In(toleransi) 2

foto: maitreyavoice.com

foto: maitreyavoice.com

Baru-baru ini, media Indonesia hangat memperbincangkan protes yang dilancarkan oleh beberapa aktivis kebebasan beragama kepada SBY yang menerima penghargaan “World Statesman Award” dari organisasi nirlaba Appeal of Conscience Foundation (ACF). Mereka beranggapan bahwa SBY tidak berhak mendapatkan penghargaan ini dikarenakan beberapa kasus intoleransi yang ada di Indonesia. Sebut saja kasus penyerangan Ahmadiyah di beberapa kota, pembakaran rumah-rumah warga Syiah di Sampang, penyegelan GKI Yasmin di Bekasi, kasus-kasus terorisme di beberapa daerah dan lain sebagainya. Memang dalam hal pemberitaan media, umat Islam selalu dipojokan dan seakan-akan menjadi biang intoleransi di Indonesia. Padahal dalam beberapa kasus umat Islam selalu menjadi obyek intoleransi seperti pelarangan jilbab bagi polwan dan tidak disediakannya guru agama Islam di beberapa sekolah Kristen di Blitar.

Meski begitu, kita sebagai umat Islam yang bijak tentu tidak menyulut api di tengah buruknya pemberitaan media terhadap umat Muslim di Indonesia. Beberapa dari kita seringkali memilih jalan kekerasan dalam mendakwahkan Islam dan menyikapi perbedaan. Penghancuran GKI Yasmin, misalnya, hal itu tidaklah diperlukan, toh dalam Islam sendiri kita dilarang untuk mencegah umat agama lain dalam beribadah apalagi dengan menggunakan kekerasan baik fisik maupun psikis. (Maaf, apabila saya gegabah menulis kasus GKI Yasmin, meskipun saya sendiri kurang begitu mendalami konteks kekerasan keagamaan yang meliputi Jamaah GKI Yasmin).

Saya sendiri meyakini alangkah lebih baiknya kita memberi nuansa damai dalam menyikapi perbedaan dan mendakwahkan Islam. Dalam bagian pertama tulisan ini, saya menyitir sabda Allah yang menyebut bahwa Dia tidak menghendaki tidak adanya perbedaan. Perbedaan adalah sunatullah, dan tugas kita bukanlah untuk membuat perbedaan menjadi sama. Apabila pemahaman ini terpatri, tentunya kita akan sangat menghargai perbedaan itu dan kita akan menghindari kekerasan dalam menghadapi perbedaan ini.

Saya yakin, ketika pemahaman ini melekat dalam benak kita, kita akan hormat apabila ada kaum Nashrani yang melakukan ibadah di gereja depan rumah kita, asal mereka tidak melakukan hal yang macam-macam kepada kita (baca: misi kristenisasi). Apabila macam-macam, maka cara yang dilakukan pun dalam melawan, saya kira haruslah bijak, misalnya dengan diskusi atau protes lembut dan tidak mesti melakukan kekerasan dengan menghancurkan gereja mereka. Khusus menyikapi misi kristenisasi, kita pun sebaiknya harus instrospeksi sudahkah kita memproteksi umat kita supaya tidak terpengaruh dengan misi tersebut dengan menjalankan dakwah yang efektif. Dengan begitu kita akan semakin terpacu untuk melakukan kegiatan dakwah yang masuk ke hati umat.

Saya meyakini dalam mempromosikan Islam kita sebaiknya memilih cara damai, elegan, dan menjauhi sikap-sikap kekerasan. Istilah kerennya mendakwahkan Islam dengan “bunga”. Coba anda lihat promosi produk-produk kapitalis dalam iklan di media cetak atau elektronik, begitu menarik dan menyentuh. Kenapa kita tidak meniru model tersebut kalau memang itu baik? Toh, Islam pun ternyata menganjurkan hal tersebut!

Dalam QS an-Nahl ayat 125, Allah mendeskripsikan bagaimana cara berdakwah yang benar. Dia meyuruh kita menyeru manusia dengan hikmah (wisdom), pengajaran yang baik dan berdebat dengan cara yang baik. Dalam tafsir yang pernah saya baca (meski saya lupa sumbernya), hal ini mesti dilakukan secara bertahap. Artinya, dalam menyeru umat manusia yang pertama kita lakukan adalah dengan hikmah, Jika hal itu gagal, maka kita lanjut dengan pengajaran yang baik. Dan terakhir apabila memang debat diperlukan, maka berdebatlah dengan cara yang baik.

Akhirnya apabila seruan kita tidak didengar oleh umat, misalnya mereka tetap pada keadaan melenceng, hendaknya kita bersabar karena, sekali lagi, kita tidak bertanggungjawab atas hidayah mereka. Tidaklah elok, ketika kita gagal dalam berdakwah, kita menyalahkan orang lain apalagi hal itu dilakukan dengan cara-cara yang tidak baik. Allah pun meminta Rasul SAW bersabar dan jangan bersedih hati melihat orang-orang yang sesat dan tetap melakukan tipu daya.

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk. (QS an-Nahl:125)

Dan bersabarlah (Muhammad) dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah dan janganlah engkau bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan jangan (pula) bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan. (QS: an-Nahl:127).

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s