Atheis

hehemahita.wordpress.com

hehemahita.wordpress.com

Baru-baru ini dalam ceramahnya di Cedars-Sinai Medical Center, Los Angeles, Stephen Hawking, ilmuwan kenamaan asal Inggris, mengatakan bahwa setelah kematian tidak akan ada kehidupan. Manusia tidak akan menemukan apa yang orang beragama katakan ‘surga’ atau ‘neraka’. Dia menganalogikan manusia yang meninggal bak komputer yang mengalami korsleting karena beberapa kabelnya putus.  Tidak ada ‘balasan’ atau ‘hukuman’ atas apa yang manusia kerjakan di dunia.

Lebih jauh lagi dia memaparkan bahwa bumi ini tidak ada awalnya, dan juga tidak ada akhirnya. Dia juga menasehati kalau misalnya manusia mau tetap survive, tidak punah seperti beberapa spesies hewan dan tumbuhan, maka mereka harus mencari tempat berlindung di luar bumi. Manusia harus bermigrasi ke planet lain. Jika hal ini gagal, punahlah manusia selayaknya dinasaurus.

Memang sudah sejak dulu, orang-orang atheis macam Hawking, agonistik dan kaum yang tidak percaya Tuhan lainnya identik dengan kesombongan, over-confident. Disangkanya mereka tahu segala-segalanya, sampai berani menafikan Tuhan. Kalau dahulu kala mereka memiliki sesembahan seperti matahari, hewan, patung dan lain sebagainya, sekarang mereka sudah mencapai pada puncak kesombongannya; menganggap dirinya tuhan bagi dirinya sendiri.

Benar sekali, pada hakikatnya orang yang tidak mempercayai Tuhan berarti dia telah menuhankan dirinya sendiri. Karl Ferdinand contohnya, salah seorang pelopor kamu atheis Indonesia pernah berseloroh bahwa dia tidak mempercayai Tuhan dalam bentuk apapun. Sejatinya dia telah menuhankan dirinya sendiri karena begitu yakin bahwa dia dapat hidup tanpa bantuan Tuhan sama sekali. Dia juga telah menuhankan sains dan beranggapan bahwa manusia cukup bisa survive dengan sains. Jadi pada hakikatnya, atheis itu theis karena mereka menuhankan minimal dirinya sendiri atau hasil kreasinya. Apa bedanya mereka dengan penyembah berhala yang mereka buat sendiri?

Banyak manusia kurang bersyukur, bahkan tidak mau bersyukur. Dia dilahirkan dari rahim ibunya dalam keadaan lemah dan tidak tahu apapun. Lalu diberikannya oleh Sang Pencipta pendengaran, pengelihatan bahkan hati nurani, namun sayangnya mereka justru menuhankan pemberian Tuhan tersebut. Mereka melihat penciptaan Tuhan yang begitu indah seperti burung-burung yang berterbangan, gunung-gunung yang kokoh berdiri, langit yang menggantung tanpa tiang, tapi mereka berujar bahwa hal itu membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada. Alam bisa mengatur diri mereka sendiri! Ayat-ayat Allah tersebut tak mampu membuka mata hati mereka akan keagungan Tuhan.

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, pengelihatan dan hati nurani, agar kamu bersyukur. Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dapat terbang di angkasa dengan mudah. Tidak ada yang menahannya selain Allah. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang beriman.” (An-Nahl: 78-79)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s