan materialisme semakin menggejala dan menutup geliat dakwah pengajian dan majelis taklim. Begitupun program dakwah di televisi manfaatnya tertutup dengan banyaknya program televisi yang secara nyata mempertontonkan kemaksiatan di depan kita. Yang lebih parah, tidak ada yang mampu menghentikan acara-acara televisi tersebut meskipun sangat kentara bahayanya.

Pembangkangan yang paling nyata di zaman modern ini adalah perlawanan sistematis dan terstruktur oleh para kaum terdidik terhadap seruan untuk menyembah Allah dan mengikuti syariat-Nya. Kita melihat buku, majalah, jurnal dan media lain secara massif terbit untuk menolak ajakan mengakui Allah sebagai Tuhan dan mengikuti segala perintahNya. Para kaum terdidik secara terang-terangan menghina Allah melalui justifikasi-justifikasi ilmiah!

Ada seorang ilmuwan yang menunjukan bukti-bukti ilmiah bahwa Allah itu hanya khayalan, kehidupan setelah kematian adalah bualan, dan surga dan neraka adalah rekaan belaka. Sebagian dari mereka menolak bahwa lesbianisme, gay, dan biseksual dan transeksual itu haram. Bahkan, mereka tidak percaya bahwa syariat Islam adalah jalan untuk menuju kebahagiaan hakiki.

Singkatnya, kita semakin nyata bahwa perjuangan dakwah selalu menghadapi resistensi dari obyek dakwah.

Hakikat Berdakwah

Sebagai manusia biasa, sangat wajar kita merasa lelah terhadap resistensi yang kita temui dalam berjuang. Nabi pun, yang mana merupakan manusia pilihan dan memiliki tingkat spiritual yang tinggi sering merasakan kelelahan atas kondisi ini. Kita ingin kisah Nabi Yunus yang semat khilaf dan keluar dari medan dakwahnya, karena melihat banyak umatnya yang tidak mendengarkan seruannya. Nabi Muhammad saw pun pernah bersedih hati dan karena umatnya selalu berpaling dari ajaran Allah dan bahkan hendak berpikiran untuk mencelakakan dirinya sendiri (QS, 18:6). Syukur alhamdulillah, beliau mendapatkan peringatan dari Allah.

Sekali lagi capek dan lelah dalam menghadapi resistensi perjuangan adalah manusiawi, namun hal itu tidak boleh membuat kita putus asa, bahkan meninggalkan jalan yang begitu mulia ini. Yang lebih parah, dalam pandangan saya, menggunakan kekerasan dalam menyebarkan risalah tauhid, yang justru bisa jadi boomerang bagi kita.

Kita tahu, bahwasanya kita bukanlah tuhan, yang dapat merubah hati seseorang. Tugas kita adalah sebagai perantara hidayah yang hakikatnya milik Allah. Tugas kita adalah menyampaikan risalah ketauhidan kepada khalayak ramai. Selebihnya, itu adalah domain gusti Allah untuk bisa menganugerahkan hidayah kepada mereka (QS, 28:56).

Lebih lagi, Allah menegaskan bahwa tidak ada paksaan dalam memeluk agama Islam, bahkan Allah menyebutkan bahwa Dia sengaja untuk membuat manusia di bumi tetap plural (QS, 16:93).

Ketika kita telah bekerja keras pontang panting dalam mendidik anak didik kita di sekolah, mengorbankan waktu, tenaga dan jiwa kita untuk membawa mereka kepada jalan lurus, seumpamanya mereka  tidak mau mendengarkan kita, terus memilih jalan yang melenceng dari apa yang kita ajarkan, maka kita berikan sepenuhnya kepada Allah. Tentunya, sambil kita mengevaluasi apa yang salah dengan pendidikan kita serta berdoa kepada Allah untuk diberikan dalam menjadi perantara hidayah bagi kita.

Karena hakikatnya manusia itu bukanlah benda mati yang dapat dibentuk seperti yang kita mau. Sekolah atau pesantren bukanlah pabrik yang mengolah manusia menjadi bentuk satu ke bentuk lainnya. Tetap di sana ada ruang rahasia yang harus kita ambil dengan hubungan kita dengan Allah, yaitu hidayah.

Apa yang Harus Kita Lakukan?

Ketika kita telah merasa lelah dengan pembangkangan dan perlawanan dari obyek dakwah kita, padahal kita telah melakukan usaha kita yang terbaik dalam berjuang, maka kita harus tetap sabar dan ikhlas. Sabar dalam artian kita tidak perlu gundah dan resah, apalagi putus asa dan memutuskan untuk tidak melanjutkan jalan dakwah. Ikhlas dalam artian kita membersihkan niat bahwa niat kita adalah untuk berdakwah melaksanakan titah nabi balligu ‘anni wala ayaah dan menjadi penerus para nabi. Tidak ada pamrih dunia. Mungkin saja penyebab kegagalan perjuangan kita disebabkan masih ada serpihan-serpihan pamrih dunia atau riya dan ujub.

Maka, sebaiknya kita melihat diri kita. Sudahkah kita bertaqwa kepada Allah? Kita menyeru orang lain untuk bertaqwa keada Allah, tapi apakah kita sudah menyeru diri kita untuk bertaqwa kepadanya. Sudah kita melaksanakan kewajiban dan sunnah-sunnahnya? Sudahkah kita menjauhi dosa?

Seorang pimpinan pesantren besar di Jawa Timur pernah mengingatkan penulis bahwa ketika kita berjuang menegakkan kalimatullah kita harus memiliki tirakat. Kita harus memiliki ritual khusus yang menghubungkan diri kita dengan Allah. Ini adalah perjuangan kita dengan Allah, maka kita harus memiliki tirakat khusus. Puasa senin – kamis, baca al-ma’tsurat pagi dan petang, shalat dluha dan tahajjud, dzikir. Kalau tidak begitu kita tidak akan kuat, karena perjuangan ini adalah perjuangan spritual bukan material.

Akhirnya, sudah semestinya kita mengembalikan ini semua kepada sang Pemilik Hati, Allah swt. kita sadar sesadar-sadarnya bahwa hidayah adalah milik Allah, maka kita kembalikan kepadaNya. Sudah seharusnya kita berdoa kepadaNya agar diberikan kekuatan dalam berjuang di jalan-Nya. Kita juga berdoa semoga saudara, murid, teman kita mendapatkan hidayah dariNya. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s