Dunia Sebagai Ujian

manhajuna.com

manhajuna.com

Kandungan Ayat: Q.S. Al-Kahfi Ayat 7-8

Inilah tragedi manusia modern. Atas dalih kapitalisme, mereka mengeksplorasi bumi dengan semena-mena. Gunung-gunung diratakan untuk dibangun perumahan. Laut direklamasi untuk pemukiman. Mata air dimonopoli untuk dibangun perusaaan air minum. Bumi digali untuk mendapatkan emas, berlian dan barang tambangnya.

Selesai mengeksploitasi satu tempat, mereka berpindah mencari lahan lain. Kalau perlu, mereka berekspansi ke negara-negara yang miskin sumber daya manusia. Dengan dalih investasi mereka merusak sumber daya alam di negara ketiga, mengeruknya dan membawanya ke negara mereka. Mereka membuat kerusakan di mana-mana.

Karena kesewenangan dan keserakahan mereka, kita umat manusia harus menanggung akibatnya. Akibat terganggunya keseimbangan alam, kemarau panjang melanda beberapa daerah di dunia. Suhu panas ekstrim merajalela. Salju di kutub mencair dan mengancam akan membanjiri muka bumi. Para ilmuwan menamkannya perubahan iklim (climate change) atau pemanasan global (global warming). Mereka sepakat bahwa hal ini disebabkan oleh eksploitasi besar-besaran kapitalisme dan liberalisme.

Kedua faham ini – yang menjadi faham mainstream di semua bidang di dunia – menghalalkan segala cara untuk memenuhi keserakahan manusia. Yang kuat dia yang berkuasa dengan menumpuk kapital sebanyak mungkin. Ratusan perusahaan beromset milyaran dolar dibangun sementara si miskin yang semakin hari sulit untuk sekedar bertahan hidup. Teori evolusi sosial bekerja di sini. Hedonisme menjadi tren mainstream umat manusia; selagi masih di dunia, kenapa tidak menikmati hidup?

Ini jugalah bentuk dari semakin menggejalanya sekulerisme dimana nilai-nilai profetik mulai ditinggalkan oleh jutaan manusia. Mereka menolak asumsi kehidupan akhirat sebagai bentuk pertanggungjawaban apa yang telah mereka lakukan di dunia. Peran agama dikerdilkan dan dikebiri menjadi ruang privat yang tidak bisa diintervensi oleh siapapun. Manusia menjadi raja di dunia.

Allah swt melalui al-Quran mengecam sikap manusia seperti ini yang seakan lupa bahwa hal itu adalah fana; tidak selamanya. Meskipun begitu, Allah tidak pernah melarang umat manusia untuk mengeksplorasi dunia; selagi itu dalam batas-batas yang telah disyariatkan Allah.

Allah swt memang menciptakan dunia lengkap dengan isinya. Full-furnished. Sinar matahari yang mana makhluk hidup dapat hidup karenanya; sungai, danau dan laut sebagai sumber kehidupan; hewan dan tumbuhan sebagai pakan utama manusia; semuanya didedikasikan untuk manusia, khalifah Allah di muka bumi. Allah memerbolehkan manusia untuk mengeksplorasinya dan memanfaatkannya.

Tapi tunggu dulu. Allah swt menciptakan itu semua bukan tanpa tujuan. Salah satu tujuannya adalah untuk menguji manusia mana di antara mereka yang terbaik perbuatannya; mana di antara mereka yang mampu bersikap zuhud dan mana yang terlena dengannya.

Dari sini kita melihat manusia mendapatkan tantangan dari Allah siapa yang menjadi terbaik dalam perbuatannya. Kita melihat ada negara nir sumber daya alam; tapi memiliki sumber daya manusia yang mumpuni. Akhirnya mereka dapat memanfaatkan keterbatasan yang ada di negaranya dengan memanfaatkan teknologi. Lihat saja negara semisal Jepang, Korea Selatan, Singapura dan lain sebagainya. Bahkan mereka bermusafir ke negara-negara yang miskin sumber daya manusia berkualitas dan mengeksplorasinya. Mereka keruk, olah dan jual. Hebat!

Di satu sisi manusia juga ditantang untuk bersikap zuhud terhadap fasilitas tersebut. Dalam artian, mereka tidak menjadi terlena dengan fasilitas ini sehingga melupakan akhirat. Kita tahu bahwa definisi zuhud adalah tidak mabuk dan gila dengan apa yang kita punya di dunia ini. Kita cicipi secukupnya.

Seperti yang dikutip dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, AL-Ghazali menyitir bahwa Rasulullah saw pernah mengatakan bahwa dunia adalah ladang dari akhirat. Seorang Muslim yang baik harus mampu memberdayakan segala yang ada di bumi sebagai bekal bagi mereka di akhirat. Jangan lantas – dengan alasan cinta akhirat – meninggalkannya sama sekali. Atau berbuat sewenang-wenang melanggar syariat untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya sebagai perwujudan dari hedonisme.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s