Oleh: Randi Muchariman, SIP**
Universitas Siliwangi, 31 Oktober 2009
Orientalisme berasal dari bahasa latin. Dalam sejarah awalnya, orientalisme itu berangkat dari sebuah mitos tentang negeri Timur atau negeri matahari terbit. Di Barat, timur dianggap sebagai negeri matahari terbit atau negeri pagi karena matahari mulai naik dari sebelah timur. Karena itulah, Timur dianggap sebagai sebuah negeri yang memiliki sesuatu untuk pencerahan. Dalam sebuah istilah latin disebut ex oriente Dux. Oriente atau oriens berarti yang terbit, sedangkan dux berarti timur atau sumber cahaya. Karena itulah, orientalisme kemudian dipahami sebagai sebuah tradisi akademik di Barat yang mempelajari negeri-negeri di sebelah Timur.
Tradisi akademik tersebut tentunya lahir dan berkembang tidak tanpa motivasi. Namun tradisi itu diilhami oleh motivasi dan mempunyai dua sayap utama yaitu misionaris dan kolonialis. Orientalisme di satu sisi adalah upaya Barat untuk memuluskan misi kristen mereka di dunia Timur. Dan di sisi lainnya, Orientalisme telah menjadi satu cara untuk memaksimalkan upaya penjajahan Barat di dunia Timur. Barat beranggapan bahwa untuk menjaga penjajahan memerlukan ilmu pengetahuan tentang masyarakat yang akan dijajah. Barat berprinsip bahwa knowledge is power (ilmu adalah kekuasaan).
Karena itulah, orientalisme telah menempatkan Timur sebagai objek. Timur dianggap statis, pasif, mundur, inferior, bahkan mungkin tidak beradab dan belum penuh ber-evolusi dan mudah ditaklukan.
Karena itulah, orientalisme sesungguhnya adalah sokoguru utama penjajahan Barat di Timur. Dan karena itulah pula, sampailah pada satu pemahaman bahwa sesungguhnya penjajahan yang paling hakiki, dengan derajat eksistensinya yang tertinggi, berbentuk penjajahan intelektual atau bisa kita sebut dengan imperialisme epistemologi.
Imperialisme epistemologi atau imperialisme intelektual dewasa ini bisa kita pahami sebagai sebuah pembagian kerja (intelektual) antara dunia pertama dengan dunia ketiga (dunia pertama sering diartikan sebagai negara-negara yang berkiblat kepada blok Barat atau blok Timur pasca perang dunia ke 2. sedangkan dunia ketiga adalah negara yang tidak termasuk kedua blok tersebut. Negara-negara itu dianggap memiliki masyarakat yang tradisional, tidak berkembang dan kolot. Banyak dari negara dunia ketiga tersebut adalah negeri-negeri Muslim). Pembagian kerja tersebut ditandai oleh tiga ciri berikut (beberapa penjelasan di bawah ini didasarkan pada apa yang dikemukakan oleh Prof.Dr. Syed Faried Alatas):
- Dunia pertama atau Barat, khususnya di dalam ilmu kemasyarakatan (atau soshum), mengkhususkan diri dalam teori dan empiris. Sedangkan dunia ketiga hanya mengkhususkan diri dalam empirisme.
- Dalam ilmu kemasyarakatan, Barat mengkaji masyarakat di luar masyarakatnya sedangkan dunia ketiga hanya mengkhususkan diri mengkaji dalam masyarakatnya sendiri.
- Di Barat ilmu kemasyarakatan sering membuat kajian perbandingan, tapi di dunia ketiga hanya melakukan kajian kasus.
Karena itulah, dalam tradisi orientalisme lama (sebelum awal abad ke 20) dalam memandang Timur, khususnya dunia Islam, Barat beranggapan bahwa:
- Bahwa Barat adalah beradab sedangkan bukan barat adalah tidak beradab atau biadab.
- Barat adalah masyarakat maju dan bukan Barat adalah masyarakat mundur.
- Barat itu berakal atau waras sedangkan bukan Barat itu tidak berakal atau tidak waras.
Masyarakat bukan Barat dianggap tidak mempunyai syarat-syarat untuk maju. Barat percaya akan hal itu. Dan menurut Barat, itu hanya dapat diatasi dengan penjajahan.
Hal tersebut bukan sesuatu yang aneh ketika kita mengetahui bahwa orientalisme tidak bisa disebut semata sebagai tradisi intelektual yang murni. Dalam memahami Timur dan Islam khususnya, orientalisme telah salah memahaminya dan tetap menjaga kelestarian cara pandang yang salah tersebut sehingga menjadi satu gaya berfikir yang terus berkembang hingga saat ini. Karena itulah, meskipun Barat saat ini telah mulai menyadari kesalahan tersebut (terlebih setelah Edward Said menulis buku yang berjudul Orientalisme yang telah mengatakan para orientalis sebagai orang-orang yang jahat, hingga dewasa ini seseorang tidak lagi ingin disebut sebagai orientalis. Tapi kemudian diganti dengan indonesianis dll) namun pada dasarnya Barat tetap menepikan Timur dan Islam sebagai sumber ilmu.
Salah satu contohnya adalah ketika orang-orang Barat meneliti tentang Islam dan masyarakatnya. Islam tidak pernah didefinisikan sebagai sebuah dien dan peradaban sebagaimana orang-orang Islam mendefinisikannya. Namun Islam didefinisikan sebagai sebuah religion yang berangkat dari pemahaman mereka terhadap agama Kristen. Sehingga akhirnya, mereka menganggap Islam sebagai satu puncak kebudayaan dan bukan sebagai sebuah risalah yang diemban oleh Rasulullah SAW.
Sebagian antropolog misalnya, akhirnya berkesimpulan bahwa agama hanyalah sebuah penjelasan yang membuat rasa nyaman secara psikologis bagi manusia atas masalah-masalah yang tak bisa ditanganinya atau membebaninya. Sehingga akhirnya mereka menyatakan bahwa alam akhirat ada sebagai fungsi psikologis. Akhirat tidak nyata, sehingga mereka tidak mengimaninya (lihat di : Gertz,Clifford.1992.Kebudayaan dan Agama.Kanisius.Yogyakarta).
Memang orientalisme tidak khusus mempelajari Islam. Namun Islam sesungguhnya menempati posisi yang khusus ketika berhadapan dengan Barat sehingga banyak kegiatan orientalisme tertuju kepada Islam. Seperti mana yang kita ketahui, satu-satunya peradaban yang mampu mengalahkan dan menggetarkan Barat hanyalah Islam (lihat di : Huntington, Samuel P.2006. Benturan Antar Peradaban. Qalam.Yogyakarta ). Selain itu, Barat banyak melakukan penjajahan di negeri-negeri Muslim yang mana negeri-negeri itu sangat kaya dan berpotensi besar baik dengan sumber daya alamnya maupun dengan sumber daya manusianya.
Namun, penjelasan yang lebih mendasar sesungguhnya bisa kita dapatkan dari Maryam Jamilah. Dalam bukunya (lihat di : Jamilah, Maryam.1994.Islam dan Orientalisme; Sebuah Kajian Analitik.PT Raja Grafindo Persada.Jakarta) ia menulis :
”Penerimaan setiap kata dalam al-quran secara harfiah sebagai ucapan langsung Allah , sebagai wahyu yang sempurna dan yang terakhir, yang tidak akan pernah berubah ataupun dipalsukan, yang dibarengi dengan kewajiban untuk menaati Sunnah Rasul sebagai satu-satunya penafsiran [al-Qur’an] yang sah, yang merupakan senjata paling ampuh bagi Islam untuk menentang ajaran-ajaran filsafat yang asing dan penuh kontradiksi itu-dan senjata semacam itu tidak dimiliki oleh agama manapun-, menggoyahkan sama sekali ‘para ahli Islam’ di Eropa dan Amerika. Islam adalah sasaran pertama dan terakhir dari segala macam propaganda anti-agama karena ia secara tegas menolak relativitas moral dan dengan penuh keyakinan tetap mengakui adanya tujuan transcendental.” (halaman 2-3)
Begitulah, Barat menganggap Islam sebagai saingan dan bahkan ancaman serius bagi peradabannya yang sekuler-liberal. Karena itulah, segala upaya dilakukan oleh Barat untuk menghancurkan Islam. Dan tentu, serangan yang paling dahsyat itu adalah serangan pemikiran yang akan melenyapkan Islam itu sendiri secara hakiki. Sehingga akhirnya Islam hanya tinggal ada di ucapan saja (untuk memahami ini, kita bisa menggunakan penjelasan al Ghazali tentang tiga derajat eksistensi, yaitu pertama pada individu atau sesuatu yang dijelaskan, kedua adalah pada pikiran, ketiga dalam kata. Lihat di al Ghazali.1996.Al-Asma’ al Husna; rahasia nama-nama indah Allah.Mizan.Bandung.halaman 15-36).
Memang, orientalisme tidak semuanya tertolak. Ada banyak manfaat yang bisa diambil oleh ummat Islam. Namun tentu ada caranya dan kemampuan yang harus dimiliki untuk itu. Untuk itulah ummat Islam harus meningkatkan ilmu dengan ilmu ilmu Islam sehingga memiliki pengetahuan epistemologi yang kuat untuk mampu menentukan mana saja yang bermanfaat dan tidak. Mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang diterima dan mana yang ditolak.
Terutama untuk generasi muda Islam, kita harus belajar dari sejarah bagaimana orientalisme telah melangsungkan rencana jahatnya (sebagaimana bahasa yang dipergunakan oleh Maryam Jamilah) kepada ummat Islam. Kami kutip dua petikan berikut sekaligus mengakhiri tulisan singkat tentang orientalisme ini. Semoga penjelasan yang sedikit ini bisa membawa kebaikan dan menjadi ilmu bagi kita.
“Orientalisme memang bukan kajian objektif dan tidak memihak Islam maupun kebudayaannya; yang diupayakan secara mendalam bukanlah untuk mendapatkan hasil penelitian yang baik dan orisinal melainkan hanya rencana jahat yang terorganisasikan untuk menghasut para pemuda kita agar memberontak terhadap agama mereka, dan mencemooh semua warisan sejarah Islam dan kebudayaannya sebagai warisan yang tidak berguna. Sasaran yang hendak dicapainya adalah mencipta kekeliruan sebanyak-banyaknya di kalangan pemuda-pemuda yang belum matang dan mudah ditipu itu dengan cara menanamkan benih keraguan,sinisne dan skeptisisme.” (Jamilah, Maryam.1994.Islam dan Orientalisme; Sebuah Kajian Analitik. PT Raja Grafindo Persada.Jakarta .Hal 173-174 )
Tradisi ilmiah ini (maksudnya orientalisme_catatan dari kami), yang kemudian mulai diragukan kebenaran dan keilmiahannya, berusaha menanamkan dalam pikiran orang-orang, termasuk para pemuda Indonesia yang berpendidikan Barat, pengertian bahwa Barat dan segala ajarannya itu adalah lambang kemajuan dan kemodernan, sedangkan Islam dan ajarannya adalah lambang kemunduran, kekolotan, dan keterbelakangan. Kemudian ternyata bahwa pendapat seperti ini dapat pula berfungsi sebagai alat untuk mempengaruhi diri sendiri. Akibatnya orang-orang yang berpendidikan Barat di Indonesia benar-benar merasa dirinya maju dan modern, sedangkan orang-orang yang berpengetahuan Islam benar-benar pula merasa bahwa diri mereka itu mundur, kolot dan terbelakang. Apabila hal yang dikemukakan ini benar, maka orientalisme adalah suatu gerakan berkedok ilmiah paling sukses yang pernah terdapat di Barat untuk menanamkan iwa kekalahan dalam diri kaum muslimin”
(A Rahman Zainuddin. Islam dan Budaya Politik di Indonesia. Dalam buku Alfian & Nazaruddin Syamsuddin, penyunting.1991. Profil Budaya politik Indonesia.Jakarta Pustaka Utama Grafiti.halaman 71)
Tulisan ini pun merujuk pada penjelasan Dr. Syamsuddin Arif tentang Orientalisme, serta tulisan Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi yang berjudul Kerancuan Metodologi Orientalis dalam Studi Islam di dalam Jurnal Islamia vol III, no 1. 2006.
*Materi Diskusi Sabtuan Komunitas Muhajirin Tanggal 31 Oktober 2009
**Alumni FISIPOL UGM, penggiat Komunitas Muhajirin Universitas Siliwangi Tasikmalaya.